Cara Mengelola Keuangan Ala Nenek Saya

Kalau boleh jujur, bisa dibilang saya itu shopaholic alias hobi banget belanja. Gara – gara belanja, saya pernah kehabisan uang padahal baru seminggu gajian! Dulu pernah pas lagi labil – labilnya saya sering belanja nggak kenal waktu. Kalau lagi berantem sama pacar, belanja. Lagi bosen sama kerjaan, belanja. Lagi bosen nggak ada kerjaan juga belanja. Hasilnya, tabungan saya ludes total padahal waktu itu jumlahnya bisa buat beli motor. Saya kapok? Nggak juga. Bahkan masih suka nyuri – nyuri uang bulanan untuk sekedar belanja. Apalagi saya paling nggak bisa ngeliat barang – barang lucu dan make-up, bawaannya pasti langsung mau ngeborong hahaha. Pokoknya kalau ditanya kemana larinya pemasukan saya jawabannya ya ke barang – barang yang ada di kamar saya.

kelola keuangan ala lifestyle blogger

Nggak cuma belanja, pengeluaran terbesar saya lainnya adalah tiket buat ketemu pacar. Maklumlah, saya dan pacar sudah melalui 4 tahun hubungan jarak jauh alias LDR dari Jakarta ke Jogja. Selama 4 tahun itu saya bisa bolak – balik ke Jogja setahun 3 kali. Bisa kehitung kan kira – kira berapa budget pacaran saya? Tapi karena rasa sayang yang begitu kuat (ceilaaaah) nggak ngebuat saya mengeluh. Semua saya jalani walaupun kadang kudu megang dompet erat – erat untuk nabung dan beli tiket. Hiks.

Di awal – awal saya punya penghasilan sendiri, saya berasa jadi orang kaya. Nggak pernah hitung ini itu, nggak pernah mikir, kalau saya mau sama sesuatu ya saya beli. Pokoknya gaya hidup nggak sehat kayak gitu saya jalani selama 2 tahunan awal kerja. Saya jadi inget kata – kata Mas Safir Senduk, financial planner yang sempat kasih wejangan ke para blogger di acara Sun Life Blogger Gathering beberapa bulan lalu. Buat yang belum kenal siapa Mas Safir Senduk, beliau ini perencana keuangan bersertifikat loh! Makanya saya nyimak banget – banget apa yang beliau sampaikan selama acara hehehe.

“Golongan orang miskin adalah orang yang menghabiskan seluruh pemasukkannya tanpa bisa menabung atau menyisihkan pemasukkannya untuk investasi.”

Mas Safir Senduk
Mas Safir Senduk

Yes, saya masuk golongan orang miskin beberapa tahun lalu. Sampai akhirnya saya sadar, saya nggak bisa kayak gitu terus. Selama setahun belakangan, saya menerapkan beberapa cara untuk mengelola keuangan saya sendiri. Saya pernah baca beberapa teman – teman blogger juga melakukan hal yang sama dengan yang saya lakukan. Tapi, saya mendapat banyak advice dari financial planner keluarga saya yang selalu mampu mengelola keuangan tanpa pernah kekurangan, Nenek saya. Saya percaya dengan mengelola keuangan kayak Nenek saya ini, masa depan saya bakalan lebih baik karena segala sesuatunya sudah dipersiapkan sejak awal. Penasaran sama cara mengelola keuangan ala Nenek saya? Nih saya kasih bocorannya:

tipsPISAHKAN UANG PENGELUARAN SESUAI KEBUTUHAN

amplop - amplop ajaib saya
amplop – amplop ajaib saya

Belajar dari ilmu yang saya dapat di acara blogger gathering bareng SunLife Financial, memisahkan uang penghasilan untuk berbagai pengeluaran itu penting. Kalau saya menggunakan cara amplop. Saya belajar cara ini dari Nenek saya, katanya sih beliau sudah melakukan hal ini selama berpuluh – puluh tahun lamanya. Karena saya suka belanja dan jalan – jalan (baca: nemuin pacar di Jogja), saya punya 2 amplop yang saya kasih label di depannya. Fungsinya untuk memisahkan kebutuhan dan kegunaannya. Oh ya, sebelumnya saya komitmen dengan diri saya sendiri, dana yang saya masukkan ke amplop – amplop ini nggak akan saya keluarkan untuk kebutuhan selain yang tertulis di labelnya kecuali benar – benar urgent. Bahkan, amplop – amplop ini sengaja disimpan Nenek saya supaya saya nggak bisa iseng ngambil uangnya buat hal yang nggak penting hehehe. Dan tiap bulannya saya sudah punya perhitungan sendiri berapa uang yang akan saya masukkan ke amplop belanja dan jalan – jalan.

IMG_7116Saya menggunakan uang di pos belanja saya untuk membeli makeup, nongkrong sama teman – teman, beli boneka yang lucu – lucu (percaya nggak percaya, saya suka banget boneka sampai koleksi di kamar hahaha), beli baju, sepatu dan apapun yang memang bukan menjadi prioritas bulanan saya. Kadang saya belanja 2 atau 3 bulan sekali, tergantung kebutuhan atau saat barang tersebut sudah habis. Untuk pos jalan – jalan, sudah tahu lah ya, 70%nya pasti saya gunakan untuk membeli tiket ke Jogja (ketemu pacar hahaha) dan sisanya untuk jalan – jalan bareng teman – teman atau keluarga.

IMG_7121Perhitungannya sih sederhana saja, saya biasa memakai 10% gaji saya untuk belanja dan 10% lagi untuk jalan – jalan. Tapi uang tersebut tentunya bukan gaji utuh melainkan gaji yang sudah saya potong untuk kebutuhan keluarga. Misalnya, gaji saya Rp 3.500.000 dan pengeluaran bulanan kebutuhan rumah tangga Rp 1.000.000,- jadi sisa pendapatan saya Rp 2.500.000,-. Nah untuk uang yang saya tabung ke pos belanja adalah 10% dari sisa pendapatan saya, begitu juga untuk jalan – jalan. Dalam sebulan, saya harus menabung Rp 250.000 untuk pos belanja saya dan Rp 250.000 untuk pos jalan – jalan saya. Kadang, saya sering mendapat voucher belanja, voucher tersebut juga saya masukkan ke pos belanja dan jalan – jalan saya. Alhamdulillah, bisa nambah – nambahin belanjaan tanpa harus bayar lagi hihihi.

perhitungan pos belanja dan jalan - jalan
perhitungan pos belanja dan jalan – jalan

Selain belanja dan jalan – jalan, saya juga membuat pos untuk uang harian. Uang harian ini penting banget karena hampir setiap hari saya bekerja dengan naik kendaraan umum dari rumah (daerah Timur) ke kantor (daerah Selatan). Untuk pos harian, saya mengalokasikan 25% dari sisa pendapatan saya untuk transport dan lain – lain. Maksud dari lain – lain itu kalau misalnya saya lupa bawa masker jadi kudu beli di perjalanan atau kalau misalnya saya kelaperan di stasiun (yes, saya roker alias rombongan anak kereta) bisa beli camilan atau roti buat pengganjal perut. Uang harian ini memang sengaja saya pisahkan agar nggak tercampur dan mengganggu pengeluaran saya lainnya.

pengaturan uang di dompet, dipisahkan antara uang kertas dan koin serta dipisahkan sesuai nominalnya
pengaturan uang di dompet, dipisahkan antara uang kertas dan koin serta dipisahkan sesuai nominalnya
perhitungan uang harian untuk transportasi dan lain - lain
perhitungan uang harian untuk transportasi dan lain – lain

BUAT ASURANSI PRIBADI UNTUK DANA PERLINDUNGAN

asuransi pribadi itu penting!
asuransi pribadi itu penting!

Dulu, saya nggak pernah kepikiran buat bikin asuransi kesehatan. Untungnya, Nenek saya sigap dan mendaftarkan saya ke asuransi milik pemerintah yang iuran bulanannya ditanggung sama orang tua saya. Tapi setelah saya pikir, rasanya masih belum cukup kalau saya nggak ada dana cadangan dari asuransi pribadi. Nggak bisa ada yang tahu kapan hal – hal darurat terjadi di hidup kita, kan? Buktinya, 2 minggu lalu saya harus dirawat dan operasi usus buntu. Tanpa bekal asuransi, saya sempat panik bahkan Nenek dan Kakek saya juga ikutan bingung. Untung Nenek saya ingat sudah mendaftarkan saya ke asuransi milik pemerintah, tapi nggak semuanya dicover. Ada beberapa obat yang harus ditebus sendiri. Kebayang nggak gimana paniknya kalau misalnya keluarga dan saya lagi nggak pegang uang sama sekali? Saya ngerasa nyesel karena nggak punya asuransi pribadi untuk nge-back up saya di masa – masa gawat.

Saya memang sering ditawari berbagai macam asuransi pribadi dari berbagai perusahaan. Jawaban saya selalu sama, nanti aja ah belum butuh. Dan akhirnya saya mengabaikan saja tawaran – tawaran tersebut. Saya juga pernah dengar soal Sun Life Financial, soalnya asuransi ini sudah ada sejak lama dan kembali hadir di Indonesia sejak tahun 1995. Selain itu, Sun Life punya segudang prestasi. Penting banget bagi saya untuk tahu latar belakang perusahaan asuransi yang ingin saya ikuti. Selain itu melihat track record, mengetahui latar belakang perusahaan menambah rasa percaya bagi si perusahaan. Salah satu penghargaan yang diterima Sun Life adalah 100 World’s Most Sustainable Global Company di tahun 2012 bertepatan dengan krisis global yang membuat beberapa perusahaan sejenis gulung tikar. Selain itu, Sun Life juga punya kegiatan CSR alias sosial yang dinamakan Sun Bright. Pokoknya ada banyak kelebihan yang dimiliki Sun Life dibanding perusahaan lain yang sejenis. Saya juga masih ingat komentar dari Ibu Elin Waty selaku Director & Chief DIstribution Officer Sun Life.

Ibu Elin Waty, Director and Chief Distribution Officer Sun Life
Ibu Elin Waty, Director and Chief Distribution Officer Sun Life

“Kami bisa punya visi menjadi perusahaan asuransi jiwa nomor satu di Indonesia, tapi kami tidak. Kami hanya ingin menjadi satu dari sepuluh besar karena misi kami adalah Membantu keluarga Indonesia mencapai kesejahteraan dengan kemapanan finansial.”

IMG_7147Berkat ikutan acara blogger gathering bareng Sun Life Indonesia saya kayak dikasih  pencerahan, saya kudu buat asuransi pribadi. Nggak cuma buat menanggulangi biaya saat dirawat seperti kemarin, ternyata asuransi pribadi juga banyak lebihnya loh. Saya kemarin sempat mampir ke websitenya Sun Life Financial Indonesia. Selain kenalan dengan Sun Life, saya juga belajar mengenal produk yang ditawarkan. Saya tertarik dengan Sun Medicash yaitu program asuransi yang memberikan sejumlah santunan berupa dana tunai saat tertanggung (saya) menjalani rawat inap di rumah sakit yang disebabkan oleh penyakit ataupun kecelakaan. Manfaatnya pun nggak cuma rawat inap, tapi juga ICU, kematian, dan akhir kontrak. Setelah baca – baca brosurnya, saya langsung pengen nelpon pusat layanan nasabah Sun Life Financial di 1 500786 terus daftarin diri saya deh. Untuk pembayaran polisnya, saya sendiri menetapkan 35% dari sisa gaji saya.

perhitungan investasi asuransi
perhitungan investasi asuransi

NABUNG DI CELENGAN? KENAPA ENGGAK!

IMG_7152Kalau seluruh pos – pos pengeluaran sudah saya pisahkan, sisanya tinggal ditabung. Dari kecil sampai sekarang, saya masih percaya sama celengan. Mulai dari celengan tanah sampai yang modern dari aluminium kayak gini adalah sahabat saya. Sisa 20% dari pemasukkan selalu setia masuk ke celengan saya. Bukannya nggak percaya sama rekening di bank, cuma tangan saya masih suka bandel. Masih suka ngegesek padahal nggak butuh apa – apa. Akhirnya uangnya jadi kepake beli ini itu, nyebelin kan? Akhirnya saya pakai cara kuno yang ampuh ini. Uangnya dijamin bakalan aman sejahtera dan sentosa di dalem celengan.

perhitungan tabungan bulanan saya
perhitungan tabungan bulanan saya

INVESTASI DARI HASIL TABUNGAN

Berhubung ngomongin tabungan, saya jadi pengen curhat sedikit. Kemarin sebelum jatuh sakit, saya sempat merayakan ulang tahun di Jogja. Kali ini nggak sembarangan ulang tahun doang, tapi juga kumpul keluarga. Momen pertama setelah 4 tahun lebih saya dan pacar saling belajar mengenal, Nenek saya dan Bundanya Odi resmi ketemu dan ngeresmiin hubungan kami waktu makan malam ulang tahun saya. Kalau sudah begitu, rencana bahagia sudah di depan mata. Makanya saya kudu buru – buru nabung karena jujur aja, biaya pernikahan jaman sekarang nggak ada yang murah. Kudu beli ini dan itu belum lagi jumlah undangan yang banyak ngebuat saya dan pacar putar otak. Kalau uang tabungan di celengan sudah penuh, kami langsung membeli emas yang juga bisa jadi investasi dan bisa dijual saat hari bahagia kami sudah semakin mendekat.

Alhamdulillah saya sudah punya beberapa gram emas yang memang sengaja saya beli dari hasil celengan saya. Kalau dihitung – hitung sih, untuk sewa gedung sudah aman. Tinggal catering dan tetek bengeknya yang masih harus dicari hihihi. Minta doa ya semuanya. Semoga niat mulia ini dilancarkan dan disegerakan.

Okay gitu aja deh cara mengelola keuangan ala Nenek saya. Maaf ya kalau ujung – ujungnya curhat hahaha. Saya mau tahu dong gimana cara kamu mengelola keuangan. Ada yang caranya sama kayak saya?

Thanks for reading!

thanks for readingInstagram // Facebook // Twitter

Baca Juga:

28 Comments

  1. Kita samaa Put… pake amplop2an gitu.. hehe.. tp aku blm ada pos jalan2.. sementara ditiadakan dulu karna fokus buat bangun rumah.. aamiin..
    Moga terus berlanjut ya Put, sistem keuangannya.. 🙂

  2. Setujuuu bangat Mba Putri, memang kita kudu bijak mengelola keuangan… tp saya baru tahu loh tips pisahin uang pake amplop bgt… boleh nanti saya contek… hahahahaa

  3. Pingback: Cara Mengelola Keuangan Ala Nenek Saya | a blog by PutriKPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *