Jangan pergi. ( Adaptasi dari lirik lagu Talking To The Moon-Bruno Mars )

Ketika kamu menghindar jauh, aku merasakan ada yang hilang dari hidupku. Sesuatu yang begitu dekat dengan tawaku, kini terlalu sering membuatku menangis. Aku tahu kamu mungkin bosan dan ingin meninggalkanku, tapi aku tak mampu sedetikpun berhenti mengharapkanmu. Mungkin orang-orang menganggapku tak waras, aku tak pernah peduli. Mereka tak pernah mengerti apa yang aku rasakan, kehilangan begitu sakit. Seandainya aku mampu, mungkin aku mencoba mencari penggantimu. Walaupun kenyataannya tak pernah ada yang bisa sepertimu. Ketika aku bertanya pada bulan, bulanpun seakan mengerti bahwa bahagiaku cuma di kamu. Mungkin semua ini hanyalah kesia-siaan, namun bagiku bicara pada bulan sudah mampu mengobati perasaanku. Aku tetap butuh kamu, dan selalu menunggumu kembali. Aku merindukanmu, merindukan tiap malam yang kita isi sambil menatap bulan yang tersenyum manis. Aku merindukanmu, kembalilah padaku.

Continue Reading

Aku dan Secangkir Kopi Putih

Sore ini sudah hari ke sepuluh aku meminum kopiku sendirian. Kopi putih yang lebih manis dari biasanya, walaupun ampasnya sering menempel di pinggiran bibirku. Hari ini rasanya melelahkan, keringatku menetes dari dahi lalu turun ke pipi-pipiku.
Sore ini sepi. Beda dari sebelas hari sebelumnya yang ramai dihiasi tangisanku. Aku mendesah, berat rasanya mengingat-ingat hari itu lagi.
Kali ini cangkir merah kesayanganku begitu memuakkan. Ingin ku banting dan ku buang begitu saja. Rasanya aku bosan menggenggamnya lagi, hanya membuatku mengingat masa-masa yang sempat membuatku bahagia saja. Ah, aku benci kopi putih.
Aku benci meminum manisnya kopi putih yang dulu sering ditemani oleh tawa renyahmu. Aku benci menghirup wanginya yang selalu mampu membuat tenang, itu katamu. Aku benci meninggalkan bekas bibirku dipinggiran cangkir merah favoritmu ini.
Ah, aku benci kamu.

Ps : aku masih belum bisa berhenti meminum kopi putih kesukaanmu. Ya, aku masih belum bisa melupakanmu.

Continue Reading