Jumat Curhat – Bersyukur

Bersyukur by putrikpm

Walaupun berkali – kali saya sudah menulis resolusi dan harapan di tahun yang baru, rasanya selalu saja ada yang kurang. Saya kadang masih suka mengeluh dan merasa apa yang saya dapatkan sekarang nggak seperti yang saya harapkan. Bahkan lebih parahnya lagi, kadang saya merasa bahwa hidup saya nggak seberuntung orang lain. Mungkin saya memang kurang bersyukur, iya kurang banget. Saya sering lupa bersyukur, sampai – sampai saya terlalu sibuk membandingkan kehidupan saya dengan orang lain. Hingga akhirnya kemarin saya merasa seperti ‘ditampar’ oleh seorang pengemudi ojek online.

Saya memang termasuk aktif menggunakan ojek online. Selain karena menghemat ongkos (kalau saya naik taksi dari rumah ke kantor bisa 150ribuan, tapi kalau naik ojek online cuma 30ribuan) dengan naik ojek online saya juga menghemat waktu. Bayangin aja saya cuma butuh 30 menit sampai kantor kalau harus bawa mobil atau naik taksi bisa sampai 90 menit. That’s  why I really love ojek online. Dan biasanya kalau sudah diantar ojek online, durasi 30 menit saya pergunakan untuk ngobrol drivernya. Ada beberapa driver yang agak kaku pas diajak ngobrol, ada juga yang baik banget malahan suka berujung curhat dan ngasih saya semangat baru. Beruntunglah saya kemarin mendapatkan supir ojek yang hidupnya penuh dengan tantangan. Sepanjang perjalanan, saya seperti diingatkan untuk sering – sering bersyukur dan berterima kasih sama Tuhan.

Jadi ceritanya, si bapak ojek ini adalah sahabatnya seorang pengemudi ojek online yang meninggal karena kecelakaan yang nggak jauh dari kantor saya, daerah Jakarta Selatan. Beliau bilang ke saya kalau dia sempat shock dan nggak bisa ‘narik’ selama seminggu. Otomatis semua pemasukan untuk keluarganya (istri dan anak) nggak ada. Walaupun istrinya bekerja, tetap saja Pak Ojek ini nggak nyaman karena menggantungkan urusan asap mengebul di dapur ke istrinya. Dan akhirnya sekitar seminggu kemudian ia baru kembali bekerja. Urusan lemas karena kehilangan sahabat semata – mata bukan karena lebay, Pak Ojek cuma ngerasa dari pekerjaannya lah ia bisa memenuhi kebutuhan keluarganya, tapi dengan cara yang sama ia harus kehilangan sahabatnya.

Saya masih ingat benar saat Pak Ojek bercerita tentang masa – masa kejayaan dirinya dan sahabatnya yang sudah meninggal membuat suaranya bergetar. Saya bisa merasakan bahwa ternyata kehilangan sahabat menjadi sesuatu yang penting. Dan saya pernah lupa sama sahabat – sahabat saya karena lebih mementingkan urusan pribadi. Saya merasa menyesal dan sekaligus beruntung karena sahabat – sahabat saya masih ada bersama saya.

Dan beberapa puluh menit sebelum saya sampai di rumah, Pak Ojek sempat bercerita bahwa ia nggak akan pernah mau berhenti jadi supir ojek. Iya, sebelum bergabung dengan ojek online, Pak Ojek memang ojek pangkalan yang suka mangkal di dekat kantor saya. Sebelumnya, beliau adalah seorang buruh perusahaan garmen. Setelah biaya produksi naik drastis, ia dan sahabatnya serta ribuan pekerja dirumahkan massal. Sejak saat itu, setahun yang lalu, hingga hari ini, ia masih menjadi seorang supir ojek online. Dan perubahan kehidupannya dianggap sebagai berkah yang harus ia syukuri.

“Saya mah Alhamdulillah masih bisa dapat penghasilan seratus ribu per hari. Nganterin kesana – sini, ketemu orang banyak. Saya senang banget, Neng. Daripada harus di rumah cuma anter jemput anak dan istri kerja. Saya mah malu. Mending sedikit tapi halal dan berkah.”

‘Deg’, jantung saya seperti ditampar dan dikembalikan ke tempatnya semula. Antara malu dan bingung. Saya sadar, saya kurang banget bersyukur, malahan suka minta lebih. Ya ampun, saya ngerasa kecil banget jadinya. Sisa perjalanan saya habiskan dengan diam, merenung kemudian berkali – kali bersyukur.

Kadang, kita memang lupa dan harus ‘diingatkan’ dengan orang lain. Bahkan kadang orang lain itu kurang di bawah kita, tapi hatinya lebih besar dibanding kita. Makanya, saya lebih suka ngajak ngobrol supir ojek selama di perjalanan. Sekalian diantar pulang, sekalian mendengarkan dia bercerita tentang jalan hidupnya yang kadang membuat saya amazed. Bahkan beberapa diantaranya perlu saya acungi jempol, dan akhirnya jadi cermin agar saya lebih baik ke depannya.

Sesampainya di rumah, saya berkali – kali mengucap terima kasih. Karena saya sudah diingatkan untuk menjadi yang lebih baik. Menjadi orang yang lebih tulus dan lebih menghargai hidup. Karena hidup dan mati, susah dan senang, kaya dan miskin, semua karena kehendak-Nya. Dia yang kadang saya ‘lupakan’ di situasi tertentu. Namun Dia yang selalu berada di dekat saya. Di dalam hati saya. Alhamdulillah, terima kasih Allah atas berkah hidup saya. Terima kasih untuk semuanya 🙂

footer copy

16 thoughts on “Jumat Curhat – Bersyukur

  1. toss dulu. Sama-sama penggemar ojek online.

    Kadang kita memang suka lupa. Selalu mentingin matetri sampe lupa untuk bersyukur. Beruntung masih diingatkan seperti ini, ya. Itulah kenapa saya saat naik ojek online, taxi, atau jajan di kaki lima, suka ajak pengemudi atau penjualnya ngobrol. Kecuali kalau lagi cape banget. Karena sering kali dengan ngobrol saya diingatkan untuk bersyukur.

  2. jadi ikutan berasa di tampar juga sama tulisannya mba Kartika… Bener mba… terkadang pengalaman orang membuat kita sadar bahwa kita jauh lebih beruntung ..Yang sering terjadi… kita (eh saya maksudnya) lebih sering membandningkan diri ke atas dan merasa diri kurang beruntung… 🙂

  3. Ya ampun, sepagi ini saya merasa terharu dengan tulisanmu mbak Cantik, inget sahabat-sahabatku yang yaaah, karena kesibukanku sekarang, aku jarang menyapa mereka. Duh, perlu lagi membenahi aktivitas onlineku nich. Tks Ur Sharing y

  4. Duhh jadi merasa kurang bersyukur juga nih aku kak 🙁
    Memang ya, pengalaman gak selamanya di dapat dari orang-orang berdasi saja, tapi pengalaman pak Ojek pun patut diingat dan diambil pelajaran baiknya *beruntung aku masih diingatkan untuk bersyukur*
    Terima kasih sharingnya, kak Putri 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *