Rahasia Dua Dunia

“Cinta memang selalu tahu kapan akan kembali mengingatkenangan, meski tak akan pernah terulang”
Perutku mulai rata kembali setelah dua bulan lalu aku melahirkan putera pertamaku. Aku sengaja melakukan diet ketat agar aku tetap bisa menjalankan aktifitasku kembali sebagai seorang pramugari. Hari Minggu selalu aku habiskan dengan bercengkrama dengan anak dan suamiku. Aku dan Odi adalah sepasang suami istri yang selalu menghabiskan enam dari tujuh hari dalam seminggu dengan berkutat dengan pekerjaan kantor. Anehnya, malam ini Odi tidur dengan memelukku erat seperti takut kalau – kalau akan kehilanganku…
 —

Aku masih menikmati wangi tanah sehabis hujan di beranda kamarku. Berulang kali aku mengambil dan menghembuskan napas dalam – dalam sambil memejamkan mata. Leherku terasa pegal dan berat seperti menahan beban padahal aku hanya mengenakan tanktop biru muda kesayanganku. Aku tetap mencoba untuk merilekskan badan dan pikiranku. Akhir – akhir ini pikiranku sungguh kacau, kerjaan di kantor berantakan, bos marah – marah dan parahnya cowok yang sudah 3 tahun aku sayang tega – teganya selingkuh sama sahabatku sendiri! Benar – benar di luar akal sehatku, dan itu membuatku cukup stress akhir – akhir ini.

Masih teringat jelas di memori otakku saat Joe memeluk Tasya, sahabatku sendiri dengan penuh kemesraan yang menjijikan! Aku benar – benar muak melihat mereka berdua, tega – teganya mereka mengkhianati ku dengan cara yang sekeji itu. Anehnya, setiap aku teringat kejadian memuakkan itu, tetes demi tetes air mata jatuh dari sudut – sudut mata sipitku. Aku sedih? Pasti. Kehilangan? Iya. Tapi aku terlalu muak untuk bertemu apalagi membahas masalah ini dengan mereka. Sejak sore kelabu itu, aku memutuskan sebisaku untuk nggak berhubungan apalagi bertemu sama mereka berdua. Aku sampai ganti nomer handphone, aku selalu diantar-jemput supir ku, padahal sebelumnya aku selalu menyetir mobil ku sendiri. Hidupku sudah berubah 180 derajat sejak kejadian itu. Anehnya, Joe dan Tasya tak pernah ada niatan untuk menemuiku, mereka memang benar – benar keterlaluan.
Tiba – tiba terdengar deru suara ambulan di depan jalanan depan rumahku yang membuyarkan lamunanku. Tanpa sadar cangkir teh yang ada digenggamanku meluncur dengan bebasnya dan membuat suara gaduh yang memecah keheningan teras kamarku.
“Non Jean nggak apa – apa?” Bi Inah dengan tergopoh – gopoh langsung lari ke arahku.
Aku hanya menggeleng sambil menyeka sisa – sisa aliran air mata yang ada di pipiku.
Bi Inah langsung membersihkan sisa – sisa cangkir yang sudah hancur tak berbentuk itu. Aku bangkit dari dudukku dan berjalan masuk ke kamar. Tiba – tiba aku merasa perih pada telapak kakiku yang ternyata menginjak serpihan cangkir itu. Tak peduli dengan rasa perihnya, aku tetap berjalan masuk ke kamarku. Aku menghempaskan tubuh mungilku di sofa busa yang berada tepat di seberang tv plasma, (satu-satunya hiburan saat aku bosan dengan social media) dan telah ada disini sejak aku berumur 5 tahun. Aku mengganti – ganti channel di tv selama 5 menit namun tak ada satupun yang menarik. Aku memutuskan untuk ke dapur mencari pengganjal perut yang mulai berteriak minta diisi. Mataku tertuju pada sepotong  rainbow cake yang ada di dalam kulkas. Sedetik kemudian, telepon rumahku berdering, dengan menahan rasa perih di kakiku, aku berjalan menuju gagang telepon yang ada di meja kecil di dekat meja makan.
“Hallo”, suaraku malas – malasan.
“Jean. Ini gue, Tasya.” suara itu terdengar agak ragu – ragu.
Aku mengambil napas, “Duh, ada apa lagi sih lo perebut-pacar-sahabat-sendiri? Gue sibuk gak bisa diganggu!” suaraku meninggi dan lebih menekankan kata perebut pacar sahabat sendiri sebagai sindiran untuknya.
“Jean, lo boleh marah – marah sama gue, tapi please dengerin gue dulu!”
“Duh sorry, gue sibuk!” ‘bruk’ aku menutup gagang telepon dengan kasar.
Aku kembali berjalan tertatih menuju sofa dan menaruh sepiring rainbow cake di meja kecil disampingku. Selera makanku langsung hilang seketika setelah menerima telepon itu. Aku jadi kesal sendiri, mood-ku berantakan. Akhirnya aku kembali membolak – balik acara di tv hingga akhirnya mata dan telingaku terfokus pada satu berita siaran langsung yang disiarkan oleh salah satu stasiun tv swasta.
“Terjadi kecelakaan di jalan Wijaya Jakarta yang menimpa seorang pengendara mobil ber-plat B 789…”
Aku langsung diam seribu bahasa saat gambar pembawa acara berganti dengan gambar sebuah mobil mini van yang sudah bersahabat dengan mataku sejak 3 tahun lalu. Air mataku langsung menetes saat tubuh seorang cowok digotong keluar dari mobil itu. Darah bercucuran dari kepala dan tangan cowok yang wangi tubuhnya masih aku hafal.
“Joe…” suaraku bergetar diikuti badanku yang melemas.
Suara dering handphone ku terdengar kencang, kakiku terlalu lemas untuk melangkah mengambilnya. Bi Inah dengan berlari langsung mendekati sofa tempat aku duduk.
“Non, ini ada telepon..” suaranya terdengar terengah – engah.
Tanpa melihat siapa yang menelepon, aku langsung menjawabnya dengan suara bergetar,
“Ha..llo”
“Jean, lo udah liat berita?”
“Udah…”
“Jean, gue di depan rumah lo, please keluar sekarang. Ada yang mesti gue jelasin ke elo.”
Aku tak menjawab dan langsung berjalan gontai menuju gerbang rumahku. Tasya yang melihatku langsung berhambur memelukku.
“Jean, maafin gue. Ini semua gak sesuai sama apa yang lo bayangin!”
Aku masih diam tak berkutik. Mataku menatap nanar lurus ke depan. “Lo ngomong apa sih?”  suaraku masih melemah namun aku sekuat hati untuk berusaha seolah – olah semuanya masih baik – baik saja.
“Lo ikut gue dulu. Joe butuh lo!” Tasya menarikku ke dalam mobilnya dan langsung menyetir dengan kecepatan diatas rata-rata.
Aku masih tetap diam, tak banyak bergerak hanya degup jantungku yang membedakan aku dengan mayat. Mukaku tampak pucat terlihat dari spion mobil Tasya yang jendelanya sengaja dibuka.
“Ini semua gak kaya yang lo bayangin, Je.” suara Tasya bergetar. “Lo tahu kenapa gue meluk Joe waktu itu?”
Aku tak menjawab dan tak bereaksi apapun.
“Itu kejadiannya 2 hari setelah lo balik dari Singapore. Saat itu gue butuh temen curhat. Bokap nyokap gue mau cerai, Je. Gue nyoba ngehubungin handphone lo tapi selalu gak bisa.  Gue gak tahu kalo ternyata lo udah balik. Akhirnya gue ketemu Joe di taman tempat kita biasa nongkrong. Dia yang dengerin curhat gue. Dia yang nasehatin gue. Waktu itu gue reflek meluk dia. Kalo lo mau marah, lo harusnya marah ke gue, bukan ke dia.” Tasya masih terus menjelaskan sambil matanya tak lepas dari kemudinya.
“Terus dia nyoba ngejar lo waktu itu, tapi lo ternyata udah pergi naik taksi. Dia ngejar ke rumah lo dan ternyata kata Bi Inah lo gak ada di rumah.”
AKu baru sadar karena setelah kejadian memuakkan itu aku langsung pergi ke rumah tante May, adik dari ayahku.
“Joe nyoba ngehubungin hp lo berkali – kali, tapi gak pernah ada yang nyambung. Dia bingung sendiri jadinya. Seminggu dia gak pulang dari rumah lo. Dia nunggu lo di garasi, bi Inah udah nyoba nyuruh dia buat masuk ke dalam rumah lo tapi dia nolak. Dia kehujanan, kepanasan dan cuma mau makan sekali sehari. Itupun dipaksa sama bi Inah.”
Mataku kembali mengeluarkan bintik – bintik air mata dari tiap sudutnya.
“Akhirnya dia pingsan dan dibawa bi Inah ke rumah sakit. Setelah diperiksa ternyata dia kena thypus dan lo tahu? Dia ternyata punya kanker otak stadium 3!” suara Tasya agak meninggi.
Aku masih terdiam seperti mayat hidup.
“Selama bertahun – tahun dia nyembunyiin penyakit itu dari lo, Je. Karena dia gak mau lo khawatir sama dia. Tante Ros yang cerita semuanya ke gue. Dan seminggu yang lalu, dia ngelihat lo sama cowok lagi pelukan di atas balkon kamar lo. Dia shock, Je! Dia cerita sambil nangis ke gue.” Tasya mulai menangis histeris. Emosinya tak terkontrol, matanya berkaca – kaca sambil urat – urat di leher nya menegang.
“Joe…” suara lirih keluar ragu – ragu dari tenggorokanku.
“Jean, hari ini rencananya Joe mau ngelamar lo. Dia udah nyiapin cincin buat lo. Tapi tadi dia hilang kendali, akhirnya mobilnya justru tabrakan sama mobil lain.” suara Tasya melemah.
Aku ingin memaki diriku sendiri atas semua kebodohanku. Bodohnya aku langsung percaya pada apa yang aku lihat tanpa memberinya kesempatan untuk membela dirinya sendiri. Bodohnya aku terlalu egois yg mementingkan perasaan ku sendiri. Ingin rasanya aku menghakimi diriku sendiri atas apa yang terjadi pada Joe.
Mobil Tasya sampai di parkiran rumah sakit swasta di bilangan Fatmawati. Aku berlari tanpa bicara sepatah katapun. Aku terus berlari ke arah Unit Gawat Darurat di rumah sakit itu. Di luar ruangan itu aku melihat tante Ros dan om Johan yang sedang menangis dan sambil berpelukan. Aku melihat bercak – bercak darah yang aku yakini milik Joe di lantai rumah sakit. Tante Ros yang melihatku langsung berjalan ke arahku, kemudian memelukku erat.
“Jean, Joe…” suara tante Ros tertahan.
Perlahan ia melepaskan pelukannya dariku. Lalu memberikan kotak merah kecil kepadaku. Setelah aku buka, ternyata isinya adalah sebuah cincin putih bermatakan berlian yang sangat aku kenal. Cincin itu adalah cincin impianku yang pernah aku tunjukkan pada Joe saat sedang berjalan – jalan di mall tahun lalu. Aku berjalan pelan memasuki ruangan bernuansa putih. Aku mencoba menguatkan hati dan pikiranku. Baru setengah jalan aku masuk, aku melihat sesosok tubuh tertutup kain putih yang mulai ternoda dengan bercak darah di bagian kepalanya. Aku langsung berlari memeluk tubuh itu.
“Joe!!!!! Please bangun, Joe! Aku mau minta maaf, Joe! Aku salah! Please bangun, Joe!” aku berteriak tanpa aturan, membuat beberapa suster dan petugas keamanan rumah sakit menarik paksa aku untuk keluar dari ruangan…
 —
“Sayang, kamu kenapa? Sayang, bangun sayang!” aku mendengar suara Odi di telingaku.
Aku terengah – engah setelah berjuang untuk dapat bangun dari mimpi burukku. Mimpi yang sebenarnya telah menjadi kenyataan dua tahun yang lalu. Ya, mimpi yang seharusnya tidak pernah menjadi kenyataan, namun aku tak boleh menyesalinya. Joe memang cinta lamaku, seorang pilot muda yang berhasil memikat hatiku selama 3 tahun sejak pertama kali kami bertemu. Mungkin perasaan bersalah di masa lalu membuatku terkadang mengutuk diriku sendiri. Aku memutuskan untuk memberi nama Joe Fabiansyah pada anak tunggalku, persis seperti nama Joe. Aku juga memutuskan menjadi seorang pramugari karena Joe selalu ingin agar aku menjadi pramugari. Joe memang telah pergi dan hidup kekal di alam berbeda, tapi rasa sayang aku kepadanya masih tetap sama dan tak pernah berubah bahkan ketika saat ini usia pernikahanku dengan Odi memasuki tahun kedua. Tapi Odi tak pernah tahu akan hal itu……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *