Kenapa Harus Melek Hukum?

Denger kata “HUKUM” ngebuat otakku langsung mikir ujung – ujungnya pasti berurusan sama sidang yang panjang dan ribet, hukuman kurungan atau hukuman dalam bentuk lainnya dan denda. Sebenernya, kehidupanku pribadi nggak jauh – jauh dari yang namanya hukum. Tinggal dan dibesarkan di komplek TNI membuatku sedikit banyak mengerti soal hukum. Apalagi pamanku adalah seorang Polisi BUSER (Buru Sergap) yang pastinya kadang suka ngebahas soal hukum kalau lagi di pertemuan keluarga. Tapi, aku termasuk orang yang acuh tak acuh sama hukum. Lebih tepatnya takut kalau berhubungan sama persoalan yang ada embel – embel hukumnya. Ngeri! Padahal, sadar nggak sadar hampir setiap hari kita berhubungan sama yang namanya hukum. Contoh sederhananya saat sengaja nerobos lampu merah karena ngejar waktu. Itu sebenernya kita udah melanggar hukum. Jualan di trotoar atau motor yang nyalip lewat trotoar. Ngembaliin kembalian pakai permen atau justru nggak ngasih kekurangan kembalian. Dan masih banyak hal – hal sederhana yang sebenernya sudah membuat kita dicap sebagai pelanggar hukum.

Beberapa hari lalu, aku sempat nulis soal ulah kasir nakal. Karena buta hukum, kebanyakan dari kita (termasuk aku) masih nyepelein hal – hal kayak gitu. Padahal ternyata si kasirnya bisa kena hukuman denda sampai 2 Milyar karena tindakannya melanggar hukum. See? Hal yang dianggap sepele ternyata tuntutannya serius banget. Aku yakin kalau si kasir ngerti hukum juga nggak bakal ngelakuin hal yang ngerugiin orang lain gitu. Nah dipostingan kali ini aku mau mengulas sedikit manfaat kita melek hukum.

Kenapa harus melek hukum?

Jawaban spontan dari pertanyaanku di atas sebenernya sederhana. Supaya nggak dibodoh – bodohi orang lain dan nggak menyesal kemudian hari. Contoh sederhana si kasir nakal itu. Kalau dia sadar uang kembalian recehan yang “ditilep”-nya itu bisa bikin dia didenda sampai 2 Milyar, aku yakin banget deh dia nggak akan berani. Nggak akan ada lagi kasus – kasus kecil yang merugikan orang lain.

Selain itu, sebagai blogger dan social media officer, secara nggak langsung aku sering berdekatan dengan hukum. Urusan kontrak dengan buzzer atau influencer kan ada pasal – pasalnya. Terus kalau soal copy paste juga ada UU ITE-nya. Dan makin banyak hal – hal dalam kehidupan sehari – hariku yang berhubungan dengan hukum. Kalau aku buta hukum, bisa – bisa aku kejebak disituasi yang bikin aku pengen nangis. Hiks. Cengeng banget!

Pernah ketilang? Panik? Padahal kalau kita ngerti hukum ya nggak usah panik. Kalau emang itu salah kita ya ngaku lah minta surat tilang dan diurus. Biaya urusnya nggak sebesar kalau “damai di tempat” lho! Cuma kebanyakan dari kita milih yg instan karena males ngurusnya. Emang dasar ya si males suka nyari jalan pintas tapi nggak smart. :)))

Gimana caranya belajar hukum tanpa ribet?

Nggak, kita nggak perlu jadi S.H biar ngerti hukum, nggak juga harus beli buku hukum yang njelimet (dan menurutku nggak menarik karena nggak kayak novel hahahaha). Aku punya solusi sederhana untuk belajar hukum dengan cara yang santai tapi bikin paham. Beberapa minggu lalu, aku sempat diundang ke markasnya Hukum Online di Puri Imperium, Kuningan. Pas sebelum berangkat, aku galau apakah kudu banget dateng atau nggak karena balik lagi aku agak acuh nggak acuh sama si hukum ini. Maafkeun dakuw ya, Kum :*

Gathering Blogger Di HukumOnline

Dan alhamdulillah-nya, aku beneran dateng ke kantornya Hukum Online. Banyak ilmu – ilmu baru yang aku dapet selama disana. Salah satu ilmu barunya adalah ternyata saat kita nyomot gambar di website, meskipun udah nulis sumbernya tetep aja ilegal. Harus ada persetujuan tertulis dari si pemilik gambar. Buat menghindari hal – hal yang nggak diinginkan. Ada baiknya mending kalo mau nyomot gambar ambil aja dari situs yang memang menyediakan gambar for public domain. Salah satunya yaitu Pixabay, disitu kita bisa dengan bebas nyomot gambar untuk mempermanis postingan di blog kita tanpa takut dituntut.

Selain itu, ternyata artikel di HukumOnline lumayan lengkap. Aku pun menemukan sebuah jawaban yang bikin aku mikir kalau hukum itu memang mengikat dan adil saat iseng nyari berita tentang kasir nakal. Setelah ngebaca artikel ini, aku makin yakin kalau para kasir ngerti bisa dituntut kayak gitu mereka pasti langsung galau segalau – galaunya. Nilep atau ngembaliin pake permen yang harganya cuma recehan tapi dendanya bisa sampai 2 M. Wow!

Salah satu “anak” HukumOnline, yaitu HukumPedia, lebih manusiawi dan nggak terasa kaku seperti kebanyakan bahasa dalam hukum. HukumPedia itu kayak portal berita dan platform blog yang ngebahas hukum. Siapapun bisa join dan aku sarankan emang kudu join supaya bisa pelan – pelan ngerti soal hukum. Aku pun sudah join dan masih jadi silent reader aja. Tapi aku yakin next time pasti bisa nulis karena ada banyak unek – unek dan pertanyaan soal hukum yang pengen aku ungkapkan. Tsahh….

Tunggu apalagi?

Salah satu alasan kita seolah tertinggal dari orang lain adalah kita terlalu takut mencoba hal – hal baru. Aku paham beberapa dari kalian dan bahkan dulu aku pun takut berurusan dengan hukum dan memilih buat nggak mau deh deket – deketan sama hukum. Cuma sekarang jaman udah maju, sudah banyak kasus hukum yang berawal dari ketidaktahuan. Lalu tunggu apalagi? Daripada menyuruh orang lain, mending suruh diri sendiri dulu. Yuk belajar hukum bareng HukumPedia 🙂

16 thoughts on “Kenapa Harus Melek Hukum?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *