Rahasia Dua Dunia

“Cinta memang selalu tahu kapan akan kembali mengingatkenangan, meski tak akan pernah terulang”
Perutku mulai rata kembali setelah dua bulan lalu aku melahirkan putera pertamaku. Aku sengaja melakukan diet ketat agar aku tetap bisa menjalankan aktifitasku kembali sebagai seorang pramugari. Hari Minggu selalu aku habiskan dengan bercengkrama dengan anak dan suamiku. Aku dan Odi adalah sepasang suami istri yang selalu menghabiskan enam dari tujuh hari dalam seminggu dengan berkutat dengan pekerjaan kantor. Anehnya, malam ini Odi tidur dengan memelukku erat seperti takut kalau – kalau akan kehilanganku…
 —

Aku masih menikmati wangi tanah sehabis hujan di beranda kamarku. Berulang kali aku mengambil dan menghembuskan napas dalam – dalam sambil memejamkan mata. Leherku terasa pegal dan berat seperti menahan beban padahal aku hanya mengenakan tanktop biru muda kesayanganku. Aku tetap mencoba untuk merilekskan badan dan pikiranku. Akhir – akhir ini pikiranku sungguh kacau, kerjaan di kantor berantakan, bos marah – marah dan parahnya cowok yang sudah 3 tahun aku sayang tega – teganya selingkuh sama sahabatku sendiri! Benar – benar di luar akal sehatku, dan itu membuatku cukup stress akhir – akhir ini.

Masih teringat jelas di memori otakku saat Joe memeluk Tasya, sahabatku sendiri dengan penuh kemesraan yang menjijikan! Aku benar – benar muak melihat mereka berdua, tega – teganya mereka mengkhianati ku dengan cara yang sekeji itu. Anehnya, setiap aku teringat kejadian memuakkan itu, tetes demi tetes air mata jatuh dari sudut – sudut mata sipitku. Aku sedih? Pasti. Kehilangan? Iya. Tapi aku terlalu muak untuk bertemu apalagi membahas masalah ini dengan mereka. Sejak sore kelabu itu, aku memutuskan sebisaku untuk nggak berhubungan apalagi bertemu sama mereka berdua. Aku sampai ganti nomer handphone, aku selalu diantar-jemput supir ku, padahal sebelumnya aku selalu menyetir mobil ku sendiri. Hidupku sudah berubah 180 derajat sejak kejadian itu. Anehnya, Joe dan Tasya tak pernah ada niatan untuk menemuiku, mereka memang benar – benar keterlaluan.
Tiba – tiba terdengar deru suara ambulan di depan jalanan depan rumahku yang membuyarkan lamunanku. Tanpa sadar cangkir teh yang ada digenggamanku meluncur dengan bebasnya dan membuat suara gaduh yang memecah keheningan teras kamarku.
“Non Jean nggak apa – apa?” Bi Inah dengan tergopoh – gopoh langsung lari ke arahku.
Aku hanya menggeleng sambil menyeka sisa – sisa aliran air mata yang ada di pipiku.
Bi Inah langsung membersihkan sisa – sisa cangkir yang sudah hancur tak berbentuk itu. Aku bangkit dari dudukku dan berjalan masuk ke kamar. Tiba – tiba aku merasa perih pada telapak kakiku yang ternyata menginjak serpihan cangkir itu. Tak peduli dengan rasa perihnya, aku tetap berjalan masuk ke kamarku. Aku menghempaskan tubuh mungilku di sofa busa yang berada tepat di seberang tv plasma, (satu-satunya hiburan saat aku bosan dengan social media) dan telah ada disini sejak aku berumur 5 tahun. Aku mengganti – ganti channel di tv selama 5 menit namun tak ada satupun yang menarik. Aku memutuskan untuk ke dapur mencari pengganjal perut yang mulai berteriak minta diisi. Mataku tertuju pada sepotong  rainbow cake yang ada di dalam kulkas. Sedetik kemudian, telepon rumahku berdering, dengan menahan rasa perih di kakiku, aku berjalan menuju gagang telepon yang ada di meja kecil di dekat meja makan.
“Hallo”, suaraku malas – malasan.
“Jean. Ini gue, Tasya.” suara itu terdengar agak ragu – ragu.
Aku mengambil napas, “Duh, ada apa lagi sih lo perebut-pacar-sahabat-sendiri? Gue sibuk gak bisa diganggu!” suaraku meninggi dan lebih menekankan kata perebut pacar sahabat sendiri sebagai sindiran untuknya.
“Jean, lo boleh marah – marah sama gue, tapi please dengerin gue dulu!”
“Duh sorry, gue sibuk!” ‘bruk’ aku menutup gagang telepon dengan kasar.
Aku kembali berjalan tertatih menuju sofa dan menaruh sepiring rainbow cake di meja kecil disampingku. Selera makanku langsung hilang seketika setelah menerima telepon itu. Aku jadi kesal sendiri, mood-ku berantakan. Akhirnya aku kembali membolak – balik acara di tv hingga akhirnya mata dan telingaku terfokus pada satu berita siaran langsung yang disiarkan oleh salah satu stasiun tv swasta.
“Terjadi kecelakaan di jalan Wijaya Jakarta yang menimpa seorang pengendara mobil ber-plat B 789…”
Aku langsung diam seribu bahasa saat gambar pembawa acara berganti dengan gambar sebuah mobil mini van yang sudah bersahabat dengan mataku sejak 3 tahun lalu. Air mataku langsung menetes saat tubuh seorang cowok digotong keluar dari mobil itu. Darah bercucuran dari kepala dan tangan cowok yang wangi tubuhnya masih aku hafal.
“Joe…” suaraku bergetar diikuti badanku yang melemas.
Suara dering handphone ku terdengar kencang, kakiku terlalu lemas untuk melangkah mengambilnya. Bi Inah dengan berlari langsung mendekati sofa tempat aku duduk.
“Non, ini ada telepon..” suaranya terdengar terengah – engah.
Tanpa melihat siapa yang menelepon, aku langsung menjawabnya dengan suara bergetar,
“Ha..llo”
“Jean, lo udah liat berita?”
“Udah…”
“Jean, gue di depan rumah lo, please keluar sekarang. Ada yang mesti gue jelasin ke elo.”
Aku tak menjawab dan langsung berjalan gontai menuju gerbang rumahku. Tasya yang melihatku langsung berhambur memelukku.
“Jean, maafin gue. Ini semua gak sesuai sama apa yang lo bayangin!”
Aku masih diam tak berkutik. Mataku menatap nanar lurus ke depan. “Lo ngomong apa sih?”  suaraku masih melemah namun aku sekuat hati untuk berusaha seolah – olah semuanya masih baik – baik saja.
“Lo ikut gue dulu. Joe butuh lo!” Tasya menarikku ke dalam mobilnya dan langsung menyetir dengan kecepatan diatas rata-rata.
Aku masih tetap diam, tak banyak bergerak hanya degup jantungku yang membedakan aku dengan mayat. Mukaku tampak pucat terlihat dari spion mobil Tasya yang jendelanya sengaja dibuka.
“Ini semua gak kaya yang lo bayangin, Je.” suara Tasya bergetar. “Lo tahu kenapa gue meluk Joe waktu itu?”
Aku tak menjawab dan tak bereaksi apapun.
“Itu kejadiannya 2 hari setelah lo balik dari Singapore. Saat itu gue butuh temen curhat. Bokap nyokap gue mau cerai, Je. Gue nyoba ngehubungin handphone lo tapi selalu gak bisa.  Gue gak tahu kalo ternyata lo udah balik. Akhirnya gue ketemu Joe di taman tempat kita biasa nongkrong. Dia yang dengerin curhat gue. Dia yang nasehatin gue. Waktu itu gue reflek meluk dia. Kalo lo mau marah, lo harusnya marah ke gue, bukan ke dia.” Tasya masih terus menjelaskan sambil matanya tak lepas dari kemudinya.
“Terus dia nyoba ngejar lo waktu itu, tapi lo ternyata udah pergi naik taksi. Dia ngejar ke rumah lo dan ternyata kata Bi Inah lo gak ada di rumah.”
AKu baru sadar karena setelah kejadian memuakkan itu aku langsung pergi ke rumah tante May, adik dari ayahku.
“Joe nyoba ngehubungin hp lo berkali – kali, tapi gak pernah ada yang nyambung. Dia bingung sendiri jadinya. Seminggu dia gak pulang dari rumah lo. Dia nunggu lo di garasi, bi Inah udah nyoba nyuruh dia buat masuk ke dalam rumah lo tapi dia nolak. Dia kehujanan, kepanasan dan cuma mau makan sekali sehari. Itupun dipaksa sama bi Inah.”
Mataku kembali mengeluarkan bintik – bintik air mata dari tiap sudutnya.
“Akhirnya dia pingsan dan dibawa bi Inah ke rumah sakit. Setelah diperiksa ternyata dia kena thypus dan lo tahu? Dia ternyata punya kanker otak stadium 3!” suara Tasya agak meninggi.
Aku masih terdiam seperti mayat hidup.
“Selama bertahun – tahun dia nyembunyiin penyakit itu dari lo, Je. Karena dia gak mau lo khawatir sama dia. Tante Ros yang cerita semuanya ke gue. Dan seminggu yang lalu, dia ngelihat lo sama cowok lagi pelukan di atas balkon kamar lo. Dia shock, Je! Dia cerita sambil nangis ke gue.” Tasya mulai menangis histeris. Emosinya tak terkontrol, matanya berkaca – kaca sambil urat – urat di leher nya menegang.
“Joe…” suara lirih keluar ragu – ragu dari tenggorokanku.
“Jean, hari ini rencananya Joe mau ngelamar lo. Dia udah nyiapin cincin buat lo. Tapi tadi dia hilang kendali, akhirnya mobilnya justru tabrakan sama mobil lain.” suara Tasya melemah.
Aku ingin memaki diriku sendiri atas semua kebodohanku. Bodohnya aku langsung percaya pada apa yang aku lihat tanpa memberinya kesempatan untuk membela dirinya sendiri. Bodohnya aku terlalu egois yg mementingkan perasaan ku sendiri. Ingin rasanya aku menghakimi diriku sendiri atas apa yang terjadi pada Joe.
Mobil Tasya sampai di parkiran rumah sakit swasta di bilangan Fatmawati. Aku berlari tanpa bicara sepatah katapun. Aku terus berlari ke arah Unit Gawat Darurat di rumah sakit itu. Di luar ruangan itu aku melihat tante Ros dan om Johan yang sedang menangis dan sambil berpelukan. Aku melihat bercak – bercak darah yang aku yakini milik Joe di lantai rumah sakit. Tante Ros yang melihatku langsung berjalan ke arahku, kemudian memelukku erat.
“Jean, Joe…” suara tante Ros tertahan.
Perlahan ia melepaskan pelukannya dariku. Lalu memberikan kotak merah kecil kepadaku. Setelah aku buka, ternyata isinya adalah sebuah cincin putih bermatakan berlian yang sangat aku kenal. Cincin itu adalah cincin impianku yang pernah aku tunjukkan pada Joe saat sedang berjalan – jalan di mall tahun lalu. Aku berjalan pelan memasuki ruangan bernuansa putih. Aku mencoba menguatkan hati dan pikiranku. Baru setengah jalan aku masuk, aku melihat sesosok tubuh tertutup kain putih yang mulai ternoda dengan bercak darah di bagian kepalanya. Aku langsung berlari memeluk tubuh itu.
“Joe!!!!! Please bangun, Joe! Aku mau minta maaf, Joe! Aku salah! Please bangun, Joe!” aku berteriak tanpa aturan, membuat beberapa suster dan petugas keamanan rumah sakit menarik paksa aku untuk keluar dari ruangan…
 —
“Sayang, kamu kenapa? Sayang, bangun sayang!” aku mendengar suara Odi di telingaku.
Aku terengah – engah setelah berjuang untuk dapat bangun dari mimpi burukku. Mimpi yang sebenarnya telah menjadi kenyataan dua tahun yang lalu. Ya, mimpi yang seharusnya tidak pernah menjadi kenyataan, namun aku tak boleh menyesalinya. Joe memang cinta lamaku, seorang pilot muda yang berhasil memikat hatiku selama 3 tahun sejak pertama kali kami bertemu. Mungkin perasaan bersalah di masa lalu membuatku terkadang mengutuk diriku sendiri. Aku memutuskan untuk memberi nama Joe Fabiansyah pada anak tunggalku, persis seperti nama Joe. Aku juga memutuskan menjadi seorang pramugari karena Joe selalu ingin agar aku menjadi pramugari. Joe memang telah pergi dan hidup kekal di alam berbeda, tapi rasa sayang aku kepadanya masih tetap sama dan tak pernah berubah bahkan ketika saat ini usia pernikahanku dengan Odi memasuki tahun kedua. Tapi Odi tak pernah tahu akan hal itu……

Rekomendasi Tempat KopdarJakarta Yang Paling Asik

Bagi orang yang lahir hingga dewasa dan bekerja di Jakarta seperti saya, rasanya bosan dan jenuh dengan segala macam keruwetan yang menaungi kota metropolitan ini. Bayangkan saja, dari mulai bangun tidur, lalu pergi kerja pag-pagi namun masih saja terjebak macet. Mau makan siang di luar kantor pun kalau lokasinya agak jauh sedikit saja, langsung lama di jalan, alias macet. Apalagi pulang kantor? Ah, rasanya saya malas membicarakannya. Untungnya, saya pengguna bus TransJakarta, kalau macet langsung merem dan tertidur pulas. Hehehe.

Untuk mengatasi rasa bosan saya ketika terjebak macet, saya suka menulis. Apa saja, yang terlintas di benak saya pasti langsung saya tulis di blog pribadi saya. Beberapa hari lalu, saat sedang stalking Twitter, tiba-tiba saya menemukan akun yang bikin saya pengen bergabung jadi membernya. @KopdarJakarta. Namanya familiar di telinga saya, namun berkali-kali saya gagal mengikuti acara kopdar-nya karena terbentur acara lain. Akhirnya saya follow akun itu, dan kebetulan hari itu adalah hari ulang tahun http://kopdarjakarta.com yang ke-5. Dan saya yang suka gratisan iseng-iseng bikin gambar ini, langsung ikutan kuis #5thnKojak. Saat itu, saya membuat sebuah maha karya gambar sederhana asal ngotak-ngatik sotosop :p

 Image

Ini asli buatan saya sendiri, lho!

Dan telah tanpa saya duga, ternyata saya menang dan mendapatkan reward berupa pulsa senilai Rp. 100.000,- Ah, bagaikan dapat pacar yang gantengnya ngalahin Justin Bieber, halah, hari itu seneng banget karena dapet pulsa gratisan dari @KopdarJakarta.

Image

eh, eh, ada @PutriKPM tuh :3

 Image

Direct Messages dari KopdarJakarta, ihiw 😀

Setelah ngebales DM di Twitter, saya blogwalking ke blog nya KopdarJakarta, dan langsung antusias ngebaca postingan tentang Kopdar di Mekarsari. Kenapa saya excited banget? Karena balik lagi ke awal postingan saya, bosan dan jenuh banget sama suasana Jakarta yang itu-itu aja. Setelah ngebaca postingan itu, saya langsung ngidam pengen ke Mekarsari, bareng sama temen-temen KopdarJakarta tentunya.

 Image

Diambil dari Google

Penat dan jenuh dijamin langsung hilang pas sampai di Mekarsari atau yang sering dibilang Kebun Buah Jonggol. Terik matahari yang mulai membuat mata memicing sedikit, tak pernah menyurutkan langkah para pengunjung. Apalagi kalau perginya bareng sahabat dan keluarga, pasti suasana hangat bercampur hembusan angin makin menambah nikmatnya Kopdar alias Kopi Darat bareng teman-teman blogger. Dan lucunya, beberapa blogger ada yang tak sadar menjadi bahan candid camera karena terlelap di bawah rindangnya pepohonan.

Image

Nyomot dari postingan KopdarJakarta :p

 Lihat deh, keseruannya para blogger KopdarJakarta, disini nih 😀

nyomot di Youtube

Ya tapi tak apa lah, karena lokasinya emang pas banget buat bobo-boboan unyu jadi ya dimaklumi kalau sampai ada yang terlelap atau bahkan pules. Kopdar di Mekarsari emang dijamin bikin betah berlama-lama, selain bisa menghirup udara segar diselingi obrolan – obrolan seru dengan para blogger, kita juga masih bisa seru-seruan update live tweet atau iseng bikin live posting di blog. Apalagi kalau pake XL, jaringannya stabil jadi postingan nggak stuck atau kepotong karena sinyalnya labil. Saya sendiri pengguna XL dari 3 tahun lalu, tepatnya saat masih kuliah di salah satu kampus swasta. Berawal dari coba-coba karena ditawarin temen yang jago ngibul jualan, saya disuruh follow Twitternya XL yaitu @XL123. Hasil dari coba-coba sampai keterusan dan sampai saat ini saya masih pake paket HotRod3G+ yang jaringannya lancar abis! Buktinya, temen-temen sekantor pakainya XL semua, katanya paketnya murah tapi kualitasnya nggak murahan.

Image

Tuh kan ada buktinya, tinggal 6 hari dari masa aktif kuotanya masih 500mb lebih. Padahal saya selalu pakai 3G dan aktif 24 jam. Salut banget sama XL. Jadi, refreshing yang agak keluar dari Jakarta pun dijamin internetnya stabil. Seru kan ya, kumpul bareng temen-temen blogger, ditempat yang cozy banget ditambah koneksi internetnya juga lancar. Pasti berjam-jam nggak terasa dan tau-tau sudah sore dan waktunya berpisah. Huft 🙁

Pokoknya, saya pengen banget @KopdarJakarta bikin Kopdar di Mekarsari lagi. Mau banget ikutan, kudu, wajib, harus, fardhu! Hehehe… By the way, sekali lagi selamat ulang tahun ya KopdarJakarta, semoga makin sukses, membernya semakin banyak dan rasa kekeluargaannya makin terasa, dan semoga saya bisa jadi membernya. Aamiin…

Sifat dan Perilaku Lucu Para Pengguna Bus TransJakarta Busway

Gue adalah salah satu dari sekian ratus ribu penduduk Jakarta yang setiap hari pulang-pergi pasti naik bus TransJakarta atau yang biasa disebut TJ. Moda transportasi andalan warga ibukota ini sudah punya belasan koridor ini dengan setia mengantarkan para penumpangnya yang terdiri dari bermacam-macam sifat dan jenis setiap harinya. Jujur, 80% dari seluruh waktu yang gue lalui di dalam bus ini pasti buat ngeliatin, atau bahasa bakunya mengamati tingkah laku dan sifat para penumpangnya. Beberapa diantaranya bahkan berhasil bikin gue bilang, “Kok bisa sih?” atau “Itu orang kok gitu banget ya?” dan sisanya cuma bisa bikin gue geleng-geleng kepala sambil elus dada *elus dada pacar, lho?*. Dan dengan segala kehormatan yang gue punya, gue mau berbagi atau mungkin membuka aib gue sendiri dan mungkin buat lo yang ngerasa kalo yang gue posting ini ternyata sifat lo, berubahlah. Bukan berubah menjadi Satria Baja Hitam atau sebagainya, tapi menjadi diri lo yang lebih baik. Dan inilah beberapa jenis sifat dan perilaku para pengguna bus TJ berdasarkan pengalaman gue.

1. Si Egois

Sifat pengguna bus TJ yang satu ini mungkin paling dibenci dan disebelin sama semua pengguna lainnya. Karena mereka adalah tipe-tipe pengguna yang mau enaknya sendiri. Berdiri seenaknya, nahan antrian (suapaya naik bis belakang dan dapet duduk) terus suka ngedorong – dorong badan penumpang yang di depannya tanpa mikir sakitnya didorong dengan tenaga kuat dari belakang. Jujur, gue suka bete abis sama orang – orang bertipe kayak gini. Mereka nggak pernah peduli sama yang orang lain pikirin, dengan pedenya ngelakuin berbagai macam cara cuma supaya dapet kursi (biasanya cewek, tapi akhir-akhir ini dilakuin juga sama cowok).

Saran: Kalo ketemu sama penumpang kayak gini, halang-halangi jalannya. Kalo badan lo cukup gede kayak gue, dorong balik atau kalo nggak lo omelin aja. Teriakin ke dia “Woy, antri woy!” walaupun kemungkinannya teriakkan lo juga bakal dianggep angin lewat sama mereka.

2. Jago Akting

Penumpang yang ini patut diacungi jempol. Mereka bakal pura-pura merem, lalu akhirnya melek lagi kalo suasananya sudah memungkinkan. Kenapa? Mereka nggak akan rela buat ngasih tempat duduknya ke orang – orang berkebutuhan khusus ( ibu hamil, membawa balita, lansia dan cacat fisik ). Licik kan? Iya. Banget.

Saran: Setiap ketemu orang kayak gini, bangunin aja. Kalo lo berdiri di depan dia, goyangin kakinya. Pas dia melek, langsung bilang kalo ada yang butuh tempat duduk. Simple, rite?

3. Bawel

Yang sering gue temuin penumpang jenis ini pasti seorang ibu – ibu atau mbak – mbak cewek yang mulutnya tipis tapi lebarnya ngalahin Donald Duck. Mereka bakal berkomentar apapun yang mereka lihat di dalam bus TJ atau di jalanan yang mereka lalui.

Saran: Tutup kuping, pake headset, gedein volume music player atau radio di henpon lo.

4. Ngeluh mulu

Gue nggak pernah ngerti kenapa ada tipe orang yang nggak mensyukuri hidup. Hidupnya cuma diisi sama keluhan – keluhan yang nggak penting. Misalnya, pas lagi macet, “Duh, lama banget sih Pak. Nyupirnya agak cepetan dong.” Hello, rasanya pengen gue cium pipinya pake high heels 7 cm deh. Namanya macet ya nggak akan bisa cepet. Ada lagi yang ribet banget, kalo AC nya kurang dingin dia bakal komplen. Pokoknya apa – apa serba di komplen, kesannya bus TJ kayak salah mulu dimata dia.

Saran: Tiap ketemu orang – orang tipe ini, coba lo pegang tangannya, terus lo bilang, “Bersyukurlah, Mbak. Masih untung Mbak masih bisa napas. Kalo nggak kan…” sudahlah nggak usah dilanjutkan.

5. Nggak sabaran

Penumpang tipe ini sih hampir mirip – mirip sama yang egois. Cuma bedanya, kadang mereka ngebuat diri mereka sendiri yang celaka. Contohnya saat bus TJ baru sampai di shelter, belum berhenti total tapi dia udah loncat masuk ke dalemnya. Tujuannya sih egois, pengen dapet tempat duduk. Tapi mbok ya nggak usah gitu – gitu juga kali ya? Lucu.

6. Pelor

Penumpang ini adalah tipe paling anteng selama di perjalanan. Baru duduk 10 menit, dia bakal udah mimpi indah. Nggak jarang gue ngeliat ada yang tidurnya sampe mangap bermenit – menit bahkan ada yang setengah jam lebih. Makanya, beberapa dari pelor menggunakan masker buat nutupin mulutnya selama tidur, takut mangap, kan malu. Hehehehe…

Ya itulah 5 tipe pengguna bus TJ versi gue. Kalo lo yang mana? Kalo gue termasuk tipe orang yang doyan tidur tapi nggak pelor. Sekedar meremin mata kalo pas lagi jalanan macet. By the way, kalo lo yang mana?

Salam,

PutriKPM

Tips Gampang Ngebuat Hobi Jadi Rejeki

Jaman sekarang siapa yang nggak punya hobi? Pasti semua orang punya, mulai yang hobinya hanya ngegosip, jalan-jalan, wisata kuliner, nge-twit atau fotografi. Banyak banget jenis hobi yang dipilih sama orang – orang. Alasannya, hobi itu seperti pelampiasan setelah ber-stress-stress-ria terjebak kemacetan, kerjaan yang numpuk sampai stress ngurusin anak yang rewel. Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, Hobi adalah kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran seseorang. Jadi, yang namanya hobi itu pasti asik dan seru, soalnya pasti dilakukan untuk merelaksasikan badan serta pikiran yang udah suntuk.

Kali ini, saya mau membahas masalah hobi yang bisa jadi rejeki. Siapa sih yang nggak mau hobinya menghasilkan rejeki? Udah bikin badan sama pikiran relaks, dapet duit juga lagi. Wah, kayaknya mayoritas masyarakat pasti pengen banget punya hobi yang menghasilkan ya? Salah satu hobi yang menghasilkan adalah blogging. Lho, kok blogging? Simpelnya, kalian cuma nulis di blog aja bisa dapet duit. Keren nggak tuh?

Kebetulan, Minggu kemarin (17/11) saya diundang oleh teh Ani Berta, beliau adalah seorang blogger dari blogdetik yang udah famous banget, untuk berpartisipasi di acara #SundaySharing yang di adakan di kantor DetikCom di daerah Buncit ( padahal cuma beda 2 lantai dari kantor saya, hehehe ). Dari acara singkat yang hanya beberapa jam itu, banyak ilmu yang dibagikan oleh teh Ani dan juga dari Detik i-Net yaitu Ardhi dan dari Community Development DetikCom yang diwakili oleh Karel Anderson.

Image

Image

Ani Berta lagi ngasih wejangan

Pada kesempatan itu, Ani Berta memberikan beberapa tips supaya blog kita bisa menghasilkan pundi-pundi uang.

*Usia Blog Minimal 3 Bulan & Jumlah Postingan Lebih Dari 20

Kenapa minimal 3 bulan dan jumlah postingannya lebih dari 20? Agar audiens sudah mulai mengenal nama blog kita. Sehingga para calon advertiser ( calon pembeli jasa kita *duileh bahasanya ) tidak ragu untuk mengajak kita bekerja sama atau meng-hire kita menjadi buzzer nya.

*Ter-index Google

Usahakan minimal 3 sampai 5 kata kunci (keyword) yang ada dalam setiap postingan, agar apabila ada yang mencari keyword tersebut di Google bisa langsung tertuju ke postingan blog kita.

*Konten MenarikIt’s a must! Nggak mungkin deh ada advertiser yang ngelirik blog kita kalau misalnya postingan di blog kita tentang hal-hal nggak penting. Galau-galau nggak jelas misalnya.

*Tidak Mengandung Pornografi

Untuk hal yang satu ini kayaknya udah menjadi hal yang lumrah kita temukan di beberapa blog terkenal yang di side banner nya atau bahkan di banner utamanya ada iklan alat pembesar dan pengeras anu, duh kayaknya nggak enak banget dibacanya. Selain ngeganggu pemandangan blog nya, pemasangan konten berbau porno juga bikin ilfeel para advertiser yang tadinya berniat bekerja sama bareng kita. Sayang kan cuma gara-gara hal sepele bisa bikin rejeki mendadak pergi 🙁

*Terpasang Google Analytics

Google Analytics itu berfungsi sebagai penghitung jumlah pengunjung blog kita dan darimana saja asal pengunjung tersebut. Biasanya hal-hal kayak gini yang akan ditanya sama advertiser yang mau meng-hire kita.

*Konsisten Update
Maksudnya, kalau kita punya blog diurusin blog nya. Jadiin blog itu sebagai pacar kamu yang mesti ditengok dan diajak ngobrol sekali-kali. Jangan sampai jarak antara postingan satu dan lainnya bisa setahun lebih 😀
*Isi Dengan Konten Menarik
Ini juga penting banget, sama seperti jangan memasang konten porno, isi konten yang di post di blog juga harus bermanfaat, infomatif dan menghibur bagi pembacanya.

*Blogwalking

Sempatkan mampir ke blog orang lain dan tinggalkan komentar. Fungsinya supaya orang yang kita komentari akan mampir balik ke blog kita, sekaligus menambah pertemanan 😀

*Personal Branding

Cari karaktermu sendiri, misalnya saya, blog ini saya jadikan menjadi blog random saya. Atau simpelnya ada blog Ani Berta yang bertajuk Fight Never Ending yang isinya seputar perjuangan hidup beliau dan kehidupan beliau sampai saat ini. Pemilihan personal branding berfungsi agar memudahkan advertiser mencari blog kamu dengan keyword yang menjadi branding blog kamu.

*Optimasikan SEO
Penggunaan SEO atau Search Engine Optimization sama seperti penjelasan saya tentang ter-index Google. Usahakan minimal 3sampai 5 kata yang sama dan menjadi keywordmu ada dalam postinganmu. Misalnya postingan saya ini bertajuk Hobi dan Rejeki, minimal ada 3 sampai 5 kata Hobi dan Rejeki dalam postingan ini.
*Ikut Komunitas
Kenapa harus ikut komunitas? Supaya nambah teman baru, dan kalau misalnya komunitas tersebut dipercaya sebagai buzzer untuk sebuah brand, siapa tahu kamu ikut kecepretan rejeki untuk ngereview brand tersebut.
Nah, mudah kan membuat hobi ngeblog kamu jadi rejeki? Makanya mulai ngeblog dari sekarang. Happy Blogging….
Image
Cheers,
Putri

Jangan pergi. ( Adaptasi dari lirik lagu Talking To The Moon-Bruno Mars )

Ketika kamu menghindar jauh, aku merasakan ada yang hilang dari hidupku. Sesuatu yang begitu dekat dengan tawaku, kini terlalu sering membuatku menangis. Aku tahu kamu mungkin bosan dan ingin meninggalkanku, tapi aku tak mampu sedetikpun berhenti mengharapkanmu. Mungkin orang-orang menganggapku tak waras, aku tak pernah peduli. Mereka tak pernah mengerti apa yang aku rasakan, kehilangan begitu sakit. Seandainya aku mampu, mungkin aku mencoba mencari penggantimu. Walaupun kenyataannya tak pernah ada yang bisa sepertimu. Ketika aku bertanya pada bulan, bulanpun seakan mengerti bahwa bahagiaku cuma di kamu. Mungkin semua ini hanyalah kesia-siaan, namun bagiku bicara pada bulan sudah mampu mengobati perasaanku. Aku tetap butuh kamu, dan selalu menunggumu kembali. Aku merindukanmu, merindukan tiap malam yang kita isi sambil menatap bulan yang tersenyum manis. Aku merindukanmu, kembalilah padaku.

Aku dan Secangkir Kopi Putih

Sore ini sudah hari ke sepuluh aku meminum kopiku sendirian. Kopi putih yang lebih manis dari biasanya, walaupun ampasnya sering menempel di pinggiran bibirku. Hari ini rasanya melelahkan, keringatku menetes dari dahi lalu turun ke pipi-pipiku.
Sore ini sepi. Beda dari sebelas hari sebelumnya yang ramai dihiasi tangisanku. Aku mendesah, berat rasanya mengingat-ingat hari itu lagi.
Kali ini cangkir merah kesayanganku begitu memuakkan. Ingin ku banting dan ku buang begitu saja. Rasanya aku bosan menggenggamnya lagi, hanya membuatku mengingat masa-masa yang sempat membuatku bahagia saja. Ah, aku benci kopi putih.
Aku benci meminum manisnya kopi putih yang dulu sering ditemani oleh tawa renyahmu. Aku benci menghirup wanginya yang selalu mampu membuat tenang, itu katamu. Aku benci meninggalkan bekas bibirku dipinggiran cangkir merah favoritmu ini.
Ah, aku benci kamu.

Ps : aku masih belum bisa berhenti meminum kopi putih kesukaanmu. Ya, aku masih belum bisa melupakanmu.

Bertemu – Part 1

Perpisahan selalu menjadi akhir yang menyakitkan, tapi mereka nggak sadar kalau bakal ada pertemuan baru yang akan mengobati perihnya.
Pertemuan.
Seperti bunga yang kembali kuncup menggantikan yang telah layu.
Seperti mimpi yang kembali hadir setelah mimpi menyedihkan minggu lalu.
Seperti perasaan haru yang kembali menyeruak mengisi rongga paru – paru.
Seperti harapan yang kembali menjadi kenyataan setelah kenangan menyemu.
Seperti telor burung yang kembali menetas setelah sekian lama banyak diburu.
Bertemu itu syahdu, apalagi dengan si pemilik rindu.
Aku bahkan hampir saja berdoa bahwa kamu adalah yang ku tunggu.
Bahwa kamu adalah penyembuh luka masa lalu.
Bahwa kamu adalah nyanyian untuk hati yang sendu.
Luka masa lalu karena orang yang telah pergi memang sakit.
Seperti virus yang sudah menjalar ke seluruh sendi – sendi dalam diri.
Semoga kamu adalah masa depan yang ku harap memberi arti tersendiri.
Semoga kamu adalah impian yang menjadi nyata di masa kini.
Semoga kamu adalah udara yang membuatku bisa bernafas lagi.
Semoga kamu adalah alasan ku untuk tak boleh bersedih kembali.
Semoga kamu adalah alasan bahwa yang sudah lalu tak boleh kemari.
Semoga pertemuan ini menjadi saksi, bahwa aku butuh kamu, kamu butuh aku, aku adalah kamu, kamu adalah aku.
Semoga tak ada lagi perpisahan yang selalu membuatku murung.
Pertemuan ini terlalu membahagiakan buatku.
Pertemuan ini seperti mimpi yang mengharu biru.
Pertemuan denganmu membuatku tak mau terbangun dari mimpi indahku.