Tips Cerdas Menggunakan Obat

tips cerdas menggunakan obat

Saya tergolong tipe orang yang daya imunitasnya rendah, jadi dikit – dikit sakit. Capek sedikit langsung sakit, kehujanan sedikit langsung sakit, dan biasanya badan saya kalau sudah sakit ya beneran ngedrop. Buktinya saya sudah 2 kali masuk rumah sakit dan dirawat, beberapa tahun lalu karena DBD plus gejala thypus dan beberapa bulan lalu harus operasi usus buntu. Karena daya tahan tubuh saya yang rendah itulah makanya kadang orang tua saya cemas. Kalau saya ngeluh sedikit tentang kondisi saya, mereka pasti bakalan langsung nyuruh saya ke dokter – atau ke apotek untuk beli obat. Sebenarnya saya risih, karena saya nggak terbiasa minum obat. Dari kecil sampai segede gini saya masih kesulitan minum obat, kudu pake perangsang kayak pisang atau teh manis. Kalau asal minum pake air putih biasa, dijamin obatnya bakalan saya keluarin lagi dalam bentuk yang enggak enak dilihat huhuhu.

Read more

Kata Dokter, Saya Positif Appendicitis

Nggak pernah kepikiran sedikit pun kalau saya harus menjalani operasi. Sekitar 3 minggu lalu, saya harus masuk Instalasi Gawat Darurat karena perut kanan bagian bawah sakit dan nyeri nggak ketolongan. Berawal dari sakit yang saya kira cuma nyeri haid biasa, ternyata malah bikin saya harus ngabisin belasan botol infusan. Pengalaman yang ngebuat saya sadar bahwa sehat itu mahal, dan kayak morning call buat saya buat semakin sayang sama tubuh saya sendiri. Ternyata begini toh rasanya sakit appendicitis.

wpid-2015-08-30-03.12.11-1.jpg.jpeg

Read more

Pengalaman Scaling Gigi Di HHDC Thamrin City

Beberapa waktu lalu aku sempat menghadiri #CeritaGigi blogger gathering di HHDC. Dalam acara gathering tersebut, aku memenangkan instagram photo contest dan berhasil mendapatkan voucher Free HH Oxygene Scaling (pembersihan karang gigi) di klinik gigi yang sudah mulai beroperasi sejak 50 tahun lalu ini. Setelah disarankan oleh staf HHDC, akhirnya aku sepakat untuk langsung melakukan reservasi dan buat appointment untuk melakukan scaling. Dibantu dengan mbak resepsionis yang ramah, aku memutuskan untuk membuat jadwal perawatan di hari Sabtu, 13 Juni 2015 dengan Drg. William Tanzil Sp. Pros yang sempat memberi materi seputar peralatan dan teknologi yang ada di HHDC. Aku suka dengan gaya bicara dan pembawaan dokter ganteng yang satu ini. Eh ganteng? Iya, dokter yang punya senyum lebar ini emang enak dilihat. Loh kok malah bahas dokternya? Hahaha nggak apa lah ya sekali – sekali.

Jumat sorenya, sebelum jadwal scaling, staf HHDC menelepon untuk memastikan aku ingat jadwal perawatan besok. Begitu juga Sabtu paginya, staf HHDC menghubungiku kembali via telepon dan via whatsapp. Mereka baik banget sih, tapi aku agak ngerasa keganggu karena diingatkan terus menerus. Mungkin staf HHDC sudah punya feeling, karena aku kejebak macet dan masih stuck di sekitaran Grand Indonesia padahal sudah jam 11.20 WIB. Jadwal scalingku harusnya jam 11.00 WIB. Akhirnya pas sampai di lobby Thamrin City, aku langsung buru – buru keluar dari taksi dan menuju ke Cosmo Terrace.

Read more

Hendra Hidayat Dental Clinic, Less Pain More Smile!

Siapa yang masih takut ke dokter gigi? Sama dong kayak aku. Aku tuh paling males kalau harus periksa gigi ke dokter karena pernah ngalamin hal yang nggak enak beberapa kali. Kalau yang sudah pernah ketemu sama aku, pasti paham banget kalau gigi sebelah kananku bolong. Tahun 2012 lalu, gigiku sempat sakit banget. Karena aku pemegang kartu BPJS, akhirnya aku periksa ke Puskesmas dekat rumah. Kata dokter, aku harus melakukan perawatan akar karena akar gigiku mulai rusak dan bermasalah. Akhirnya aku kudu bolak – balik 5x untuk perawatan di tiap hari Senin. Dokternya sih sempat janjiin aku kalau gigiku bakalan ditambal aja, nggak perlu dicabut. Tapi di visit yang kelima, gigiku ternyata masih sakit dan akhirnya gigiku kudu dicabut! Duh, aku langsung mikir aneh – aneh karena sebelum dicabut gigiku kudu disuntik untuk mengurangi rasa sakit. Tapi tetep, pas lagi disuntik itu sakitnya minta ampun. Pengen teriak tapi nggak bisa, akhirnya nangis huhuhu.

Semenjak gigiku dicabut, rasa malesku makin bertambah dan nggak pengen ke dokter gigi lagi. Tapi apa boleh buat, beberapa gigiku ternyata ada lubangnya dan aku nggak sadar. Aku emang agak jarang dan bahkan nggak menjalankan ritual 6 bulanan check-up ke dokter gigi. Pas dicek (di Puskesmas juga), ternyata lubangnya udah makin besar dan harus ditambal secepatnya. Setelah itu – sampai hari ini, aku udah nggak pernah check-up ke dokter gigi. Bandel ya? Hihihi. Abis aku takut diapa-apain lagi huhuhu.

Read more

Pengalaman Pertama Si Mata Empat Berubah Jadi Si Normal

Kacamata memang sudah menjadi sahabatku kurang lebih 15 tahun lamanya. Sejak kelas 4 SD, aku sudah menggunakan alat bantu lihat yang satu ini. Maklum, dulu saat aku masih berusia 5 tahun, pamanku yang saat itu berstatus mahasiswa memiliki seperangkat komputer lengkap. Jadi mulai saat itu aku aktif menggunakan komputer, mulai dari main pacman sampai belajar nulis di ms. Word. Ditambah dengan hobiku, baca buku sambil tiduran dan suka baca di tempat gelap. Jadilah mataku mulai minus setengah dan disarankan menggunakan kacamata oleh staff refraksionis yang memeriksa mataku saat aku memberanikan diri ke optik. Sebenernya waktu itu lebih kepaksa sih meriksa mata di optik, pas banget pamanku yang memang berkacamata kudu pakai softlens atau lensa kontak karena mau interview di sebuah bank. Pas cek mata, duaar….. langsung deh sekeluarga panik karena mataku udah minus 0,5 (setengah). Nggak pakai pikir panjang, Nenekku langsung membelikanku kacamata pertama yang menjadi awal dari penampilanku selama 15 tahun ini.

Read more

My Body Dehydration-Mate

Hampir setiap mau kedatengan tamu special ‘bulanan’, tubuhku jadi terasa lebih kering dan dehidrasi berlebihan. Akibatnya, kulit telapak tangan dan kakiku sering pecah – pecah, selain itu aku jadi gampang haus dan kayaknya air putih aja nggak cukup untuk membantuku menghilangkan rasa haus yang berlebihan itu. Kulit kering di sekitar telapak tangan dan kaki itu ngebuat aku bener – bener nggak PD kalau harus bertemu dengan orang baru yang memaksaku harus mengajak mereka bersalaman atau aku harus melepas sepatuku dan berjalan tanpa alas saat ada banyak orang. Aku takut banget orang – orang menganggap tanganku kasar dan tumitku jelek karena pecah – pecah. Parahnya di sekitar 3 minggu lalu, kulit di area telapak tangan dan kakiku mengelupas dan akhirnya jadi nggak nyaman sendiri. Karena panik, aku sampai asal aja pakai bedak tabur yang ternyata nggak ngebantu menyamarkan kulitku yang bermasalah.  Dan akhirnya aku nemuin beberapa produk yang match sama kulit dan tubuh aku. Mau tau apa aja produk yang harus ada di tas aku saat aku lagi dehidrasi?
Read more