Tahun Ke-Empat, Mempertahankan Bukan Membiarkan

tahun keempat

Rasanya udah beberapa minggu saya vakum menulis Jumat Curhat. Kangen pengen curhat dan melampiaskan perasaan saya di blog ini. Makanya saya kepikiran buat nulis perjalanan hubungan saya dan Odi di tahun ke-empat, 2015 kemarin. Tapi, nggak mau nulis yang bagus – bagusnya aja. Soalnya tahun lalu malahan banyak ributnya hahaha. Ini beneran curhat securhat – curhatnya anak LDR yang mulai bingung hubungannya mau diapain dan digimanain.

2015 adalah tahun ke-empat hubungan Jakarta – Jogja antara saya dan Odi. Hubungan yang sudah kami lalui dari Januari 2011 lalu menjadi terlalu berat di tahun ke-empat. Semenjak Odi pindah kerja dan saya mulai banyak ngurusin klien dan event baru, disaat yang bersamaan pula hubungan kami merenggang. Awalnya kami mulai jarang teleponan – FYI, setiap jam 9 malam kami selalu asyik teleponan sampai tidur – dan akhirnya sering berantem. Mulai dari hal – hal sepele sampai ke hal – hal yang bikin pusing, restu orang tua. Hampir tiap bulannya, ada aja masalah yang datang ke kehidupan kami berdua. Masalah yang sebenernya berawal dari sesuatu yang kecil lalu berakhir dengan yang nggak menyenangkan sama sekali. Semua masalah datangnya bergantian, masalah yang A selesai, lalu muncul B, C, D sampai Z. Begitu seterusnya hingga kami berdua akhirnya mulai menyerah dan pasrah.

Di fase – fase perpisahan terpaksa itu kami berdua mulai sering menyalahkan. Pokoknya semuanya salah, nggak ada yang benar dan terkesan mulai saling nggak nyaman. Saya pun akhirnya berkali – kali jatuh sakit, karena saking capeknya nangis semalaman. Dan Odi juga mulai sakit, karena saking capeknya mendem perasaan. Semuanya bikin kami ngerasa, kayaknya semuanya sia – sia. And let’s we stop this stupid relationship.

Dan masa – masa selanjutnya setelah putus justru berakhir dengan flashback yang nggak berujung. Semua lagu yang ada di playlist selalu ada kenangannya sama dia. Semua film yang ada di laptop selalu ada hubungannya sama dia. Sampai makanan favorit dia pun selalu ada di menu makan siang saya sehari – hari. Rasanya semuanya percuma. Kita nggak bisa kayak gini. Masalah emang nggak pernah bisa diselesaikan dengan lari, harus diselesaikan berdua dengan kepala dingin, harusnya.

Akhirnya kami balikan sambil berusaha memecahkan masalah yang selama ini bikin pusing kepala. Nangis? Sudah tentu. Saya akhirnya sadar kalau saya benar – benar jatuh cinta sama dia, nggak sekedar butuh status aja. Dan Odi pun sama, dia menyadari kalau ternyata dia benar – benar jatuh cinta sama saya. Dan akhirnya kami saling sadar, kami harusnya saling mempertahankan bukan justru membiarkan.

Hari ini, tanggal kedua di tahun 2016. Kami duduk berdampingan di sebuah gerai kopi favorit saya – yang sekarang juga menjadi favoritnya. Saya menulis ini dengan ide dari dia, ide untuk memunculkan kembali segala kenangan dan masalah yang ada di 2015. Masalah yang harusnya kami hadapi, bukan kami hindari. Ditemani dengan dua gelas minuman berbeda rasa, Hazelnut Signature Chocolate dan Caramel Macchiato, kami berdua saling tertawa dan menertawakan tahun ke-empat. Tahun yang seharusnya jadi alasan kami untuk saling mempertahankan dan bukan membiarkan.

Tahun ini, kami memasuki tahun kelima. Ibarat bocah, kami sedang belajar lebih menyesuaikan agar terbiasa. Terbiasa dengan hubungan terpisah 500 kilometer dan terbiasa dengan rutinitas kami yang sudah nggak seperti dulu. Semoga kami masih kuat, dan semoga masih terus bersama.

I love you, dari wanita yang selalu kamu suka ketawanya 🙂

footer copy

Baca Juga:

20 Comments

  1. Pertahankan yang bisa dipertahankan mba, sebelum akhirnya tau sakitnya kehilangan. Dulu saya punya kekasih juga, 4 tahun kami menjalin hubungan, ditahun ke 5, Tuhan mentakdirkan kami berpisah, dengan cara yang sangat menyakitkan. Dia berpulang karena kecelakaan saat akan menemui saya di kota yang berbeda. Tapi, semua itu sudah berlalu. semoga mba dan mas selalu bahagia dan bisa bersama ya. 🙂

  2. Yakin kalau bersama kesulitan ada kemudahan, pelangi muncul setelah hujan deras, indah akan hadir di saat yang tepat. Nah…jadi sok puitis kan sayah. Semoga cinta mbak Putri dan mas Odi abadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *