About My Life, About PutriKPM

Sepotong Cerita Dari Warung Tenda Bu Laksmi

“Bu, dadanya satu ya, pakai nasi biasa sama teh manis anget. Kamu apa, sya?”

“Kayak biasa aja.” Rasya menjawab singkat dan dingin.

“Mmm…” Doni berfikir sejenak, takut kalau ingatannya tak membantu mendinginkan keadaan dan akhirnya Rasya makin cemberut. “Pahanya satu lagi ya, bu!” Doni kembali berfikir mengingat nasi dan minuman yang biasa dipesan Rasya. “Nasinya uduk, minumannya es jeruk tapi jangan manis – manis soalnya kata pacar saya cuma saya yang manis banget.”

Rasya menahan tawanya, namun sepertinya Doni menyadari gerakan tubuhnya. Sambil mengusap mesra rambut wanita yang dicintainya, Doni menatap wajah Rasya.

“Kamu jelek Sya kalo cemberut gitu.” ujar Doni memelas. Namun suaranya terdengar sungguh – sungguh.

Rasya mencoba menengok ke luar tenda warung makan special ayam goreng yang menjadi langganannya menghabiskan malam setelah pulang kuliah bersama Doni sejak 3 tahun lalu itu. Matanya mencoba mencari – cari jawaban atas sikapnya sendiri. Rasya pun bingung kenapa ia begitu sebal saat Doni menceritakan rencananya untuk pindah kampus ke luar kota karena ada tawaran naik jabatan namun harus ditempatkan di kantor cabang lain. Harusnya Rasya senang karena Doni bisa naik jabatan yang artinya uang Doni akan semakin bertambah dan ia tak harus khawatir saat nanti menikah dengan pria berkacamata dan berlesung pipi itu. Namun di sisi lain hatinya, Rasya kesal saat harus terpisah dengan Doni.

“Aku nggak apa – apa.” Pembelaan percuma menurut Rasya, namun entah kenapa bibirnya terlalu bodoh untuk mengungkapkan kata yang sama sekali nggak mencerminkan perasaannya saat ini. Rasya tahu Doni pasti lebih memahaminya dibanding dirinya sendiri. Dalam suasana hati seperti ini, Rasya memilih untuk diam karena ia tahu saat mulutnya kembali bersuara, yang keluar hanya semua hal yang bertolak belakang dengan apa yang terjadi.

Untungnya, Ibu penjual ayam goreng yang sudah paham dengan keadaan beku diantara Rasya dan Doni hadir membawa 2 piring plastik berwarna merah. Si Ibu menaruh piring yang berisi dada ayam goreng renyah di depan Doni dan paha ayam yang digoreng garing di depan Rasya. Tak lupa si Ibu juga menaruh teh manis hangat dan es jeruk di depan keduanya. Doni hanya tersenyum simpul, si Ibu pun mengangguk mengerti.

Kedua piring dengan makanan yang masih hangat dan menggugah selera itu rasanya tak akan disentuh. Rasya mengelus perutnya, lapar tapi gengsi. Doni tersenyum kecut dan memilih mengaduk teh manis hangatnya.

“Sudahlah sayang, mending dimakan dulu deh ayamnya. Nanti kalo kamu mau ngambek atau gimana ya terserah. Kan kamu belum makan daritadi, lagian katanya kamu laper kan?”

Rasya mengangguk pelan. “Iya, laper.” Suaranya lirih dan terdengar sedikit memelas.

Doni malah tertawa terbahak – bahak. “Sya, aku tuh sayang banget sama kamu. Kalo kamu ngambek kayak tadi, aku jadi sedih.”

Rasya tersenyum. “Maaf ya, Don. Aku cuma….”

“Udahlah, nggak usah ngomong lagi. Dimakan tuh ayam favoritmu. Kemarin katanya kangen banget sama ayamnya si ibu. Udah buruan dimakan, kamu kan ogah kalo ayamnya udah nggak panas.”

Rasya hanya tersenyum tanpa menjawab. Pelan – pelan, diambilnya daging paha ayam favoritnya. Lalu dikunyahnya perlahan sambil sesekali matanya melirik kearah Doni. Seakan membaca pikirannya, Doni pun menatap kearah Rasya. Rasya langsung pura – pura melihat kearah yang lain. Entah mengapa ia belum siap kalau harus melihat mata coklat yang selalu dipujanya itu. Hatinya masih kelu dan egonya masih enggan menerima kenyataan bahwa dua minggu lagi ia akan berpisah dengan Doni.

“Sya, kamu inget nggak pertama kali pas aku ajak kamu makan disini kamunya nggak mau. Alesan kamu katanya nggak higienis-lah karena dipinggir jalan, nggak seenak ayam goreng di restoran mahal-lah dan masih banyak alesan lain yang intinya kamu nggak mau makan disini?”

Rasya mengangguk. “Padahal rasa ayam gorengnya si Ibu juara banget ya, Don.”

“Nah itu maksudku.” Doni berhenti sejenak, menyeruput teh manis hangat yang mulai hampir menjadi teh manis tanpa kehangatan.

Long Distance Relationship juga ibarat warung tenda ini, Sya. Kamu nggak akan tahu gimana rasanya sebelum kamu ngejalanin. Siapa tau nantinya setelah kita ngejalanin, kita malah makin sayang. Biasanya kalo kepisah gitu kan gampang kangen dan baru kerasa gimana perasaan kita masing – masing pas jauh. Tantangan yang kayak gitu malah bikin kita kuat, Sya. Hitung – hitung sekalian menguji kesetiaan kita.”

Rasya menghentikan makannya, matanya menatap Doni lekat – lekat. Memandang wajah pria yang selalu menemaninya kemanapun ia pergi. Pria yang selalu menuruti apapun keinginannya dan bahkan selalu menjadi target kemarahannya saat sedang bad mood. Rasya mencintai Doni seperti ia mencintai ayam goreng warung tenda si ibu.

“Kalo aku nggak maksa kamu buat makan di warung tenda ini, kamu nggak akan pernah nemuin ayam goreng yang kata kamu enak banget ini, kan?”

Rasya mengangguk, membenarkan kata – kata Doni. Tapi hati kecilnya masih mencari kebenaran, apa yang harus ia percaya, jalani dan lakukan. Rasya masih teramat takut kehilangan Doni.

“Tapi, Don. Banyak yang bilang LDR itu nggak enak. Aku di Jakarta, kamu di Jogja. Aku nggak tau kamu disana ngapain, apa bener kerja, apa bener kuliah, kan kamu bisa aja boongin aku.” Rasya mencari alasan. Sebenarnya, bulir – bulir air mata sudah hampir menetes di sudut – sudut matanya. Hanya saja ia masih mampu menahannya, lebih tepatnya ia tak ingin dianggap cengeng.

Doni tertawa. “Sya… Sya… Kamu kok gampang banget percaya kata orang? Sekarang gini deh ya, kamu bilang kamu takut aku bohongin? Lah, kamu pikir aku enggak? Kan bisa aja kamu juga bilangnya di kampus eh nggak taunya lagi jalan sama siapa gitu. Kita sama, sayang. Kalo kamu takut, aku juga. Tapi ini demi masa depan, Sya. Aku pengen ngebahagiain kamu, orang tua kamu jadi makin ngerestuin hubungan kita kalo kerjaan aku udah mapan.”

“Tapi, Don…”

“Sya, jangan pernah percaya kata orang lain. Mending kamu pikirin kata hati kamu, jangan peduli sama omongan orang. Sekarang gini ya, kalo aku bilang ayam goreng si ibu ini enak, apa kamu langsung percaya sebelum kamu nyobain sendiri?”

Rasya menggeleng. “Kamu kan suka ngeboongin aku. Bilangnya enak nggak taunya nggak enak abis.”

“Nah itu maksudku. Kamu nggak akan jatuh cinta sama ayam gorengnya si Ibu kalo kamu nggak nyobain sendiri. Sama kayak hubungan jarak jauh kita, kamu nggak bisa nge-judge nggak enak atau apalah kalo kamu nggak nyobain. Kita jalanin bareng – bareng, sayang. Kan bukan kamu sendirian yang punya perasaan, aku juga. Lagian ya, kalo bukan karena tawaran naik jabatan, aku juga nggak mau kali ninggalin pacarku yang cantik ini.” Rayu Doni sambil mencomot pipi Rasya gemas.

Rasya sengaja melanjutkan makan malamnya. Kali ini ayam goreng favoritnya terasa lebih lembut digigit, bumbunya pun terasa pas, nggak lebih nggak kurang. Hatinya merasa sedikit lega karena setuju dengan kata – kata Doni. Es jeruk favoritnya pun kini tinggal setengah gelas, Rasya kembali menemukan nafsu makannya yang sempat hilang.

“Tapi janji ya, kamu nggak akan nyakitin aku?” suara manja itu kembali terdengar di sela – sela suara garpu dan sendok yang bersentuhan dengan piring.

“Janji.”

Rasya tersenyum menatap Doni yang saat ini sedang memegang tangannya. Mengelus – elus telapak tangannya yang memang butuh sentuhan. Kali ini Rasya luluh dan percaya bahwa keajaiban hubungan jarak jauh yang akan ia jalani akan sama enak dan gurihnya seperti ayam goreng si ibu.

Di sudut warung tenda, Bu Laksmi memperhatikan dua sejoli yang sudah menjadi langganannya selama 3 tahun. Sesekali ia tersenyum, teringat akan kisah cintanya dengan Pak Bayu, pria yang menjadi cinta pertama dan terakhirnya. Namun lambat laun senyuman itu terlihat sendu. Bu Laksmi teringat dengan kebiasaan almarhum suaminya yang selalu mengajaknya makan di warung tenda pinggir jalan dan membeli 2 porsi ayam goreng setiap kali mereka habis bertengkar. Ayam goreng yang garing adalah obat peluruh rasa kecewa bagi keduanya. Entah sudah berapa ratus porsi ayam goreng yang mereka habiskan berdua.

Warung tenda ini pun adalah bukti cinta Pak Bayu terhadap istrinya. Pak Bayu selalu ingin memasak ayam goreng favoritnya sendiri. Dengan cinta dan kesabaran, Pak Bayu berhasil membuat Bu Laksmi selalu takjub dengan pengorbanan dan perjuangannya. Bu Laksmi ingat pesan terakhir Pak Bayu sebelum beliau wafat 5 tahun lalu.

“Bu, teruslah memasak ayam goreng yang enak di warung tenda kita. Biarkan para pasangan menyicipi cita rasa bumbu yang dimasak dengan cinta. Bapak percaya, bahwa ayam goreng kita selalu mampu meluluhkan perasaan marah dan kecewa, serta mampu menyebarkan kebahagiaan. Teruslah jaga warung kita seperti anak kita sendiri ya, Bu.”

Bu Laksmi menyeka air mata yang berhasil turun di kedua pipinya. Ia kembali menyibukkan diri menerima pesanan dari para pasangan yang baru saja hadir di warung tenda yang identik dengan warna putih itu. Ada sepasang muda – mudi yang datang dengan wajah kurang bersahabat. Keduanya memesan ayam goreng bagian dada lengkap dengan nasi uduk dan es teh manis. Setelah matang, Bu Laksmi memberikan 2 piring makan lengkap dengan 1 piring kecil sambal uleg buatannya.

Tak berapa lama kemudian, sepasang muda – mudi yang tadinya murungpun berubah lebih ceria. Keduanya saling bercanda, memuji dan sesekali saling mencubit manja. Bu Laksmi tersenyum sambil membenarkan kata – kata suaminya. Ia kembali ke sudut warung, duduk sambil sesekali menyeruput teh manis hangat dari gelas kuno berukuran lumayan besar. Gelas kesayangan almarhum suaminya.

Malam itu alam kembali tersenyum setelah sempat mendung. Alam seolah bersahabat dengan ayam goreng yang kini mampu meluluhkan perasaan benci menjadi cinta. Ayam goreng memang selalu memiliki hati bagi para penikmatnya.

Jakarta, 22 Maret 2015

Di sudut kamar dalam kerinduan yang teramat dalam.

Sebuah cerita sederhana untukmu yang di Jogja.

Terinspirasi dari seringnya kita rebutan kulit ayam kaepci.

Aku sayang kamu.

160111

23 Comments

  1. fie

    aaaiiiss……..lagi kangen nih yeeeeee….:P

    1. banget, Mak :”)

  2. LDR itu ngebuat perasaan cinta makin menjadi kalo ketemu kak :p
    muehehehe

    1. Ciyeeee… LDR ama sapah sih amuh?

  3. Jadi kalo yg jomblo gak bisa makan di situ yah? *mundur teratur deh wkwkwk

    Sweet bangeet :))
    terinspirasi dari kisah sendiri, keliatan nulisnya dari hatii banget hehe

    1. hihihih siapa tau bisa dapet jodoh disitu XD

  4. Menyentuh hati banget ceritanya hihihi…..Mba Putri punya bakat bikin cerpen nih 🙂
    LDR …..hmmmm enak gak enak ya tapi sebaiknya cepatlah nikah biar gak LDR 😀

    1. Dulu punya cita – cita pengen nulis novel cuma belum kesampaian, doaken semua terwujud ya teh ^^

      Doakeun aja semoga cepet lulus si aanya hahahha *tjurhat*

  5. Berat LDR udah pernah ngejalanin soalnyaah

    1. alhamdulillah sudah dan sedang menjalani :’)

  6. ikut aja ke Jogja biar gak LDR hehehe

    1. muahahha pengennya sih gitu, apa daya kerjaannya disini hiks

  7. Kereeen, cerpennya mengalir banget..
    eh klo lg kangen jgn langsung ketemu mbak..hehe

    1. terus kudu ngapain dong? 😛

  8. Yati Rachmat

    Huhuhuu…Rasya itu Bunda banget waktu remaja ting-ting…Cerita yang menyentuh tentang perlunya kesetiaan dalam menjalin sebuah hubungan. Keren, ini yang buat Cerita Kuliner tantangannya Cikgu Ani, ya. Wah, pasti masuk nih di kelompok 8, hehe…

    1. hihihi itu pun aku juga hahahaha^^ maklum lah cewek bunda, labil heheheh

  9. cerpen ini sih pengalaman batin penulisnya,
    mengalir, realistis, dialognya tidak kaku,

    jadi tampaknya memang cerminan nyata sesuai catatan di akhir

    tapi terlalu datar untuk sebuah cerpen,
    cerpen adalah fiksi, dan fiksi = fakta + imajinasi

    saya juga masih belajar sih, cuman mungkin nanti kalau buat lebih digali konfliknya,
    misalnya untuk cerpen ini, konflik batinnya lebih diperdalam,
    rasya ketakutan karena mungkin teman-teman di sekitarnya gagal dalam hubungan LDR atau apapun itu,

    oh yah metafora ayam gorengnya, saya ga dapat, mungkin saya harus baca ulang lagi.

    1. waaa terima kasih masukkannya, Mas Hilman^^
      Saya memang masih awam dalam dunia cerpen :)) Jadi makin semangat lagi, nih 🙂

  10. Kalo kangen jadinya mojok di tenda bu laksmi dong mak? #kepo..
    Ayo lanjutkan ceritanya.. Penasaran.. 🙂

  11. #Uhukk…rupanya lagi kangen. Sweet banget cerpennya Mbak.

  12. Beruntunglah kangen bisa jadi cerpen. Hihihi, dulu aku seringnya ngambek pas LDRan sama suami.

    1. Kadang mah ngambek dan berantem mbak. Ini mumpung otaknya lg beres aja makanya nulis wkwkw

Leave a Reply

Required fields are marked*