Aku dan Secangkir Kopi Putih

Sore ini sudah hari ke sepuluh aku meminum kopiku sendirian. Kopi putih yang lebih manis dari biasanya, walaupun ampasnya sering menempel di pinggiran bibirku. Hari ini rasanya melelahkan, keringatku menetes dari dahi lalu turun ke pipi-pipiku.
Sore ini sepi. Beda dari sebelas hari sebelumnya yang ramai dihiasi tangisanku. Aku mendesah, berat rasanya mengingat-ingat hari itu lagi.
Kali ini cangkir merah kesayanganku begitu memuakkan. Ingin ku banting dan ku buang begitu saja. Rasanya aku bosan menggenggamnya lagi, hanya membuatku mengingat masa-masa yang sempat membuatku bahagia saja. Ah, aku benci kopi putih.
Aku benci meminum manisnya kopi putih yang dulu sering ditemani oleh tawa renyahmu. Aku benci menghirup wanginya yang selalu mampu membuat tenang, itu katamu. Aku benci meninggalkan bekas bibirku dipinggiran cangkir merah favoritmu ini.
Ah, aku benci kamu.

Ps : aku masih belum bisa berhenti meminum kopi putih kesukaanmu. Ya, aku masih belum bisa melupakanmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *