Thank You Ada Apa Dengan Cinta 2, Akhirnya Bisa Nostalgia Berjamaah

Kalau boleh jujur, saya sebenarnya jarang atau bahkan baru bisa dihitung dengan tangan membuat tulisan tentang review film. Bukan apa – apa, saya tipikal orang yang kalau nonton menikmati setiap alur ceritanya dan setelah selesai menonton, adegan – adegan di dalam filmnya seolah menguap tanpa bekas. Hanya beberapa film yang bisa dihitung tangan yang masih saya hafal dialog serta alur dan plot ceritanya. Salah satunya Ada Apa Dengan Cinta, 14 tahun lalu. Walaupun waktu itu saya baru kelas 5 SD, saya berhasil berkali – kali menontonnya tanpa bosan hingga kemarin malam. Apalagi, saya punya kenangan dengan AADC, waktu itu nontonnya sama temen – temen segenk. Masih kecil udah punya genk? Itu semua berkat AADC ahahaha. Malahan nama genknya ya Cinta itu, percaya nggak percaya, saya-lah Cinta-nya hihihi.

Semenjak menonton AADC, saya jadi rajin joget – joget bareng teman – teman saya. Tahu kan lagu – lagunya Melly Goeslaw yang berhasil mengendap di pikiran selama belasan tahun? Dan lagu yang paling saya suka itu Denting dan Suara Hati Seorang Kekasih, entah kenapa, bawaannya baper dan mau nangis setiap mendengarkannya. Belasan tahun AADC tanpa kabar, sama seperti beberapa teman segenk saya waktu SD. Kami hilang kontak, benar – benar kehilangan jejak. Kangen juga rasanya. Makanya saat Ada Apa Dengan Cinta 2 bikin heboh di dunia maya, saya langsung memantapkan hati kalau saya harus menontonnya.

Review Ada Apa Dengan Cinta 2

Sebelum nonton, saya nggak baca review ataupun spoiler apa – apa. Hanya kenangan akan masa – masa seragam putih merah dan putih abu – abu yang saya bawa lengkap dengan original soundtrack AADC yang bergantian mengalun di telinga saya. Saya nggak punya ekspektasi apa – apa, karena bagi saya, AADC 2 bukan film yang menegangkan. Film ini harus dinikmati dengan sebotol air mineral atau soft drink tanpa popcorn. Karena nggak akan ada waktu untuk sekedar nyemil, otak akan terlalu sibuk mengenang masa lalu – ditemani bibir yang akan menyunggingkan senyum berulang kali.

Sepuluh menit pertama film dimulai, bakalan ada pertanyaan – pertanyaan yang terjawab. Puisi yang dinarasikan Rangga akan terngiang – ngiang, kebaperan pun dimulai dari menit – menit pertama. Kenapa nggak ada Alya, kenapa Milly gendut, dan kenapa Cinta sekarang punya pacar. *ups* saya keceplosan. Spoiler alert! Bakalan banyak kejutan yang bikin kita spontan bilang “Oh gitu…” berkali – kali. Tapi saya masih agak nggak terima sih sama jalan cerita untuk peran Alya, bagi saya harusnya jangan begitu huhuhu *kemudian baper*.

Satu jam setelahnya, akan jelas alasan kenapa Rangga nggak pulang – pulang ke Indonesia. Dan banyak kejadian yang terjadi di Jogja, kota yang selalu ada di hati saya. Saya agak emosional saat setting tempatnya berlatar di kota gudeg. Apalagi saat scene – scene di daerah Prawirotaman, ah rasanya mau mewek. Kangen Odi banget ini huhuhuh.

Walaupun ada beberapa adegan yang menurut saya kurang natural, rasanya nggak terlalu mengganggu kenangan yang muncul bergantian selama menonton Ada Apa Dengan Cinta 2. Saya masih menikmati alunan suara Melly Goeslaw yang juga masih dipercaya mengisi original soundtrack-nya. Apalagi dengan akting para genk Cinta yang persis sama seperti 14 tahun. Masih ada Karmen yang sok-jagoan-padahal-rapuh, masih ada Milly yang oh-so-dong-dong, Maura si anak bersih, dan Cinta yang tetap mempesona dengan sok-jaim-padahal-mau. Pemilihan tone cinemagraphy-nya juara. Semua penonton seolah diajak menyatu dengan para pemain, mengenang masa lalu dan mencoba menerima kenyataan.

Review Ada Apa Dengan Cinta 2
Diambil dari instagram Dian Sastro @therealdisastr

Di akhir – akhir adegan, udah ketebak sih ending-nya bakalan gimana, cuma ya tetep aja suasana romantisnya kerasa banget. Rangga akhirnya ketemu Cinta, kayak mantan yang nggak ada kabar tiba – tiba dateng dan seluruh pertahanan wanita roboh. Perasaan kan emang sekuat itu. Dan saya nggak akan menjabarkan gimana adegan per adegan, biar semuanya nonton dengan mata kepala sendiri, flashback sendiri dan baper sendiri hihihi.

Kalau ada yang bilang, kok ending-nya gitu doang? Well, secara logika, nggak ada yang tau apa isi dalam hati seseorang. Sekarang bilang A, besok bilang B. Sekarang sayang, besoknya putus dan nggak mau kenal. Kemarin berantem, besok lusa baikan dan saling takut kehilangan. Bukannya cinta memang sesimpel itu? Bukannya persahabatan memang selalu begitu?

Pesan saya, sebelum nonton mending jangan baca review apa – apa, jangan nonton trailer (tapi kalau udah terlanjur yaudah), dan jangan berekspektasi apa –apa. Nikmatin setiap scene sambil sesekali mengingat – ngingat adegan AADC. Film ini gampang ketebak jadi nggak perlu mikir. Cukup sediakan waktu sekitar 90 menit, silent HP dan nikmati setiap alurnya. Biarkan kenangan – kenangan 14 tahun dan ratusan purnama menari – nari di otak. Setelah menonton, jangan lupa langsung buka youtube dan cari original soundtrack Ada Apa Dengan Cinta 2.

Thank you Ada Apa Dengan Cinta 2, you made my day!

header delapankata

Baca Juga:

No Comments

  1. Kalau aku pribadi malah g ngaruh semua review yg hadir di jagad maya. Aku pun selalu kepoin ignya miles film buat liat update an terbaru aadc 2. Walaupun ada yg bilang ceritanya gini, endingnya gitu, masa bodo deh, yang aku rindukan dan diinginkan dari film ini 99.999999% mampu membuatku sumringah dan kembali ke 14 tahun yg lalu

  2. wah di sini penggemar aadc semua yaaak ;p.. Sejujurnya aku ga nonton film ini yg pertama atopun yg kedua mbak :D.. jd ga bisa komen banyak.. krn memang aku bukan pecinta film2 drama percintaan gini sih :D.. tapi, ini review pertama yg aku baca, yg isinya positif :).. review2 lainnya pada negatif semua :D.. ntahlah, tapikan selera film semua org pasti beda2 ya.. aku sih ga mau bilang filmnya jelek ato ga, lah nonton juga kagak .. hanya sekedar mau tau pendapat masing2 org yg udah nonton dan mereview filmnya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *