Jumpa Pertama Dengan Si Bunga Bangkai

“Eh ini beneran aku kepilih jadi peserta Famtrip Bengkulu?”

Kalimat pertama yang saya tanyakan ke Odi untuk meyakinkan bahwa email yang masuk ke inbox saya nggak salah sasaran. Odi yang bingung justru malah memeluk lalu mengecup kening saya. “Selamat sayang, you deserve it.” Kata – katanya tenang dan membuat saya percaya kalau ini bukan mimpi. Iya, saya akan terbang ke Bengkulu, menjadi salah satu dari sekian puluh blogger yang akan diajak berkunjung ke kotanya Bunga Rafflesia.

Berulang kali saya membaca program acara dan kebutuhan peserta selama mengikuti rangkaian acara Festival Bumi Rafflesia. Beberapa kali sempat merasa tak yakin, apalagi saat membaca program berkunjung ke konservasi Bunga Bangkai. Pikiran liar saya langsung menampilkan gambar hutan yang basah, licin dan banyak lintahnya. Saya bergidik ngeri, apalagi saat grup whatsapp yang dibuat oleh tim Alesha Wisata, travel agent yang akan menjaga dan menemani kami selama di Bengkulu, heboh dengan obrolan tentang pacet.

Untuk yang belum tahu, pacet adalah hewan yang mirip dengan lintah namun berbeda habitatnya. Kalau lintah banyak ditemukan di air sedangkan pacet tumbuh di habitat lembab dan di antara dedaunan serta pepohonan. Saya sengaja nggak posting gambar pacet karena geli banget ya ampun 🙁

Bukan cuma soal pacet yang membuat nyali saya menciut, tapi soal lokasi konservasi bunga bangkai yang katanya terletak di tengah hutan. Saya yang sama sekali belum pernah menjelajahi hutan langsung deg-degan dan bingung bukan main. Sempat berencana untuk mundur, namun untungnya sempat dicegah oleh Odi. Exhale, inhale, pengalaman yang belum tentu akan terjadi dilain waktu nggak mungkin saya lepaskan begitu saja. Akhirnya, saya memberanikan diri untuk tetap menjadi peserta famtrip kali ini.

***

Sesuai dengan arahan yang saya terima melalui email, subuh – subuh saya sudah sampai di pelataran Terminal 3 Ultimate. Ditemani Odi, saya langsung check in dan mencoba mencari teman – teman lainnya yang sudah berkumpul di dekat gate yang tertera di tiket. Setelah say good bye dan menjauh dari Odi, akhirnya saya bertemu dengan para peserta famtrip lainnya.

Begitu waktunya take off, saya sempat tertidur sesaat di pesawat. Perasaan khawatir dan deg-degan mendadak hilang. I’m ready to face it!

***

Sesampainya di Bengkulu, kami langsung disambut hangat oleh para tim Alesha Wisata dan teman – teman Blogger Bengkulu. Setelah semua peserta dari Jakarta dan Bengkulu berkumpul, kami langsung menuju ke bis yang akan mengantarkan kami ke destinasi – destinasi tujuan selama famtrip berlangsung. Saya duduk bersama Bernavita, food blogger yang kalau ketawa bisa bikin kuping sakit saking kencengnya hahaha.

Perjalanan siang itu lumayan bikin happy karena cuaca Bengkulu sangat bersahabat, cerah tapi nggak menyengat. Tujuan pertama kami adalah ke Kabupaten Kepahiang untuk berburu bunga bangkai yang sedang mekar. Sepanjang perjalanan, beberapa kali bis yang kami tumpangi melewati beberapa spot bagus. Salah satunya adalah Danau Dendam Tak Sudah. Sayang, karena bis nggak berhenti jadi nggak bisa motret ademnya pemandangan danau yang satu ini.

Beberapa puluh menit setelahnya, perjalanan kami mulai berlika – liku. Nggak ada lagi jalan yang lurus dan berganti dengan jalanan yang berada di pinggir jurang dan tebing. Perut mulai dikocok – kocok, untunglah saya sempat meminum obat anti mabok pemberian Bena. Rasa mual bercampur lapar membuat kepala saya semakin pusing. Niat untuk memejamkan mata pun tak berhasil karena kepala saya semakin pusing. Alhasil, saya mencoba menikmati pemangan dinding tebing yang berpadu dengan hijaunya pepohonan.

Beberapa menit kemudian, bis tiba – tiba berhenti dan parkir. Terlihat dengan jelas tulisan Rafflesia Mekar di pinggir kiri jalan. Dengan nyawa yang setengah sadar – karena sempat mau tidur – saya turun dari bis dan mengekor teman – teman lain yang sudah mulai menyusuri jalan setapak menuju lokasi Rafflesia mekar.

Dug, saya berhenti melangkah begitu melihat jalanan yang ternyata akan ditempuh berupa tanah merah yang lembab dan menurun. Bukan anak tangga yang akan membawa saya ke bawah, melainkan batang – batang pohon dan tali yang dijadikan alat pegangan darurat. Detik kemudian saya baru menyadari kedua tangan saya penuh dengan mirrorless, action cam, iPhone dan power bank. Duh.

Rafflesia Arnoldii
Rute menuju lokasi Rafflesia Arnoldii mekar

Dengan cara merambat saya mencoba untuk turun ke bawah. Sialnya, sneakers yang saya gunakan ternyata licin dan membuat saya berkali – kali hampir jatuh. Dan akhirnya beneran jatuh ke tanah saat keseimbangan mulai oleng. Sudah setengah jalan, dalam hati saya. Sudah bukan waktunya menyerah dan mundur lagi. Saya membulatkan tekat untuk kembali merambat, memegang tali kabel yang berhasil menjadi pegangan untuk orang – orang yang tidak terbiasa dengan medan seperti ini. Orang – orang seperti saya.

Sedikit lagi. Saya melirik ke arah kelopak bunga berwarna orange gelap yang menjadi objek foto para peserta famtrip. Itu dia, cantik ya? Saya mengagumi dalam diam, diantara suara degup jantung yang rasanya seperti ingin copot. Samar – samar tercium bau bangkai, bau khas bunga yang pertama kali ditemukan di tahun 1818 itu. Beberapa belas menit kemudian, dengan bantuan semesta dan kaki yang mulai gemetar, saya berhasil berdiri tepat di sebelah Rafflesia Arnoldii yang sudah 3 hari mekar.

Rafflesia Arnoldii
photo by: Alesha Wisata
Rafflesia Arnoldii
Photo by Alesha Wisata

Rafflesia Arnoldii

“Diameternya sekitar 60 sentimeter”. Begitu kata mas – mas yang menjaga dan menemukan si bunga untuk pertama kalinya.

Berjenis Arnoldii, bunga Rafflesia yang kami temui sudah berusia 3 hari. Menurut perhitungan, umurnya tersisa 4 hari lagi sebelum akhirnya layu dan mati. Beruntungnya saya, diusianya yang singkat sempat bisa bertatap muka dan berfoto walaupun harus berjuang antara hidup dan kepleset hahaha. Alhamdulillah, saya nggak nemu pacet. Rasa takut dan khawatir selama ini langsung musnah. Pyuh…

Rafflesia Arnoldii

Setelah puas berfoto – foto, kami langsung menuju ke rumah makan untuk makan siang dan mampir ke Taman Bunga Inaya serta Danau Mas Bestari yang famous se-antero Bengkulu. Saya akan cerita bagaimana indahnya taman bunga dan danaunya di postingan berbeda ya.

***

Langit mulai gelap saat bis kami kembali melewati jalur yang sama seperti saat ingin bertemu dengan si cantik Rafflesia. Kali ini bis kami menuju ke lokasi konservasi bunga bangkai yang lagi – lagi berada di Kabupaten Kepahiang. Tepatnya di Desa Tebat Monok.

Perjalanan berlika – liku yang lebih bersahabat, mungkin karena perut sudah kenyang dan saya dalam keadaan waras setelah sempat tertidur cukup lama. Bis kami parkir rapih di pelataran area konservasi yang ternyata masih milik perseorangan. Di sudut tempat parkir, terdapat warung kecil yang menjual makanan dan minuman ringan. Lebih ramah pengunjung, saya menggumam dalam hati.

Setelah turun dari bis, saya lagi – lagi memilih turun paling akhir menuju ke titik mekarnya si bunga bangkai. Tanah yang kering dan dibuat seperti anak tangga memudahkan saya untuk tiba di area konservasi. Tidak perlu turun, bahkan dari area parkir saja sudah terlihat jelas bunga bangkai yang tingginya sekitar 3 – 5 meteran ini.

Samar – samar tercium bau bangkai yang lebih ‘terasa’ dibanding saat sedang menengok Rafflesia pagi tadi. Menurut Pak Holidin, pemilik area konservasi, bunga bangkai berjenis Amorphophallus titanium ini sudah dalam kondisi layu dan akan mati. Makanya bau bangkainya pun nggak setajam kalau baru mekar.

Bunga Bangkai
Bunga Bangkai, Photo by Alesha Wisata

Oh ya, sebenarnya Rafflesia itu bukan bunga bangkai lho. Jadi si Amorphophallus inilah yang aslinya bernama Bunga Bangkai. Dinamakan demikian karena bunga ini mengeluarkan bau bangkai yang sangat menyengat saat sedang mekar hingga layunya. Menurut info yang saya dapat dari berbagai sumber, saat ini terdapat 25 spesies bunga bangkai yang tumbuh di Indonesia. Dan yang berhasil saya temui ini berjenis Amorphophallus Titanium.

Sayang, sore itu saya nggak sempat se-frame dengan si bunga bangkai karena kepala yang entah kenapa kleyengan bukan main. Mungkin karena sempat kebangun dari tidur atau memang lapar lagi hahaha. Menyesal rasanya nggak sempat foto bareng. Duh ya ampun, semoga bisa ada kesempatan untuk kembali bertemu dengan bunga yang bentuknya mirip kelamin pria ini ya 🙂

Beruntungnya saya, dalam satu hari bisa langsung bertemu dengan 2 bunga fenomenal; Rafflesia Arnoldii dan Bunga Bangkai. Kesan pertama, deg – degan dan excited gabung jadi satu. Pengalaman berharga yang bakalan saya kenang seumur hidup, nih. Soalnya biasanya saya traveling-nya ke area yang aman – aman aja. Kayak pas di Korea, scene dukanya pas lagi nenteng – nenteng koper aja sih hahaha.

Baca: Korea Trip. Jakarta – Korea 24 Jam!

Hari yang melelahkan tapi sangat menyenangkan. Pengalaman hari pertama selama menjadi peserta Famtrip Bengkulu benar – benar berkesan buat saya. Semoga suatu saat bisa kembali ke Bumi Rafflesia ^^

Special Thanks To:

Alesha Wisata – Bengkulu

Phone: 02736 – 346199

Website: alesha.asia

Instagram: @alesha.wisata

 

 

 

 

 

17 thoughts on “Jumpa Pertama Dengan Si Bunga Bangkai

  1. Emang sering salah kaprah antara raflesia dan bunga bangkai, wah btw antrean fotonya panjang bener ya. Demi si bunga langka mah gapapa jatuh bangun

  2. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan dan kesempatan yang akan susah terulang kembali ya Mba Putri. Indahnya keanekaragaman Indonesia khususnya bunga raflesia yang sangat langka. Semoga kelestariannya tetap terjaga.

  3. Huahaaa sama kali ya kayak Putri. Aku emang pgn bgt ikutan acara ini. Tp pas mikir akh hrs menjelajah hutan Bengkulu, becek dan tanah2an gitu, aku jd mikir lg.
    Tapi namanya pengalaman dan keberuntungan blm tentu akan datang lagi ya. Dgn memilih ikut malah gak nyesel ya Put 🙂

  4. pengalaman yang seru bisa menjelajah ke hutan dan semoga bisa menjadi tempat wisata yang menarik dan edukatif

  5. Senang plus serunya mbak, bisaa lihat langsung bunga raflesia dan bunga bangkai.
    Kalau saya masih sebatas lihat di gambar hihi
    Bener-bener pengalaman yang seru mbak. Kepengen ikutan acara ini masih punya bayik hehe

  6. Wah, seru banget Mbak! Saya bacanya nikmatin banget, jadi kayak napak tilas ke hutannya beneran. Belum pernah liat bunga bangkai secara langsung, cuma lewat buku pelajaran waktu SD. Beruntungnya! Semoga saya juga bisa ke tempat-tempat yang Mbak sebutin di atas; Danau Dendam Tak Sudah, Taman Bunga Inaya dan Danau Mas Bestari, aamiin.

  7. Saya salah kaprah selama ini. Saya kira rafflesia ya bunga bangkai.
    Sepanjang tahunkah bunga Raffelesia dan bunga bangkai berbunga di tempat konservasi? Kalau bisa dibudidayakan bisa menarik wisatawan datang tanpa menunggu entah kapan bunga itu berbunga.

  8. Duuuhh co cwit banget ya mba, mas odinya.

    Hoooo aku pikir bunga bangkai itu ya si rafflesia. Ternyta ada dua jenis ya? Klo rafflesia bentuknya megar sedangkan bunga bangkai itu yg kuncup manjang ya?

  9. Terkadang emang gitu sih ya kak, pas mau pergi, dr yg awalnya excited jd ragu. Aku jg pernah nemuin medan yg cukup berat pas nanjak di pulau Padar dan Gili Laba, ngedumel dlm hati pas nanjak ‘ini ngapain sih ikut kek ginian’, tp ya tetep naik dan nyampe di puncaknya hahaha!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *