Edge Of Tomorrow [2014] Live. Die. Repeat #Review

Image

Mayor William Cage (Tom Cruise), seorang perwira di AS yang terpaksa harus menjalani pertempuran yang sebenarnya. Pertempuran itu hanya merupakan bentuk misi bunuh diri karena harus berjuang melawan serangan alien yang entah dari mana datangnya. Alien tersebut disebut dengan nama Alpha. Cage bersama sejumlah anggota militer lainnya harus berjuang melindungi diri dari serangan Alpha yang siap menyerang kapan saja.

Dari awal film, penonton disuguhkan dengan plot maju mundur, saat Cage terbangun dari tidurnya ternyata ia sudah berada di pangkalan militer dan besok paginya ia harus menggunakan baju besi yang membuatnya tampak seperti robot. Cage yang tak pernah berada di situasi segenting itu merasa kebingungan. Hingga akhirnya ia bertemu dengan prajurit wanita yang cukup menarik perhatiannya. Namun tak berapa lama prajurit yang bernama Rita Vrataski (Emily Blunt) itu mati diserang Alpha. Dan kemudian Cage pun mati pula. Namun anehnya, setiap Cage terbunuh setiap itu pula ia mengulang hari yang sama.

Image

Hingga akhirnya setelah kematiannya yang kesekian kali, Rita meminta Cage untuk menemuinya saat ia terbangun. Dan benar saja saat Cage terbangun ia langsung mencari Rita yang dikenal dengan Angel of Verdun karena Rita pernah berhasil membunuh Alpha di Verdun. Rita juga memiliki kelebihan yang dimiliki Cage dulu, namun setelah ia mengalami kecelakaan dan harus ditransfusi darah ia kehilangan kemampuannya. Namun ternyata pusat dari penyerangan alien itu bukan Alpha, melainkan Omega yang lokasinya tak diketahui siapapun.

Rita mengajarkan Cage untuk bertahan hidup dan sebisa mungkin melawan Alpha, apabila Cage gagal maka Rita akan membunuhnya. Begitu seterusnya hingga Cage dan Rita diserang sejumlah pasukan yang mencoba menggagalkan aksi mereka. Cage kekurangan darah hingga harus di transfusi. Hal itu membuatnya putus asa karena kekuatannya telah lenyap seketika.

Berbekal keinginan untuk membasmi serangan yang telah menghancurkan kota, akhirnya Cage berhasil mengajak pasukan J untuk membantunya dan Rita membunuh Omega. Mereka terbang ke Prancis namun ternyata Alpha menyerang pesawat mereka. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menyerang Alpha yang jumlahnya puluhan kali lipat dari mereka. Hingga akhirnya seluruh pasukan J tewas, dan hanya Rita dan Cage yang masih hidup.

Image

Dalam kegalauan karena Cage tak mampu mengulang hari, mereka berdua mencoba menyerang Alpha dan Omega. Rita berhasil memancing perhatian satu Alpha sehingga membuat Cage bebas memburu Omega yang berada di bawah dam. Hingga akhirnya Cage berhasil mengebom Omega walaupun mempertaruhkan nyawanya. Namun cairan Omega mengalir di dalam darah Cage sehingga ia kembali mengulang hari.

Di bagian akhir, Cage terbangun dan tetap menjadi Mayor yang melihat pasukan J latihan menghadapi perang. Cage pun bertemu dengan Rita yang tak mengenal dirinya. Endingnya, cukup bahagia karena alien berhasil di basmi tanpa mengorbankan satu nyawa pun.

Review: Film yang cukup membuat kita berfikir selama menontonnya. Karena adegan Cage mengulang hari terjadi puluhan kali. Tapi cocok buat ditonton sama pasangan atau sama keluarga karena sosok heroik Tom Cruise sesekali diselipi adegan-adegan lucu yang membuat kita tertawa.

 

Rating : 8/10

Kakek Berkemeja Batik, Semoga Selalu Baik-Baik

Sore itu, sepulang dari jalan-jalan seru di Museum Sumpah Pemuda, gue sengaja pengen naik bus TransJakarta jurusan Kp. Melayu – Pulo Gebang. Rasanya kayak kangen sama jalanan yang udah gue laluin selama setahun lalu. Jadilah gue nostalgia sama jalanan sempit tapi rindang di sekitar daerah Jatinegara sampai Buaran Jakarta Timur. Jadi, setelah berebutan di halte busway Kp. Melayu, gue duduk juga dengan tenang di bagian ladies area yaitu di bagian depan bus gandeng berwarna oranye ini. Bisnya mulai penuh, banyak yang berdiri sambil berpegangan di gantungan yang disediakan, ada juga yang nyender di pintu atau di pembatas area.

Awalnya gue pengen tidur karena ac bis nya kayak niupin mata gue supaya cepet merem. Tapi nyatanya, ada seorang kakek-kakek umurnya sekitar 80an tahun berdiri di samping kanan gue. Tangannya masih kokoh megang gantungan yang melambai di atas tiang bis kebanggaan warga Jakarta ini. Naluri anak baik gue langsung hadir, gue berdiri dan menyuruhnya duduk. Awalnya dia senyum terus nolak, tapi gue paksa. Akhirnya dia duduk juga.

“Terima kasih.” ucapnya pelan sambil duduk.

Gue pun tersenyum dan ngeliat si bapak tua ini. Gue keingetan kakek gue! Serius deh! Nggak kebayang kalau kakek ini adalah kakek gue dan nggak ada orang yang ngasih dia duduk cuma karena dia terlihat kuat berdiri sambil berpegangan sama gantungan tangan. Oh my, nggak sanggup lagi gue mikir yang begituan.

Buat ngalihin pandangan gue, gue sengaja baca buku Insurgent. Buku lanjutan Divergent film yang sempet gue tonton beberapa bulan lalu. Gue emang terbiasa baca buku dimanapun, mau di jalanan atau sekedar nunggu bis di halte. Dan kakek itu negur gue.

“Nggak pusing ya baca sambil berdiri begitu?” tanya si kakek sambil sesekali membenarkan kerah kemeja batik yang dipakainya.

“Nggak, pak. Saya udah biasa.” Jawab gue sambil tersenyum.

Lalu si kakek menceritakan pengalamannya tentang baca buku. “Saya pernah baca buku di pesawat. Baru dua lembar saya baca, saya muntah-muntah. Anak saya marahin saya, katanya saya kampungan. Hahahaha.” Bapak ini cerita polos banget. Seakan-akan dia ngetawain dirinya sendiri. Kacamatanya sesekali melorot, dan berulang kali pula ia membenarkan letak kacamatanya diantara hidungnya yang mancung.

“Mungkin bapak nggak biasa baca, makanya pusing.” saut gue sambil ngeliatin muka si bapak yang udah banyak keriput di sana sininya. Ah, bapak ini bener-bener ngingetin gue sama kakek gue.

“Mungkin, ya! Makanya sekarang saya kapok baca buku dimana-mana. Hahaha.” si bapak ketawa lagi. Wajahnya happy, kayaknya hidupnya bahagia banget.

Dan dia berkali-kali bilang makasih sama gue, “Jarang ada cewek yang kasih saya duduk, lho! Mungkin saya keliatan masih muda ya.” si bapak ngelucu. Tapi kedengerannya agak menyindir juga. Dan gue nggak habis pikir kenapa ada orang yang nggak mau kasih tempat duduk buat bapak setua ini?

Dan ternyata sudah sampai halte busway Buaran. Dia siap-siap mau turun.

“Saya duluan ya. Kamu turun dimana?”

“Penggilingan, Pak.” jawab gue. “Hati-hati ya, Pak!” gue spontan ngomong begitu sama dia.

Dia tersenyum. “Kamu yang harus hati-hati. Banyak orang jahat disini.”

Gue nangkep maksudnya, iya emang bener. Di Jakarta banyak orang jahat. Terima kasih pak! Semoga hidupmu bahagia selalu.

Berlibur Di Museum Sumpah Pemuda, Murah Tapi Banyak Manfaatnya!

Weekend kali ini gue menghabiskan waktu dengan berkunjung ke sebuah museum di daerah Kramat (sekitar Salemba sebelum Senen) Jakarta Pusat. Museum Sumpah Pemuda, begitu kata-kata yang tertulis dalam sebuah plat yang menjulang tinggi di depan gerbangnya. Tempatnya berbentuk seperti rumah tua bergaya aksitektur Betawi tempo dulu. Tapi begitu masuk, rasa panas yang sempet ngebuat keringet mengalir deras langsung dibayar dengan angin yang ditiup sama air conditioner yang dipasang disudut-sudut ruangan.

1

Di bagian depan, gue langsung ngeliat patung 3 orang pemuda Indonesia yang menggambarkan tentang detik-detik perumusan naskah ‘Soempah Pemoeda’.

2

Berpindah ke ruangan sebelah kanan, ada bagian sudut museum yang dikasih sofa panjang yang nyaman banget buat duduk-duduk sambil ngebaca-baca informasi yang dipasang disetiap pojok ruangan.

3

Bergerak kearah dalam museum, ada sebuah biola yang bersejarah dalam terciptanya beberapa lagu-lagu perjuangan. Diantaranya ada Indonesia Raya, Tanah Airku dan lain-lainnya. Udah jelas banget dong ya berarti biola itu punyanya bapak WR. Supratman.

4

Ruangan di samping biola bapak Wage Rudolf Supratman ada patung sepasang bapak yang sedang membaca sebuah surat kabar tempo dulu. Sayangnya, gue lupa nama kedua orang tersebut karena nggak sempat baca petunjuk patungnya.

6

Dan di bagian paling belakang museumnya, ada patung bapak WR. Supratman sedang memainkan biolanya, kemungkinan sih dia memainkan lagu Indonesia Raya soalnya di belakang patungnya ada tulisan lagu Indonesia Raya lengkap dengan not baloknya.

7

Dan di dinding-dinding museum juga dipasang beberapa surat atau perjanjian Sumpah Pemuda yang diadakan pada tanggal 28 Oktober di masa silam ini.

8

Harga tiket museum yang sangat murah yaitu Rp. 2.000 untuk dewasa / perorangan dan Rp. 1000 / orang apabila berkunjung bersama minimal 10 orang lainnya ini menurut gue sangat-sangat murah. Kenapa murah? Di dalamnya lo bisa ngeliat sejarah para pemuda Indonesia yang berjuang untuk merdeka di negaranya sendiri. Saran gue sih, lo mending ajak adik atau saudara atau anak lo kesini supaya mereka tau gimana perjuangan pemuda pemudi Indonesia. Dan supaya mereka juga bisa mengisi kemerdekaan dengan hal – hal yang positif.

9

Museum Sumpah Pemuda ini juga cocok lho buat lo yang mau menghabiskan weekend atau liburan dengan hal yang positif, fun dan menambah wawasan lo juga pastinya. Happy holiday! J

Kiara Resort And Spa, Tempat Hangout Keluarga Yang Mepet Jakarta

Minggu lalu (11 Mei 2014) gue bareng keluarga akhirnya liburan ke luar kota. Nggak jauh-jauh dari ibukota sih, kita sepakat buat liburan di daerah sekitaran Subang, Jawa Barat. Perjalanan di Minggu pagi itu lumayan lancar, berangkat dari jam 07.00 pagi dan sampai di tol Sadang sekitar 09.00. Tapi ternyata, setelah keluar tol Sadang jalanan yang mulai berkelak-kelok di sana-sini mulai macet. Okay, gue agak benci macet karena pernah pengalaman ngerasain 17 jam perjalanan dari Jakarta ke Kuningan. Sempet hopeless kalau-kalau rencana liburan malah berantakan karena kacau. Tapi ternyata, sejam kemudian kita udah sampai di daerah Subang. Dan sempet terhibur karena sepanjang perjalanan suasananya nyaman banget! Adem dan hawanya nggak panas walaupun mataharinya nongol.

20140511_101605

Maaf fotonya agak ngeblur karena difoto dari dalem mobil yang lagi jalan :p

Dan jam 10.15 sampailah kita di Kiara Resort and Spa lokasinya di Jl. Raya Ciater.

20140511_103012

20140511_105228

Ini penampakan Kiara Hot Spa nya 🙂

20140511_110641

 Kiara Resort and Spa ini tempatnya nggak terlalu dingin tapi panasnya matahari nggak terasa ke kulit. Dengan tiket masuk 30.000 untuk 1 orang, gue rasa tempat ini pas banget buat tempat liburan sekeluarga. Buat anak-anak, bagian kanan kolam tingginya nggak sampai 1 meter dan bagian kirinya sekitar 125 centimeteran. Selain itu, ada beberapa bangku semen di dalam kolam yang bisa dipake buat duduk – duduk santai sambil mesen minuman di kafe yang letaknya persis di tengah-tengah kolam. Seru deh! Air hangat yang mengalir dan mengandung belerang di dalem kolam emang agak berasa asem dan perih kalau kena mata kita, makanya usahain jangan belajar berenang disini. Kalau bisa berenang sih sah-sah aja mau gaya apapun di kolam ini, tapi buat yang masih belajar, mending berendam dan rasain enak dan nyamannya pas kulit lo kena sensasi hangat dari air belerangnya. Dijamin, badan yang tadinya pegel jadi lebih fresh dan rileks deh!

IMG_6894_0 IMG_6898

Buat yang mau menambah adrenalin, lo bisa main rafting alias arung jeram di kali yang ada di sekitar lokasi resort. Sebelumnya, lo harus bayar 65 ribu per orang kalo mau ikutan rafting. Dan sebelum ikutan rafting, pastiin kondisi lo fit karena jalur arung jeramnya lumayan serem kalo buat pemula.

20140511_124314

Selain rafting, ternyata ada banyak permainan outdoor yang disediain sama pengelola Kiara Resort and Spa ini. Diantaranya ada Flying Fox, Berkuda dan Paint Balls. Pokoknya, liburan kali ini bakal berasa lebih seru kalo lo nyoba hal-hal baru yang belum pernah lo lakuin sebelumnya.

Anyway, untuk info seputar Kiara Resort and Spa ini, lo bisa klik official website mereka di http://ciatersparesort.net/

Selamat berlibur!

Makan Siang Di Ah Mei Cafe, Cafe Ala Singapore

Makan siang kali ini gue dan teman-teman kantor sengaja pengen mencoba hal-hal yang baru. Akhirnya kita memilih buat menjelajahi Pejaten Village, mal bernuansa modern di daerah Pejaten, Jakarta Selatan. Gue dan 7 orang teman lainnya akhirnya milih makan di Ah Mei Café. Café yang mengusung embel-embel bertema Singapore ini cukup good looking karena menaruh beberapa gerobak tradisional di sisi sebelah kanannya. Sayangnya gue nggak sempat foto lokasinya karena udah kelaperan berat :}

 
Read more

Kopi Ginseng Buatan Indonesia Yang Sudah Mendunia

Biasanya, setiap gue nge-blank kalo lagi kerja atau sekedar hangout bareng temen-temen, gue selalu minum kopi. Mau nongkrong kece di coffee shop yang udah mewabah dimana-mana sampe sekedar ngopi santai di rumah sendiri. Buat pecinta kopi kayak gue, citarasa kopi itu harus kuat dan punya nilai lebih dibanding kopi lainnya. Kan jaman sekarang banyak banget jenis kopi dari yang white coffee, black coffee, ginseng coffee sampai coffee blended. Nah kalo misalnya gue kongkow bareng temen-temen, gue suka banget beli coffee blended alias kopi yang udah dicampur sama berbagai jenis tambahan lainnya, misalnya susu, krimer atau coklat. Dan kalau di rumah, gue suka nyeduh ginseng coffee. Kenapa ginseng coffee? Karena kopi adalah favorit gue dan ginseng itu punya banyak manfaat, diantaranya bisa menghangatkan tubuh atau sekedar relaksasi dari wanginya yang menenangkan.

Dan ginseng coffee favorit gue dari jaman bahoela adalah CNI Ginseng Coffee. Ginseng Coffee yang sudah dipasarkan dari tahun ’94 ini lain dari yang lain, lho! Soalnya, kopinya dipadupadankan sama gula, krimer nabati dan ekstrak ginseng. Krimernya sendiri terbuat dari nabati yang bisa diminum buat para vegetarian. Selain itu, perpaduan kopi arabica yang rasa kopinya kuat dicampur dengan robusta yang wangi ngebuat kopi ini enak dan nyaman diminum sekalipun buat elo yang punya asam lambung.

06_CNIginsengcoffee_FD01_besar

Kandungan aktif ginsengnya bermanfaat untuk:

  • Menambah tenaga dan vitalitas.
  • Sebagai antioksidan.
  • Meningkatkan fungsi seksualitas.
  • Bermanfaat untuk pertumbuhan jaringan kulit dan sel.
  • meningkatkan daya tahan tubuh

mengapa-cni-ginseng-coffee-aromanya-harum-dan-rasanya-mantab-doc

Jadi, kopi ini cocok banget buat para pecinta kopi yang suka aroma dan rasa yang khas ditambah manfaat spesial dari ginseng yang menghangatkan tubuh. Cocok buat temen santai, ngobrol bareng keluarga atau sekedar nyari ilham di beranda rumah. Cielah… Dan yang lebih penting lagi, kopi ini MADE IN INDONESIA. Kita harusnya bangga jadi bangsa Indonesia karena produknya udah mendunia. CNI Ginseng Coffee ini udah diekspor ke 10 negara lho!

Jaman sekarang banyak yang bilang kalo produk MLM kayak CNI ini susah dibeli alias belinya mesti jadi member dan lainnya, nyatanya CNI sekarang udah punya online store yang bisa lo akses kapan aja dan dimana aja lho! Lo bisa akses www.geraicni.com buat beli produk-produk CNI favorit lo. FYI, CNI ini merek yang udah lumayan melanglangbuana di Indonesia dan di dunia.

So, tunggu apalagi? Mau ngerasain nikmatnya kopi ginseng yang asli dan tak tertandingi? CNI Ginseng Coffee jawabannya…. *kalo ngopi CNI Ginseng Coffee, ajak-ajak gue ya! 🙂

Jangan Kasih Saya Duduk Karena Saya Hamil

Pagi ini, di bis TransJakarta jurusan Pulogadung – Harmoni. Gue lagi asyik nerima telepon dari kampus pas gue baru masuk ke dalam bis berwarna biru itu. Bis yang kayaknya umurnya hampir sama kayak setengah umur gue ini berbunyi di sana – sini. Bis nya nggak terlalu penuh, bahkan bisa dibilang kosong. Soalnya ada beberapa bangku di bagian belakang bis nya yang kosong. Dan begitu sampai di halte Pulomas, ada seorang mbak-mbak berbaju merah naik dengan bantuan pegangan tangan si mas penjaga pintu. Beberapa kali si mbak nya memegang perutnya. Kayaknya dia hamil muda, cuma anehnya entah gue salah atau gimana, nggak ada orang yang kasih dia duduk. Sampai akhirnya gue bangun, gue nyoba buat ngasih tanda ke dia kalo dia bisa duduk di bangku gue, tapi dia menggeleng. Dia nolak.

“Jangan kasih saya duduk, Mbak. Saya bisa kok berdiri.” Dia ngomong pelan sambil senyum. Tapi tangannya masih tetep megangin perutnya.

Gue tetep kekeuh nyuruh dia duduk. “Mbak hamil kan?” Gue nyoba mastiin apa yang gue pikirin itu bener atau salah.

Dan ternyata dia jawab, sekali lagi sambil senyum dan suaranya pelan. “Iya. Tapi jangan kasih saya duduk cuma karena saya hamil. Saya beneran nggak apa-apa kok!”

Dan beruntungnya, ada mbak-mbak baju biru berdiri dan turun di halte ITC Cempaka Mas. Lalu duduklah di mbak-mbak berbaju merah perlahan-lahan. Dengan bantuan mas penjaga pintu yang kayaknya daritadi nguping obrolan gue sama si mbak baju merah. Setelah dia duduk, gue ngeberaniin diri buat nanya hal yang sebenernya agak bikin gue bingung.

“Mbak kenapa nggak mau duduk daritadi? Kan bangku itu hak nya mbak.”

Dia menggeleng. Sambil sesekali ngelus perutnya yang udah agak gede membuncit ke depan. “Saya nggak mau ngerepotin orang, mbak.”

Okay. Gue nyoba buat berpositif thinking. Kayaknya si mbak emang beneran baik sampe nggak mau ngerepotin orang lain dengan ambil kursi yang seharusnya emang udah jadi hak nya ibu hamil, lansia, cacat, kayak dia yang sekarang kayaknya hamil 5 bulanan.

“Kemarin saya naik bis ini juga, terus tiba-tiba perut saya sakit. Jadi mas petugas bis nya langsung nyuruh mbak-mbak yang duduk di kursi prioritas buat ngasih tempat duduknya ke saya. Si mbak nya ngedumel, intinya dia capek daritadi berdiri terus baru dapet duduk sebentar dan sekarang tempat duduknya harus di ambil sama saya. Saya nggak enak hati.” Si mbak baju merah keliatan banget tulus ceritanya.

Gue masih asyik ngedengerin dia cerita. Beberapa kali juga si mas petugas ngelirik ke arah gue dan mbak baju merah. Kayaknya dia ikutan nguping. Hehe…

“Tapi, itu kan emang hak nya mbak. Mbak nya kan hamil.” Gue masih kekeuh sama pendapat gue. Orang hamil, cacat, lansia dan bawa anak kecil emang berhak dapet duduk! Dan gue masih nggak ngerti kenapa ada orang yang nggak rela ngasih tempat duduk ke orang-orang yg prioritas. Heran.

“Emang sih. Saya ngerti, itu emang hak saya karena saya hamil. Tapi coba deh mbak bayangin. Gimana mau duduk nyaman kalo orang yang kasih kita duduk nggak ikhlas? Makanya, saya mending berdiri nanggung sakit asal nggak ada orang yang ngerasa dirugiin sama saya. Kalo saya ketemu sama mbak yang kemarin, saya juga mau minta maaf soalnya saya ambil hak nya dia.”

Gue diem. Gila, hati mbak ini terbuat dari apa ya? Dia masih ada maafin orang yang nggak ikhlas ngasih tempat duduk yang seharusnya emang buat orang-orang yang diprioritaskan. Gue ngerasa jadi salah juga, kadang gue kayak si mbak nggak punya hati yang diceritain mbak baju merah. Kadang ada rasa rela nggak rela kalo bangku gue mesti dikasih ke orang lain dan gue mesti berdiri selama perjalanan yang lebih dari sejam itu. Padahal, orang hamil dan orang – orang yang diprioritaskan itu lebih butuh soalnya dia bawa beban yang agak berat dan mungkin bisa ngebahayain dia kalo dia nggak duduk. Gue beneran malu sama si mbak baju merah.

Pas bis ada di halte Senen, si mbak baju merah bangun sambil senyum dan pamit duluan ke gue. Dia turun di halte itu, ninggalin gue yang masih nggak tau harus ngomong apa ke dia. Dan ternyata gue lupa nanya nama dia.

Semoga tuhan selalu nemenin dimanapun mbak baju merah berada, semoga nanti bayi yang dilahirinnya jadi anak yang super duper baik kayak ibunya. Aamiin.

 

#Review Guardian, Katanya Sih Film Indonesia Yang Paling Oke, Tapi…

Tanggal 1 Mei yang dirayakan sebagai May Day oleh para buruh se-dunia jadi sebuah kelegaan buat gue, kenapa? Karena tanggal 1 Mei lalu bertepatan dengan hari Kamis. Biasanya, setiap hari Kamis jalanan dari kantor ke rumah macetnya nggak ketolongan. Bisa 3 jam dari Buncit ke Cakung. Makanya gue hepi banget pas tau kalau 1 Mei libur. Seenggaknya bisa lepas dari macetnya hari Kamis. Huft.

Tapi ternyata, temen-temen kampus ngajakin kongkow sambil nonton. Gue sih seneng, karena udah beberapa bulan nggak ketemu dan katanya mau nonton The Amazing Spiderman 2. Akhirnya, janjian lah kita di Taman Ismail Marzuki jam 5.00 sore. Gue janjian dengan temen gue yang namanya Fika. Dan ternyata kita datang lebih cepat dibanding teman yang lain, soalnya temen yang lain datengnya jam setengah 6. Oke mataharinya udah mulai menghilang, udah tanda-tanda mau Maghrib. Barulah 2 orang temen gue lainnya dateng. Dan kita sepakat mau beliin dulu tiket temen-temen yang belum dateng. Dan ternyataaaa…….. TIKET THE AMAZING SPIDERMAN 2 NYA HABIS SODARA – SODARA!!! Padahal ada 2 studio di XXI Taman Ismail Marzuki dan semuanya habis, ludes! Padahal baru aja jam 5.45 sore!

Untuk mengubur kekesalan kami yang sudah datang jauh – jauh dari berbagai pelosok daerah (ada yang dari Taman Mini, Kampung Melayu, Harmoni, Cakung, Jatinegara, dll ) akhinya kita sepakat mau nonton Guardian.  Awalnya sih, sempet excited pas baca berita-berita di socmed tentang film ini. Tapi semuanya buyar pas liat filmnya 🙁

20140502_134637[1]

1412621_214047592115723_1871212370_o

Sebelum ngereview, baca dulu deh sinopsisnya.

Setelah terbunuhnya Wisnu di rumahnya, Sarah (Dominique Agisca Diyose) isterinya, berusaha mengajarkan ilmu bela diri kepada anak perempuan mereka, Marsya (Belinda Camesi), yang sebenarnya sangat tidak menyukai ilmu bela diri. Hingga suatu saat, Paquita (Sarah Carter) dan kelompoknya memburu mereka.

Sarah yang meminta bantuan Kapten Roy (Nino Fernandez) sahabat Wisnu di kepolisian belakangan mengetahui ternyata juga diburu oleh anak buah Oscar (Tio Pakusadewo). Adegan-adegan yang memicu adrenalin pun terjadi. Dari kebut-kebutan di jalan-jalan utama Jakarta, tembak-tembakan, sampai pertarungan sengit antara Sarah dan Marsya dengan para pengejarnya.

Dan ternyata filmnya…… bikin nyesel beli tiket 35 ribu 🙁

Film dimulai dengan Wisnu yang nyetir sambil nahan rasa sakit karena pundaknya tertembak. Dari awal udah kesel soalnya teknik pengambilan gambarnya aneh. Terkesan dokumenter tapi kualitas gambar nggak lebih dari video henpon! Dan kemudian, si Wisnu terbunuh, dilihat sama Sarah dan anaknya, Marsha (yang sebenarnya namanya Laura). Nah terus, pas si Marsha nya udah gede, ceritanya Jakarta udah punya MRT, keren sih idenya tapi visualnya menyedihkan. MRT nya 3D dan terkesan murahan! Sejenis film naga-nagaan yang di salah satu tv swasta itu loh! Sayang nggak sempet gue foto dan di mbah gugel pun nggak ada contoh gambarnya. Pokoknya lo bayangin ada MRT dalam format 3D dan ditempel ke film yang resolusinya pas – pasan!

Guardian-1

(Katanya) Ketegangannya di mulai saat Marsha dibuntuti oleh sejumlah preman lalu rumahnya di berondong sama tembakan hingga dibom! Lagi-lagi, efek tembakan dan bom nya 3D murahan yang udah pasti bikin penonton malah ketawa (soalnya kemarin gue sama temen-temen juga gitu :D). Dan makin banyak hal – hal aneh. Misalnya, pas mobil penjahatnya jatuh dari atas flyover dan ketabrak Transjakarta, ternyata TJ nya 3D. Oh God! Dan yang paling parah, pas adegan salah satu penjahatnya jatuh dari lantai 2 ke bawah, ceritanya di bawahnya ada mobil bak terbuka dan you know what? mobil bak nya 3D! Jelas banget keliatannya! Terus, banyak adegan darah yang terkesan nggak natural soalnya warna darahnya merah keunguan terus nggak kentel tapi cair!

Lain visual, lain jalan ceritanya. Jalan ceritanya sebenarnya bagus, cuma dialog yang dibuat kurang banyak. Pas berantemnya pun terkesan hening tanpa suara atau ekspresi apa-apa. Film yang ditujukan untuk wanita ini sebenernya maknanya adalah “Ibu itu segalanya, dia akan berkorban dan berjuang apapun demi anaknya.” Kalau visualnya oke, kayak The Raid, gue rasa film ini bakal booming banget deh. Tapi kalau kenyataannya kayak yang kemarin gue tonton, rasanya gue sangsi kalau film ini bakal tembus Hollywood. Padahal, film ini udah make artis Hollywood yang pernah main di film Final Destination 2, The Vow, dll yaitu si Sarah Carter. Selain itu ada Nino Fernandez dan Tio Pakusadewo yang sebenarnya termasuk aktor cukup oke di Indonesia. Tapi teteup aja, mereka nggak terlalu banyak ngebuat film ini sukses bikin gue nggak tidur!

bi3XVhwGJl

cover-Guardian-retouched

Nah, sekarang terserah sama lo, masih mau nonton buat bangga sama film Indonesia atau nggak :p tapi saran gue, kalau udah nggak ada film di bioskop yang belum lo tonton bulan ini, boleh lah lo nyoba serunya film yang katanya jadi film yang paling ditunggu di tahun 2014 ini. Hehehe 😀

*Anyway, jalan ceritanya mirip Abduction, film action tentang adopsi anak dan mafia yang dibintangi sama Taylor Lautner 😛

Rate: 1/10