Jumat Curhat

Hubungan Saya Dengan Calon Ibu Mertua

Hubungan Dengan Calon Ibu Mertua - Delapankata - PutriKPM

Belakangan ini saya sering banget denger cerita teman – teman saya tentang Ibu Mertuanya. Ada yang bilang ibu mertuanya begini lah, begitu lah, ada yang baik banget dan ada yang nyebelin banget. Saya yang emang belum menikah jadi kayak punya pandangan lain tentang sosok ibu mertua dimata menantunya. Tapi sebenernya, balik lagi ke personality si Ibu Mertua dan si Menantu, sih. Bisa jadi sebenernya si Ibu Mertua niatnya baik, cuma karena si Menantu sensi jadi ada salah paham diantara mereka berdua. Well, kali ini saya nggak mau bahas soal hubungan orang lain, tapi hubungan saya dan calon Ibu Mertua saya.

First Impression

Pertama kali mengenal Bunda, sebutan Odi untuk Ibunya, saat hubungan kami baru berjalan selama beberapa bulan. Awalnya, saya panik saat Odi bilang ia akan berlibur bersama Bundanya ke Jakarta. Kalau ada yang belum tau, saya dan Odi LDR Jakarta – Jogja. Kenapa bisa LDR-an? Saya akan cerita dipostingan Jumat Curhat selanjutnya. Dari pertama kali Odi cerita rencananya untuk bertemu sekaligus berlibur ke Jakarta, saya excited banget. Siapa sih yang nggak seneng ketemu pacar setelah 6 bulan kepisah? Tapi semua rasa penasaran dan nggak sabar saya jadi agak redup saat Bundanya akan ikut datang ke Jakarta. Semua cerita – cerita tentang “Meet my future mom-in law is nightmare” membuat saya makin deg – degan nggak karuan. Beruntunglah saya, ternyata Odi sama sekali nggak mengajak saya untuk bertemu Bunda. Sampai akhirnya saya harus mengantar Odi ke Gambir. Dan well, Bunda dan Tante Lisa sudah duduk di bangku kedai Dunkin Donat di lantai dasar stasiun Gambir.

Saya tertunduk malu, diam – diam melirik ke arah Odi yang sedang memesan minuman untuk saya. Beberapa kali Bunda dan Tante Lisa, kakaknya Bunda, bertanya soal pekerjaan saya. Saya menjawab dengan nada suara agak bergetar. Bohong kalau saya nggak deg – degan dan takut terlihat buruk di depan keluarga Odi. Tapi akhirnya, semua berakhir baik – baik saat Bunda menyuruh Odi mencium kening saya sebagai tanda perpisahan.

Berteman

Sebagai anak tunggal, Odi memang sangat dekat dengan Bundanya. Saya nggak bisa memaksa Odi lebih memilih saya dibanding wanita yang melahirkannya 22 tahun lalu. Tapi, saya juga nggak mau terlihat sok akrab dengan Bunda. Saya tetap menjadi saya, karena Bunda juga nggak pernah melebih – lebihkan posisi saya yang notabenenya baru menjadi pacar anak semata wayangnya.

Kedekatan saya dan Bunda pun terkesan lebih alami. Sesekali kami berkirim pesan sekedar say hi, menanyakan kabar Oma dan Ayah, mengucapkan ucapan selamat ulang tahun dan hari raya. Semuanya biasa saja, hubungan kami baik tapi bukan berarti setiap hari saya meneror Bunda untuk sekedar bertanya tentang Odi. Satu hal yang sama sekali nggak pernah kepikiran oleh saya. Saya pun menyukai kepribadian Bunda yang open-minded. Kami sering bertemu sendiri, tanpa Odi. Dan kalau ketemu, ujung – ujungnya ngomongin soal hubungan saya dan Odi kedepannya hahaha.

Selain saya dan Bunda, Odi juga dekat dengan Nenek saya. Setiap malam saat our time  (kami berhubungan via telepon, 2 jam sebelum tidur setiap harinya), sesekali Nenek akan mengganggu kami sambil menggoda Odi. Saya kurang tau pasti bagaimana Odi bisa dekat dengan Nenek, karena terkadang mereka saling menghubungi tanpa sepengetahuan saya. Yang saya tau pasti, Odi adalah tipe pria yang nggak neko – neko plus nggak jaim. Dia akan bilang nggak sama hal yang nggak dia suka, dan dia akan bilang suka sama apa yang dia suka, dan dia nggak pernah ada dikeduanya. Plus, Odi memiliki sifat family man, which means dia kayak punya pesona yang bikin Kakek dan Nenek saya bisa cepat akrab dan menerima keberadaannya.

Pertemuan Bunda dan Nenek

Seminggu sebelum operasi usus buntu yang saya jalani di bulan Agustus tahun lalu, saya dan Nenek sengaja berlibur ke Jogja. Saya sengaja biar sekalian ketemu Odi, Nenek sengaja berlibur sambil sekalian ketemu sama Bundanya Odi. Bahkan ide utama Nenek bukan berlibur, tapi justru ketemu sama Bunda, dan saya nggak nyadar sama niatnya Nenek hahaha. Tapi emang kayaknya Tuhan sudah menyiapkan yang terbaik, Odi diundang dinner berempat di sebuah resto. Jadilah saya mengajak Nenek dan Odi mengajak Bunda untuk datang ke resto tersebut.

And our first informal family meeting begin.

Saya nggak pernah menyangka kalau Nenek berani menanyakan kelanjutan hubungan saya dan Odi ke Bunda. Saya juga nggak kepikiran early dinner sekaligus undangan mereview restoran jadi kayak pertemuan dua keluarga sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan. Awkward moment banget buat saya dan Odi. Kami sama sekali nggak prepare  apa – apa sebelumnya. Dan selama makan malam, saya dan Odi menyibukkan diri dengan foto – foto aja sambil makan. Bunda dan Nenek yang heboh mikirin ide pernikahan kami hahaha. Intinya, Bunda dan Nenek sama – sama setuju kalau anak dan cucunya ini akan berjodoh. Rasanya ada satu pertanyaan di pundak saya yang mendadak hilang, legaaaaa rasanya.

One step ahead.

By the way, balik ke masalah akrab dengan calon Ibu Mertua, saya ada beberapa tips yang bisa dicoba. It works on me so I hope it works on you 🙂

  • Jadi apa adanya. Karena saat kita mencoba menjadi orang lain yang bukan kita, setiap harinya kita akan sibuk menutupi jati diri kita sendiri. Lama kelamaan, apa yang orang lihat bukanlah siapa kita, tapi hanya apa yang kita lakukan.
  • Nggak membicarakan keburukan anaknya. Well, siapa orang tua yang mau anaknya dijelek – jelekin? Nggak ada kan? So biasakan untuk nggak terlalu sering cerita soal masalah yang kita alami dengan anaknya. Kalau bisa, tunjukkan kalau semuanya baik – baik saja dan malahan hubungan kita dengan anaknya semakin berkembang ke tahap yang lebih baik.
  • Peduli, bukan ikut campur. Ini penting banget! Nggak ada kan yang pengen masalah keluarganya dicampuri sama orang lain, jadi kalau misalnya si pacar ada masalah dengan keluarganya, sebisa mungkin kita menjadi pendengar dan memberikan masukan – masukan positif tanpa ikut campur. Jangan pernah deh sok – sok ngebela perbuatan sang pacar yang sebenernya salah apalagi sampai ngelawan orang tua. Pokoknya harus sadar diri, siapa saya dan apa posisi saya dalam keluarga tersebut.
  • Ingat dengan hari penting, seperti ulang tahun atau hari raya. Nggak ada salahnya sekedar say hi dan mengucapkan selamat dengan calon ibu mertua. Supaya beliau sadar kalau kita care dan ingat hari – hari penting dalam keluarganya.
  • Dekat tapi jangan terlalu dekat. Keseringan chat atau berkirim pesan juga nggak baik, sih. Semua ada batasannya, kan? Tetap menjadi calon menantu yang disayang calon suami dan calon ibu mertua dengan tampil secukupnya, nggak usah show off berlebih juga lah.

Jadi, kalau ditanya bagaimana caranya berhubungan dengan Ibu Mertua, balik ke diri kita sendiri sebagai calon menantu, kita mau dikenal sebagai perempuan yang seperti apa. Karena saya adalah saya yang selalu rame dan dekat dengan calon Ibu Mertua, Alhamdulillah dari pertama kali kenal, ketemu dan sampai hari ini, hubungan saya sama calon ibu mertua baik – baik aja. Bahkan kalau boleh saya bilang, hubungan kami sudah cukup dekat. Selanjutnya tinggal menunggu kelulusan dan kepindahan Odi ke Jakarta, selanjutnya? Biarkan Tuhan menentukan dengan segala rencana-Nya. Saya, Odi dan seluruh keluarga kami hanya berdoa yang baik – baik demi kami berdua.

See you on my next post!

footer putrikpm copy

 

30 Comments

  1. calon mama mertuanya gaul juga ya Put

    1. Iya, Bunda emang ibu gaul XD

  2. kalau aku nggak terlalu akrab sama ibu mertua. secara kenalnya juga baru setelah nikah dan beliau tinggalnya di jakarta. trus rada jarang juga nih telepon beliau. agak kagok soalnya kalau ngobrol bareng

    1. Oh gitu, Mbak. Nanti lama kelamaan juga akan akrab dengan sendirinya kok 🙂

  3. Emang betul, jadi apa adanya dan pengen dikenal sbg apa. Ngga sok kenal sok dekat, tapi juga jangan ngga mau kenalan. Aku juga udah lumayan dekat, kalo anak lakinya bandel, saya yg dicurhatin. Semoga lancar terus hubungannya, Mba Put 🙂

    1. Aku pun, beberapa bulan lalu Bunda curhat soalnya Odi bandel hahaha

  4. ranselyuri

    Asik, sebentar lagi nyebar undangan ya ^^

  5. Kalo saya sungkan sama ibu mertua apalagi pas awal nikah

  6. wah, aku udah gak punya mertua, hiiiks

  7. Moga lancar sampe pernikahaaan ya Mbak Putriiiii. Jogja-Jakarta deket aaaaaah, kalo pake cinta gak ada yg jauh :p

  8. Mel

    Wahh…
    Seru sendiri baca ceritanya Mbak Putri…
    Bikin ngebayangin gimana jadinya nanti my-future-mother in law.

    Tapi ada tips gak mbak buat jomblo2 boar gak gengsi minta dicomblangin ortu?
    *lohhh 😀

    1. Duh, tipsnya gimana ya aku udah lama nggak ngejomblo *sombong*

  9. turiscantik

    Ditunggu kabar baiknya ya mbakyu hehehehe

  10. Hilda Ikka

    Alhamdulillah.. Senangnya yang udah akrab dengan ibu mertua. ^^

    Agak envy nih jadinya. Aku udah lumayan deket sih ama calon ibu mertua, tapi belum terlalu akrab. :3

  11. Wahhh …. makasih banyak Mba tipsnya. Bismillah semoga pertemuanku sama calon mertua nanti lancar.

    Btw, semoga hubungan Mba dengan sang pacar segera berakhir di pelaminan untuk melanjutkan kehidupan yang bahagia. Aamiin.

  12. noe

    Nanti puut, lanjutim curhatnya klo udh nikah yaa. Kasih tips sbg praktisi membina hubungan antara mertua menantu. Hihi.

    Setuju bgt soal jd diri sendiri itu, aku banget, gk pernah jd malaikat atau wonder woman supaya mendapat hati mertua. Kenyataan aku gk bs masak ya gk bela2in bs masak, gitu contohnya. Haha *jangan ditiru tapi deng*

  13. Seneng bacanya…
    Aku juga deket sama camer krn emang mamanya doi gahol bgt jadi gak mempermasalahkan sikap aku yg kaku ini. Ke bokapnya dia juga deket, semua keliatan oke2 aja antara aku dan keluarga dia, cumaaaaa dari ortu aku malah blm ngasih restu ke hubungan ini. hihi 😀

  14. Issh disuruh cium kening suit suiiitt 😀
    Kalau aku sama mama mertua dari jaman pacaran emang udah apa adanya banget. Waktu pacaran aku kan masih ngerokok, jadi ya ngerokok bareng segala haha. Pernah berantem juga, abis itu baikan lagi.. Kayak emak sendiri. Well luckily kita 2-2nya ga kenal yg namanya jaim, jadi ya apa adanya aja.. Syukurnya saling memahami kelebihan kekurangan masing-masing.

  15. Sandrine Tungka

    Jadi inget pertama kali ketemu camer deg2 pollll… Sekarang malah tinggal ama mertua. Kalo ditanya rasanya, nano nano lah ya. Memang yang penting itu jadi diri sendiri aja di depan mertua. 🙂

  16. Turut mendoakan yang baik-baik untuk kalian berdua. Sweet posting, Mbak Put. 🙂

  17. PIPIT

    postingannya bagus nih :), buat saya yang emang udah lama g pacaran, pasti bakal cengok kalau suatu saat tiba waktunya kayak gini. hehehe

  18. Lucky you, Put, because you’re gonna have such a very nice mother-in-law.

  19. RohmaFAzha05

    Jadi pngen ketemu sama ibu mertua hhhhheee
    Smbari mraktekin apa yg di atas itu mbk hhhee

  20. Kayaknya tipsnya bisa aku kasi ke temen aku yang punya calon mertua juga nih..
    Hahaha

    Salam Sociolla yahh kak Putri 🙂

    ♥ phieselphie site ♥

  21. Awww… semoga hubungannya bisa lanjut ke tahap yang lebih serius ya kak:)

  22. Nah ini penting banget buat gue, tips trik menghadapi camer. Biar dikata belum ada jodoh bisa kali ah buat siap2 haha

  23. Didoakan langgeng ya, Put 🙂

    Hello!
    Titaz
    http://www.titaztitaz.com

  24. i’m an introvert when meeting a new person, termasuk mamanya pacar, sampe jadi salah paham gara2 dibilang kurang basa-basi haha sedih dan bingung juga, thank you for sharing dear

  25. Alhamdulillah aku juga lumayan deket sama ibunya pacar. 😀 beberapa kali malah ibunya pacar perhatian banget gitu. Jadi terharu. Tapi bener sih komunikasi perlu tapi secukupnya, jadi nggak berlebihan dan terkesan ganggu. Paling penting lagi, jangan menjadi perempuan yang seolah-olah ngerebut anak lakinya. Soalnya, banyak kan, ibu-ibu yang berpikir, anak lanangku kalau ketemu perempuan terus lupa sm ibunya. Jadi, sebagai pacar yang baik, kudu sering-sering ngingetin juga kalau dia mesti perhatian sama ibunya 😀 aaah malah jadi numpang sharing haha.

Leave a Reply

Required fields are marked*