Belajar Hukum Berkat Ulah Kasir Nakal

Baru – baru ini, booming lagi kasus soal “Kasir Nakal”. Banyak laporan berbentuk keluhan di social media – yang paling banyak ditulis di Path dan Blog – mengenai para oknum kasir nakal yang mulai meresahkan. Dari beberapa tulisan yang aku baca, kebanyakan para pelakunya adalah kasir minimarket yang menjamur di Indonesia. Mereka menyasar para pria yang suka belanja tanpa pernah mengecek struk belanjaan. Sebenernya, kejadian para kasir nakal ini bukan hal yang baru dan aku pun pernah mengalami kejadian yang sebenernya bikin capek – karena aku harus marah soal kembalian yang kurang 200 rupiah. Buat yang nanya kenapa harus marah ngeributin uang recehan? Karena itu adalah HAK aku sebagai pembeli.

Pernah kepikiran nggak kalau misalnya soal 200 rupiah itu dianggep sepele? Gimana kalau ternyata bukan cuma uangku yang di”tilep”? Gimana kalau ada puluhan bahkan ratusan orang tiap bulannya yang kembaliannya nggak dikasih? Coba deh pakai cara “bodoh” kayak gini, ada 10 orang perhari yang kembalian 200 rupiahnya nggak dikasih. Jadi si kasir bakalan dapet “uang tilep” 2000 per hari, which means 60 ribu per bulan. Gede nggak? Itu kalau 10 orang sehari, kalau lebih? Beda lagi ceritanya kalau misalnya uang kembaliannya diganti dengan permen. Beberapa orang mungkin fine – fine aja saat dikasih permen, dengan alasan males debatin uang recehan. Tapi apa bener kasir bisa dengan mudahnya ngeganti uang kembalian pake permen?

Sebenernya nggak semua kasir itu nakal. Aku sendiri pernah jadi kasir, lho! Dulu di tahun 2010 aku pernah jadi kasir di apotek ternama (yang logonya warna hijau hahahaha) selama 6 bulan aku setia berdiri di balik meja kasir. Ceilaaaah… Dan FYI aja, selama aku jadi kasir, seluruh SPV alias supervisor selalu mengajari kalau misalnya kita nggak punya uang receh untuk kembalian harus ngomong jujur sama customer-nya. Tapi sebelum ngomong nggak ada uang receh, kita kudu usaha dulu buat ngedapeting recehannya. Ya minimal sering nukerin uang receh ke pengamen ataupun SPBU dan bahkan kalau perlu warung pinggir jalan. Kalau segala daya upaya (ihik) sudah dilakukan dan tetep nggak ada uang receh, mau nggak mau ngomong dengan suara memelas kayak gini:

“Maaf ibu punya uang 200 rupiah biar digenapin kembaliannya? Soalnya kami nggak ada recehan, Bu. Maaf sebelumnya.”

Atau kadang negosiasi dulu sampai nemu kesepakatan gimana selanjutnya nasib si recehan ini. Karena penasaran, akhirnya aku iseng gugling soal ketentuan atau aturan soal uang kembalian diganti dengan permen. Lucky me, aku menemukan artikel yang menurutku cukup membuka pandangan aku soal hal yang sering disepelekan ini. Buat yang penasaran, artikelnya bisa dilihat di link ini. Di artikel yang ditulis oleh Mbak Tri Jata Ayu Pramesti S.H itu tertulis:

“Berdasarkan penelusuran kami, pada dasarnya, jika ditinjau dari Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (“UU Perlindungan Konsumen”), pasal yang mungkin dapat diterapkan dalam kasus ini adalah Pasal 15 UU Perlindungan Konsumen yang mengatakan bahwa pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa dilarang melakukan dengan cara pemaksaan atau cara lain yang dapat menimbulkan gangguan baik fisik maupun psikis terhadap konsumen.”

Setelah baca artikel ini sampai habis, aku baru dapet informasi baru kalau ternyata pelaku usaha (dalam hal ini termasuk si kasir nakal) melanggar ketentuan dalam Pasal 15 UU Perlindungan Konsumen adalah dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak 2 M alias 2 Miliar! Duaar…. Gimana nggak wow coba? Aku yakin banget banyak dari kita (termasuk aku) yang nggak ngerti soal pasal di atas. Boro – boro ngerti, kadang pasrah aja kalau uang kembalian diganti pake permen.

Gara – gara artikel di atas, saya jadi gugling soal HukumOnline. Situs yang didirikan di tahun 2000 ini dibentuk oleh pemerhati dan profesional hukum yang bernaung dengan nama PT. Justika Siar Publika (JSP). Selain HukumOnline, ternyata ada juga HukumPedia, KlinikHukum dan IndoLegalNews yang kesemuanya ngebahas soal hukum di dunia maya. Yang bikin aku betah browsing di HukumOnline adalah informasinya yang menarik dan informatif. Dulu, aku mikir males banget berhubungan dengan hukum, ya you know lah kebanyakan orang mikirnya kalau ngebahas hukum ujung – ujungnya itu ribet. Ada pasal – pasal yang bejibun dan tetek bengeknya yang bikin aku males karena berhubungan dengan pidana. Ngeri banget kan kalau ngebahas soal pidana ataupun perdata? Ih jangan sampai deh berhubungan dengan yang gitu – gituan.

Tapi sebenernya, kita wajib tahu dan wajib ngerti soal hukum supaya kita nggak ngerasa dijajah di negri sendiri. Tahu kasusnya Nenek Asyani kan? Coba kalau kejadian kayak gitu menimpa kita dan kita nggak ngerti harus ngapain. Mau nggak mau kita kudu melek hukum, minimal ngerti lah hukum – hukum dasar yang berhubungan langsung dengan kehidupan kita sehari – hari. Karena aku blogger, isenglah aku ngulik masing – masing web hukum online yang aku sebutin di atas. Dan hatiku tertinggal di HukumPedia. Aih….

Ternyata HukumPedia ibarat platform blog. Kita (blogger ataupun masyarakat awam) bisa nulis informasi, keluhan, atau pertanyaan yang berhubungan dengan hukum. Ada 3 kelebihan HukumPedia yang menurutku menarik, ada interaksi, diskusi dan reputasi. Selain via online, kita bisa menciptakan interaksi dengan menyebarkan informasi ataupun pertanyaan di HukumPedia. Kita juga bisa belajar hukum dengan berdiskusi secara santai dan manusiawi alias nggak kaku dengan menggunakan bahasa sehari – hari. Uniknya, di HukumPedia ada bentuk penghargaan alias reputasi bagi para membernya. Dimulai dari Lencana Pengakuan tentang Konten Terbaik Bulanan, Pemenang Kompetisi Umum, Leadership Award, sampai Tukang Kritik. Selain Lencana Pengakuan, ada pula Lencana Penghargaan, mulai dari 1 kali disukai, memiliki 5 Followers, 15 Kali Share Artikel hingga Lencana Penghargaan tidak disukai-pun ada. Selain lencana – lencana unik di atas, ada pula peringkat. Mulai dari Tamu yang nggak pernah nulis apapun sampai Penasehat yang direkrut menjadi tim redaksi HukumPedia.

Enggak melulu tentang hukum yang njelimet yang bisa kita tulis di HukumPedia. Kategori yang tersedia di HukumPedia lumayan beragam dan menurut saya lumayan bikin para penulis punya banyak ide buat nulis. Kategorinya ada Pidana, Bisnis dan Ekonomi, Kenegaraan, Kekayaan Intelektual, Hak Asasi Manusia dan Humanitarian, Hukum dan Masyarakat, Jakarta, Orang dan Keluarga, Media dan Komunikasi bahkan Fiksi dan Ulasan pun ada. Saking penasarannya, akhirnya aku coba untuk menjadi member HukumPedia. Berikut adalah tahapan untuk menjadi member di HukumPedia.

Tahapan Menjadi Member Di HukumPedia
Tahapan Menjadi Member Di HukumPedia (Klik Untuk Memperbesar)
  • Step 1 REGISTRASI >>> Klik www.hukumpedia.com lalu masukkan semua data yang dibutuhkan.
  • Step 2 AKTIVASI EMAIL >>> Setelah semua data diisi, lalu akan ada notifikasi link aktivasi dikirim via email.
  • Step 3 VERIFIKASI AKUN >>> Klik link verifikasi yang masuk di email.
  • Step 4 SOCIAL MEDIA >>> Untuk menghindari hal – hal yang enggak diinginkan, akan ada tahapan verifikasi via social media. Kita bisa memilih salah satu, mau verifikasi via FB, Twitter, GooglePlus atau LinkedIn.

Setelah semua step – step di atas dilakukan, hal selanjutnya ya melengkapi data diri.

Tabel Pengaturan Data Diri Di HukumPedia
Tabel Pengaturan Data Diri Di HukumPedia (Klik Untuk Memperbesar)

Kalau semua step sudah diisi dan dilengkapi, sekarang kita udah resmi jadi member HukumPedia. Gampang, kan? Saranku, kita saling berbagi informasi seputar hukum. Saling belajar tanpa harus saling hajar. Hukum itu baik kok asal kitanya juga patuh. Hukum itu adil kok, asal kitanya juga menghargai. Aku jadi pengen say thanks sama kasus “Kasir Nakal”, kalau nggak karena mereka berulah aku mah bodoamatan sama hukum. Sekarang malah jadi pengen belajar supaya nggak terjerat hal – hal yang bikin keki yang berhubungan sama hukum deh. Selamat belajar hukum 🙂

40 thoughts on “Belajar Hukum Berkat Ulah Kasir Nakal

  1. Iya emang nyebelin kalo pas belanja kasirnya bilang, “Gak ada 200 peraknya nih mba. Mau disumbangkan? Atau kembalian permen mau gak mba?”
    Gak skalian aja kita balikkin, “saya gak ada duit nih buat bayar. Bayarnya pake permen mau gak mba?”
    Haghaghag… ^_^

    1. Mending kalo dianya nanya dulu kita mau kembalian permen apa enggak. Ada lho yg nggak ngomong tiba – tiba ngasih permen. Pas ditegor baru minta maaf. Kan kampret :/

  2. yup, saya pun kalau beli di minimarket apapun itu, nggak merhatiin kertas kasir, ain masukin katong ajah nyampe ssekarang soalnya ribet kayaknya kalau ngeliat ini itu lagi.

    Pelan-pelan saya coba besok2 kalau belanja lagi , lebih teliti

  3. Soal kembalian pake permen ini sptnya hampir smw org ngalamin.
    Aku jg prnh kenal dgn org yg sangat berang dgn kembalian permen di mini market. Saking seringnya dpt permen, dikumpulin deh smpe senilai sekitar 10rb. Lalu dia nekat bawa tuh permen ke mini market tsb utk ‘beli’ (barter?) coklat!!

    Krn dia keukeuh & smpt ribut sm kasir, akhirnya supervisor mengijinkan dia ‘beli’ coklat pake permen kembalian.

    Wah, rasanya menang bngt!!
    Hahahahaaa…

  4. Emang bikin sebel kalo belanja terus ada kembalian, eee…yang dikasih permet. Bunda gak banyak omong, langsung aja bunda sorongin tuh permen sambil ngomong: “tuh buat mbak aja permennya, ngembaliin koq pake permen” langsung deh ngeloyor, hehe…

  5. Tapi sekarang sudah dialihkan ke sumbangan bukan diganti permen lagi. Tapi itu juga kok kasirnya sepertinya tidak bilang

  6. Baru nyadar… terkadang emang recehan kurang di perhatikan… kalau jumlah konsumennya banyak… Lumayan juga tuch ya… Tapi kalau harus sampai melakukan penuntutan hingga 2 M .. ngga tega juga saya… 🙂

  7. Baca detail sampai ke komen-komennya..hahha
    Ada juga yang bisa beli coklat pakai permen kembalian, kereennn.. cara yang diajarin ke mbak waktu jadi kasir itu yang bener, konsumen akan maklum asal caranya juga sopan, ga terkesan menjebak gitu..

  8. Aku juga termasuk org yang jarang liatin lagi struk belanjaan dan terlalu mudah buat ngangguk kalo kasihnya bilang “dua ratusnya boleh disumbangin aja?”
    dan pasti masih banyak lagi orang yg kaya akuu yah,, makanya cara ini masih ampuh dipake dibanyak minimarket. Padahal aku aja yg cuma ngewarung selalu sediain uang receh buat kembalian kok 😀

    Pernah sekalinya aku minta dikembalian aja, malah temenku yang ngejek “uang dua ratus buat apaan, Ran? sambil ngetawain, hiks

  9. Wahhhh masih ada, ya? Yang dikembalian sama permen? Hihhh mustinya pihak minimarket atau toko itu sedia uang recehan yang banyak dalam berbagai pecahan.
    Sekecil apapun itu memang hak kita 😀

  10. biasanya kalau cuma 100-200, saya diamkan. Apalagi kalau baru berkunjung ke toko tersebut. Ya, memang apa yang saya lakukan gak bisa dibenarkan, sih. Cuma males negurnya.

    Tapi, pernah juga saya protes ketika secara rutin ada toko yang selalu melakukan hal tersebut. Malah kemudian sampe 400 katanya gak ada kembalian. Keluarlah omelan dari mulut saya hehe

  11. aku paling sebel sama kasir swalayan di kota Sorong
    hampir semuanya kayak gitu
    mending ya 100-200, kadang 500 dikasih permen 3
    pingin aku cekek si mbak kasir *hahaha emak2 meradang
    akhirnya kalau lagi pulang ke sana, terus disuruh ibu ke swalayan, aku selalu bawa uang receh
    malah 50 rupiah aku bawa dan pernah aku bayarkan
    nanti misal pulang Sorong lagi mau aku print itu aturan terus aku kasihin
    haduhhh maap jadi ngomel2 di comment mbak put *salim

    1. hahahaha iya aku wajar kok. aku mah emang terkenal galak sama para kasir nakal. bahkan nenekku sendiri kalo belanja pasti nyuruh aku yg ke kasirnya hahahah

  12. Pingback: Kenapa Harus Melek Hukum? | Delapan Kata
  13. Alhamdulilah, jadi terbuka informasi dan isnpirasinya dari kak Putri, kakak masih mending kalau diganti dengan permen, saya sering diganti dengan alasan yang lebih prihatinnya lagi pada saat mesin struknya kehabisan tinta atau kertas struknya. Dan itu cukup berkata “Maaf Struknya tidak tercetak” kasirnya itu tanpa ekspresi apapun. Gondok ciut deh disana, padahal minimarketnya ternama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *