Backpacker Ala PutriKPM – Goes To Bandung

Bandung, sebuah kota yang menurut sebagian orang adalah tempat yang pas untuk melepas penat akibat terus – terusan dikejar deadline. Lokasinya yang nggak terlalu jauh dari Jakarta menjadi alasan utama saya menghabiskan weekend kali ini di kota yang terkenal dengan kulinernya. Sudah dari sebulan lalu saya merencanakan liburan ke Bandung dengan pacar. Maklum kami LDR yang ketemu enam bulan sekali, rasanya kalau cuma ketemu disitu – situ aja (Jakarta (kota saya) dan Jogja (kota pacar)) sudah terlalu sering kami lakukan. Setelah mempertimbangkan segala sesuatunya terutama budget kami yang pas – pasan, maka kami sepakat memilih Bandung untuk tempat kami liburan.

Saya dan pacar sudah booking hotel dan tiket kereta dari jauh – jauh hari. Kami memilih naik kereta dibanding transportasi darat lainnya agar mengirit waktu dan mengirit pengeluaran. Selain itu, pemilihan tempat menginap-pun menjadi hal penting kedua, kami sepakat memilih hotel bintang 3 di kawasan wisata Braga karena harganya yang cukup memuaskan dan dekat dengan stasiun. Bisa dibilang liburan kami kali ini bergaya backpacker, walaupun nginepnya di bintang 3 😀

12 Feb –DAY 1
Kereta Argo Parahyangan yang akan saya naiki dari Stasiun Gambir akan berangkat jam 1 siang. Karena takut ketinggalan, saya memutuskan untuk naik ojek dari rumah. Pas jam setengah 11 siang, saya berangkat dari rumah. Jalanan siang itu agak bikin sebel karena macetnya ampun – ampunan. Beruntunglah tukang ojeknya paham jalan – jalan tikus di sekitar tempat tinggal saya. Sekitar jam 12 saya sudah sampai di Gambir. Setelah membayar ojek, saya langsung menuju ke ATM karena uang cash di dompet hanya sisa 10ribu rupiah. Hiks… Karena masih ada waktu longgar sekitar 45 menit, saya memutuskan untuk membeli satu cup Green Tea Latte di gerai minuman cepat saji yang letaknya ada di ujung sebelah utara stasiun. Tak berapa lama kemudian, saya langsung naik ke lantai 2 stasiun menuju peron jalur 1. Saat ini Stasiun Gambir sudah benar – benar ‘bersih’, baik dalam arti pelayanan dan lingkungannya. Tiket saya dicocokkan dengan KTP oleh petugas wanita yang berada di dekat tangga pintu masuk utara. Sepanjang perjalanan saya di dalam Stasiun, saya mendengar alunan musik lembut khas Jakarta, lagu Kicir – Kicir.

step 7

Selfie di atas ojek 😛

lodaya

Inside look of Lodaya train (Jogja – Bandung)

Sekitar jam 4 sore, saya tiba di St. Hall alias Stasiun (utama) Bandung. Dan ternyata kereta Lodaya (Jogja – Bandung) yang dinaiki pacar saya juga sampai berbarengan. Setelah saling mencari – cari karena bingung dengan lokasi stasiun, akhirnya kami bertemu di tengah – tengah peron. Awalnya kami berniat mempercayakan perjalanan kami pada aplikasi penunjuk arah yang sudah di-install di smartphone kami, tapi ternyata aplikasinya nggak berjalan sesuai yang kami pikirkan. Kami memutuskan untuk bertanya pada satpam yang menjaga peron dan bertanya arah menuju Braga. Pak satpam memberi petunjuk bahwa kami harusnya berjalan menyeberang peron. Akhirnya kami harus agak berlari karena kereta yang kami seberangi akan segera jalan. Sampai di luar stasiun, GPS masih nggak bisa digunakan. Tanya sana – sini adalah GPS paling akurat yang pernah ada. Setelah nanya 3 kali, kami sampai di daerah Braga yang letaknya sekitar 1 kilometer dari stasiun.

Saat check-In, petugas hotel lupa memilihkan kami kamar yang smoking room. Karena saya alergi asap rokok, saya langsung minta ganti kamar ke non-smoking room. Akibatnya, kami harus menunggu sekitar 15 menit sebelum akhirnya kami bisa masuk ke kamar yang letaknya di lantai 2. Tapi ternyata waktu menunggu kami nggak sia – sia, karena petugas hotel mengaku salah, kamar kami di-upgrade dari standart room ke superior room. Yeay!

kamar 1

Hotel yang letaknya ada di dalam Braga Citywalk ini cukup rapih untuk harga 336ribu (tanpa sarapan) per malamnya. Dari lorong kamar, terkesan bahwa hotel ini tak sekedar menawarkan tempat beristirahat tapi juga menawarkan kenyamanan. Terbukti, lantai kamarnya yang dilapisi karpet membuat anak – anak nyaman bermain disini. Ada beberapa sofa yang ditaruh di sudut lorong dan bisa digunakan para tamu untuk menunggu atau sekedar duduk – duduk santai. Dan di ujung tiap lorong disediakan air minum kemasan galon yang bisa dimanfaatkan oleh seluruh tamu, termasuk saya nggak mau rugi.

Jam 7 malam perut kami mulai teriak – teriak minta asupan. Rencananya malam ini kami akan berkeliling daerah Braga yang terkenal sebagai kota tua-nya Bandung. Namun ternyata, cuaca malam ini nggak mendukung kami ngebolang cari makanan. Alhasil, kami hanya bisa memesan 2 porsi Kwetiau Goreng yang dijual di pinggiran Braga Citywalk seharga 15ribu per porsi. Selesai makan, kami langsung tidur karena capek dan badan mulai terasa nggak nyaman. Mungkin karena kami sempat terkena hujan di jalan. Jadilah malam pertama di Bandung diisi dengan kegiatan kerukupan di dalam selimut.

To be continue…

Baca Juga:

33 Comments

  1. Bandung surga kuliner juga Mba 😀
    Next kita backpakeran rame2 ya hehehe….
    Aku jadi guide nya deh hahaha….
    Oh ya, di Braga ini juga setiap tahun suka ada festival budaya….

    1. Hihihi iya, Mbak. Entah kenapa belum tega kalau harus tidur nggak di hotel. Yah saya malah lupa kalau ada Saung Udjo. Mungkin lain kali bisa kesana. Terima kasih infonya 🙂

  2. wah Bandung! masih jadi kota impian nih buat saya, cuma karena taun kemaren udah sempet ngiterin sedikit bandung kota, jd ngga tau kapan bisa ke sana lagi, hihi..

    GPS yang paling ampuh itu emang cuma Gunakan Penduduk Sekitar mbak buat tanya2 hehe

  3. Pingback: Backpacker Ala PutriKPM – Goes To Bandung Part 2 | Delapan Kata
  4. Pingback: Barang Wajib Bawa Sebelum Jalan – Jalan Ala PutriKPM | Delapan Kata
  5. Pingback: Backpacker Ala PutriKPM Goes To Bandung Part 3 |
  6. Pingback: Backpacker ala PutriKPM – Goes To Bandung Part 4 (Salah Tiket Kereta) |
  7. Pingback: Belanja Kue Lebaran Di Cipika Store, Yuk! | delapankata.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *