Backpacker ala PutriKPM – Goes To Bandung Part 4 (Salah Tiket Kereta)

14 FEB – DAY 3
Entah kenapa di hari terakhir di Bandung saya justru bisa tidur nyenyak. Bahkan baru bangun setelah alarm di henpon pacar berbunyi. Jam 7 pagi, pacar langsung buru – buru mandi. Rencananya jam 10 kami akan jalan kaki ke ST. Hall alias Stasiun Bandung sambil melewati Kartika Sari dan akan mampir untuk membeli oleh – oleh untuk teman – teman blogger. Saya niat beli karena besoknya akan bertemu dengan teman – teman di 2 acara blogger sekaligus. Rasa ngantuk ternyata masih menggelayuti saya pagi itu. Pacar sudah wangi dan rapih jail sedangkan saya masih selimutan di kasur. Setelah diomelin, barulah saya mandi jam 8 pagi. Sarapan roti dan selai coklat (yang dibeli di PVJ kemarin). Tapi kayaknya perut raksasa saya masih belum kenyang dan ngidam nasi uduk hangat. Maka jam setengah 10 pagi kami check out hotel dan segera menuju ke ST. Hall sambil berharap bertemu tempat sarapan yang pas.

Soto Ayam yang keasinan namun tetap enak karena lapar
Soto Ayam yang keasinan namun tetap enak karena lapar

Jam 10 pagi kami mampir di warung Soto Ayam pinggir jalan dan langsung memesan 2 mangkuk plus nasi yang sudah dicampur di dalamnya. Saya dan pacar sempat bercanda dan ngobrol hingga makanan kami habis. Setelah membayar 20ribu yang artinya satu mangkok seharga 10ribu, kami melanjutkan perjalanan menuju stasiun yang tinggal sedikit lagi. Perkiraan kami jam setengah 11 sudah di stasiun dan tinggal menunggu kereta yang akan datang jam 11.10 pagi, sesuai yang tercetak di tiket. Sesampainya di stasiun, tiket kami diperiksa dan di cap oleh petugas stasiun. Baru mau masuk ke dalam peron, si Mbak petugasnya menahan kami.
“Mbak, ini pemberangkatan Maret, deh.” Serunya pelan.
Saya bingung dan kaget seketika. “Hah? Maret?”
“Iya, Mbak!”
Saya kemudian mengecek tiket dan melihat tulisan 14 Maret 2015 di kolom berangkat. Saya syok, pacar mulai bad mood. Saya panik dan memohon bisa masuk ke dalam peron walau pasti ditolak mentah – mentah sama si Mbak. Waktu sisa 30 menit lagi. Akhirnya saya langsung lari kea rah beli tiket on the go yang ada di sudut kiri stasiun. Ternyata bagian sisi stasiun ini hanya menjual pemberangkatan untuk KRD Lokal. Saya ke Indomaret dan ternyata dia hanya menjual tiket untuk 8 jam kemudian. Saya makin panik, si pacar udah makin bad mood. Fyi aja, kalau pacar saya bad mood dia bakalan ngediemin saya sampai dia puas. Huft.
Akhirnya kami keluar stasiun dengan langkah besar – besar setengah berlari. Menyebrangi tangga yang melintang di atas rel – rel kereta lalu naik angkot. Sekitar jam 11 kurang 10 menit kami tiba di sisi Stasiun sebelah Timur. Kami langsung berlari ke arah Indomaret dan lagi – lagi pihak Indomaret nggak terima pembelian tiket langsung. Suasana semakin panik karena kereta Argo Parahyangan yang harusnya kami naiki akan berangkat 10 menit lagi. Kebetulan saya melihat customer service di tengah stasiun dan langsung bertanya apakah kami bisa beli tiket langsung. Si Mas baik hati langsung menyuruh kami ke loket 6. Setengah berlari saya langsung menuju loket 6 diikuti pacar yang tetap diem sepanjang jalan. Setelah bertanya dan ternyata masih ada tiket, langsung saja kami beli seharga 210ribu untuk 2 orang.
Fiuh, rasanya semua kepanikan langsung hilang saat itu juga. Dan saat saya selesai membeli tiket, saya baru sadar. Tiket yang nggak jadi dipakai diapain ya? Rasanya saya langsung mendadak jadi orang terbodoh di dunia. Kenapa nggak dicancel dan di-reschedule aja? Aduh, udah keburu beli tiket baru karena panik, sih. Akhirnya tiket lama saya serahkan di loket 2. Setelah mengisi form pengembalian tiket yang nggak sempat saya foto, si Mbak loket 2 bilang uang saya akan kembali sebulan lagi dan dipotong 25% dari harga pembelian. Ya nggak apa – apa lah yang penting nggak sia – sia tiketnya. Setelah semua berkas diterima, saya dan pacar masuk ke dalam peron stasiun dan menunggu kereta kami yang belum tiba.
Sekitar 15 menit kemudian, kereta Argo Parahyangan yang akan membawa kami ke Jakarta sampai di peron 6. Saya dan pacar langsung berjalan menyebrangi rel ke arah peron 6. Pas mau naik kereta, si pacar membisiki saya. “Luna Maya.” Dan saya langsung reflek menengok kea rah sebelah kiri kereta. Saya malah fokus ke fotografernya yang ternyata adalah pacarnya teman kantor saya. Saya baru ingat Luna Maya ke Bandung untuk pemotretan es krim yang harganya mahal itu.
Di dalam kereta ke-oon-an saya kembali terulang. Saya muter – muter cari gerbong 4 dan gerbong 3 yang ternyata saya salah. Tempat duduk kami sebenarnya ada di gerbong 2. Mungkin saya lelah dan panik setelah setengah jam lari sana – sini. Si pacar membentak saya dan langsung membuat pertahanan saya luluh lantak. Saya kesal, marah, emosi dan sedih. Setelah menemukan tempat duduk kami, saya langsung duduk diam menghadap ke arah jendela. Oh ya, sebenernya ada keuntungannya juga saya naik keretanya Luna Maya ini. Soalnya keretanya yang super eksklusif. Ada rasa bersyukur yang mengendap – endap menjalari hati saya.
Kereta melaju, kami masih saling diam dengan pikiran masing – masing. 10 menit kemudian tangan kami sudah saling menggenggam. Ya beginilah kami, berantem mah udah jadi teman kami walaupun nggak berapa lama kami pasti bakalan baik – baik lagi.

Di dalam kereta, abis diem - dieman malah pegangan tangan :}
Di dalam kereta, abis diem – dieman malah pegangan tangan :}

Jam setengah 3 sore, kami sudah sampai di Stasiun Jatinegara. Setelah keluar, kami masuk lagi untuk menaiki KRL ke arah Stasiun Manggarai, rencananya kami mau mampir ke kedai kopi modern untuk sekedar numpang wifi-an dan mengikuti tantangan yang diberikan oleh Teh Ani pada teman – teman blogger. Dan syukurlah, postingan ini menjadi tulisan ke 8 dan penutup tantangan yang sudah saya terima. Fiuh, Bandung. Thanks for the memories!

Tips agar nggak salah naik kereta kayak yang udah saya alami di atas :’)

  • Periksa 2 kali sebelum memesan tiket. Utamakan periksa tanggal dan jam keberangkatan serta nama dan nomer identitas.
  • Datang satu jam ke stasiun sebelum keberangkatan, jadi kalau salah tanggal kayak saya masih bisa beli tiket on the show.
  • Tenang. Biasanya kalau panik justru jadi kelabakan. Sebenernya saya juga nggak bisa tenang tapi setelahnya saya sadar harusnya saya tenang. Kalau saya tenang toh bisa nuker tiket aja nggak perlu beli tiket baru lagi. Hiks.
  • Tanya sana – sini. Kan di stasiun pasti banyak petugas, jangan mengandalkan satu petugas aja. Ada beberapa petugas yang jutek ada yang baik. Jadi usahakan nanya sebanyak – banyaknya biar langsung tahu mesti kemana buat urus tiket.
  • Jangan lapar usahakan makan sebelum pergi. Menghindari lemas pas lari – larian kayak saya.

Semoga tips-nya bermanfaat ya! 😀

Untuk melihat postingan PART 1 klik DISINI,

PART 2 klik DISINI,

dan PART 3 klik DISINI

10 thoughts on “Backpacker ala PutriKPM – Goes To Bandung Part 4 (Salah Tiket Kereta)

  1. Mbak Putri,
    Rencana tanggal 3-4 April 2015, aku mau hiking ke G. Pangrango. barangkali mau ikut ^_^. Atau buat perkenalan mah, hikingnya sampai Curug Cibeureum aja. Trus balik lagi. Minta ditemenin “Abang”nya aja ^_^

  2. pengalaman yang unik hehe.. tapi untung sudah tau ya karakter masing-masing 🙂 jadi everything will gonna be allright 🙂 🙂 selamat backpacking-an lagi dan salam kenal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *