Jumat Curhat, MovieLovers, Review Film

Jumat Curhat #17: Sabtu Bersama Bapak

sabtu bersama bapak review

Sejak baca bukunya beberapa bulan lalu, saya jatuh cinta sama cerita Sabtu Bersama Bapak. Sebagai anak perempuan yang ditinggal Papa sejak kecil, buku ini seperti mengobati kangen saya ke Papa. Saya yang biasanya males baca novel tebel – tebel, selalu berusaha untuk cepet – cepet selesai. Rasanya kayak nanggung banget pas lagi baca dan ternyata ada klimaks yang ngeganggu kalau nggak dibaca sampai tuntas. Akhirnya saya menyelesaikan buku itu kurang dari satu minggu saat saya beli sewaktu staycation di Yogyakarta.

(Baca: Jambuluwuk Malioboro Boutique Hotel)

Setelah baca bukunya, entah kenapa feeling saya bilang kalau buku ini bakalan dibuat versi layar lebarnya. Dan beberapa bulan kemudian saya baca status si penulisnya kalau akhirnya buku ini dibuatkan filmnya. And I was like, my dream comes true! Seneng banget waktu tau filmnya akan tayang dalam waktu dekat dan trailer-nya mulai bertebaran di tv – tv. Sayangnya, keluarga saya nggak ada yang mau diajak nonton huhuhu. Sepupu – sepupu saya bahkan maunya nonton Finding Dory dan {rudy habibie} yang sudah saya tonton saat premiere-nya beberapa hari sebelum lebaran.

(Read more: Review {rudy Habibie})

Akhirnya saat hari pertama kerja setelah libur lebaran, saya mengajak Fika, teman kuliah saya yang kantornya persis sebelahan dengan kantor saya. Lucky me! Fika ternyata juga pengen nonton filmnya yang sama hihihi. Karena jalanan masih kosong banget dan sepertinya masih banyak orang yang ambil cuti lebaran, maka akhirnya kami sepakat untuk nonton Sabtu Bersama Bapak malam itu juga. Tapi, drama dimulai saat saya mengecek jadwal film tersebut hanya ditayangkan di salah satu mall yang cukup tua di kawasan Jakarta Pusat. Berbekal naik taksi online, akhirnya kami sampai di bioskop setengah jam sebelum film dimulai. And you know what? Hanya tersisa 2 row paling depan dan itu pun misah – misah duduknya. Saya di pojok kiri dan Fika di pojok kanan. Dan akhirnya kami nonton misah, saya diantara gerombolan anak SD yang berisiknya bukan main, sedangkan Fika diantara orang – orang yang sibuk pacaran hahahaha.

sabtu bersama bapak

SINOPSIS

Apa yang seorang bapak akan lakukan jika dia tahu hidupnya tidak akan lama lagi? Apa yang seorang istri akan lakukan, jika dia tahu sebentar lagi, dia harus menempuh semua tantangan hidup, sendiri? Apa yang seorang pria akan lakukan, jika dia harus tmbuh tanpa seorang bapak?

Gunawan Garnida (Abimana Aryasatya) memiliki jawabannya. Gunawan tahu dia tidak akan dapat melihat kedua anaknya, Satya dan Cakra, tumbuh. Gunawan memutuskan untuk melakukan sesuatu agar kedua anaknya tetap tidak kehilangan sosok bapak dalam hidup mereka.

Setelah dewasa, Satya (Arifin Putra) dan Cakra (Deva Mahenra) memiliki masalah mereka sendiri. Satya memiliki masalah dengan cara dia membina rumah tangga bersama Rissa (Acha Septriasha) dan Cakra mengalami kesulitan mencari jodoh. Ibu Itje pun tidak luput dari masalah, yang dia putuskan untuk dia jalani sendiri.

Apakah Gunawan, yang sudah lama berpulang, dapat menolong mereka?

REVIEW

Alur cerita film ini dibuat maju mundur, karena emang tema utamanya adalah pesan – pesan peninggalan sang Bapak yang sudah meninggal duluan. Tapi, penonton nggak akan bingung karena plot cerita dibuat sederhana dan mudah dipahami. Saya yakin, sekalipun nggak baca bukunya pasti paham banget cerita ini intinya kayak gimana. Mungkin emang sengaja dibuat simpel supaya penonton terhibur dan nggak perlu mikir sama alur cerita yang ribet atau bertele – tele. Apalagi film ini tayang saat libur lebaran, which is target utama penontonnya pasti keluarga.

Pemilihan pemainnya juga menurut saya smart banget. Arifin Putra mampu memerankan sosok Satya yang tegas dan terlalu banyak nuntut, begitu pula si istrinya, Acha Septriasa. Deva Mahendra saya acungi jempol karena berhasil memunculkan sosok Cakra (Saka) seperti bayangan saya selama ini. Sifat lugu dan apa adanya banget itu sukses bikin saya flashback ke beberapa momen yang bikin ngakak sekaligus penasaran saat baca bukunya. Yang bikin saya salut sih Abimana berhasil memerankan sosok Bapak yang kebapakan yang penuh cinta untuk keluarganya. Ditambah dengan akting Ira Wibowo yang cocok memerankan sosok Ibu yang keibuan banget. Bahkan peran – peran pembantu seperti Jennifer Arnelita dan Ernest Prakasa membuat film ini semakin hidup, nggak melulu soal kesedihan sang anak yang ditinggal bapaknya.

Sebagai orang yang sudah baca bukunya, sebenernya agak sedikit kecewa sih dengan filmnya. Tapi ya namanya buku difilmin, saya juga nggak akan berharap banyak dengan film ini. Seenggaknya, masih ada point – point penting yang muncul di versi filmnya.  Walaupun ada beberapa bagian yang menurut saya penting tapi ternyata dipotong juga. Saya nggak akan kasih spoiler apa – apa di postingan ini. As usual, review yang saya buat hanya berdasarkan apa yang saya rasakan as an audience.

Saya rekomendasikan film ini untuk siapa aja, asal 15 tahun keatas ya supaya menontonnya lebih nyaman. Soalnya kemarin saat menonton ada beberapa tangisan bayi yang cukup mengganggu. Bahkan segerombolan bocah SD di samping saya bener – bener ngeganggu karena berisik banget sepanjang film diputar. Nggak aneh sih di bioskop – bioskop sekarang mah film R alias untuk 13 tahun ke atas aja penontonnya kebanyakan anak – anak di bawah umur segitu. Padahal dulu waktu saya masih SMP which is 10 tahunan lalu, nggak ada deh istilah kami bebas beli tiket film – film ber-rating R apalagi D. Mbak penjual tiketnya pasti selalu minta KTP atau kartu pelajar sebelum beli tiket. Beda sekarang beda dulu lah ya nggak bisa dipaksain kayak jaman dulu juga hihihi.

Anyway, kalau nonton film ini buat yang gampang gegana alias gelisah galau merana saran saya sih siapin tisu ya. Karena akan ada beberapa adegan yang bikin mewek. Tapi, jangan lupa beli popcorn juga sih sama minumnya hihihi. Overall, happy watching! I know you will miss you papa after watching it.

Happy weekend!

 delapankata by putrikpm

Baca seluruh kumpulan postingan Jumat Curhat saya disini.

6 Comments

  1. Aku udah baca novelnya…dan ngerekomendasiin ini buat semua sahabat2ku yg cowo. Tapi mau nonton filmnya takut nanngis2 d bioskop. Nyari temen dl dah hahaha g mau ntn sendiri

  2. Li Partic

    Gak boleh gituuu. Aku bela2in bawa bayi demi penasaran film ini hahahahah.. untungnya ga berisik. Sepiiii banget malah. Kurang diminati di kotaku.

  3. Ending scene filmnya yang awalnya gw ga ngerti pas baca bukunya, tapi setelah nonton filmnya gw jadi paham alurnya..

  4. tadinya nonton ini udah siap2 bawa anduk buat kalo nanti baper di bioskop….eh ternyata kok banyakan kocaknya, jadi itu anduk gak kepake deh 😀

  5. Masuk wish list buat di tonton sih, soalnya udah baca bukunya dan sangat menghayati pula bacanya sampe brebes mili hahaha

  6. beneeeraaaan aku penasaran banget..lagi tunggu buku dan filmnya sampai NYC:)

Leave a Reply

Required fields are marked*