Tentang Endorsement, Mengendorse dan Diendorse

“Sis, mau diendorse nggak sis?”

“Sis, aku mau endorse kamu nih, pm ya.”

Dan masih banyaaaaaak chat lainnya yang berhubungan dengan dunia endorse – mengendorse di media sosial, terutama di Instagram. Jangankan di akun selebgram yang punya followers belasan ribu sampai jutaan, di akun saya sendiri yang notabenenya baru ada seribu enam ratusan followers aja udah banyak banget komen – komen kayak gini. Nggak, kali ini saya nggak mau bahas kenapa semakin merajalelanya fenomena endorse sis ini, tapi cuma mau bilang kalau online shop atau siapapun yang memberikan barang ke orang lain yang akan memberikan opini bilangnya brand A meng-endorse si B. But wait, sebenernya apasih pengertian “ENDORSE” itu?

endorse

Endorsement (alternatively spelt “indorsement“) may refer to:

  • a testimonial, a written or spoken statement endorsing, promoting or advertising a product.

From Wikipedia

Yup, “Endorse” itu artinya menyetujui. Jadi kalau misalnya kita diajak kerjasama dengan sebuah brand, kita menjadi “Endorser” brand tersebut. Dan si brand akan “Di-endorse” sama kita. Simpelnya, saat beberapa bulan lalu saya sempat diundang oleh Rohto untuk mencoba produk skincare terbaru mereka. Saya bekerja sebagai “endorser” yang memberikan opini, pendapat, saran serta masukkan untuk produk skincare milik Rohto tersebut. Maka, saya mengendorse Rohto, sama artinya seperti Rohto diendorse oleh saya.

(Baca: My Current AM Skincare, Rohto Dermacept RX)

Launching Rohto Dermacept RX di KellesTree Ammara Clinic

Untuk masalah “mengendorse” dan “diendorse” ini biasanya selalu ada bukti tertulis. Mulai dari brief dan detail produk sampai ke kontrak perjanjian dan ditandatangani kedua belah pihak – kadang menggunakan materai. Semua proses ini disebut sebagai endorsement project.

Seorang endorser biasanya akan diminta sarannya – berupa postingan blog atau buzz di media sosial, dan akan ada nilai kontrak berupa barang dan rupiah. Nilai kontraknya pun tiap endorser itu berbeda. Ada yang harganya puluhan ribu sampai puluhan juta. Tergantung seberapa “nilai” endorser tersebut di media sosial. Kalau udah berhubungan sama KOL alias Key Opinion Leader alias influencer, nilai kontraknya akan berlipat ganda. Ya karena emang udah punya massa sendiri sih, ngetwit dikit yang nyamber puluhan bahkan ada yang sampai ribuan. Contoh tuh Kak @Amrazing yang harga pertwitnya beberapa kali harga paid post di blog ini hahaha.

Terus, ada yang pernah ke saya gini: “Kalau dikasih free product itu namanya endorsement bukan?”

Kalau saya boleh jujur, jawabannya nggak. Itu cuma giveaway aja. Kecuali ada perjanjiannya, ada uang tunainya sebagai “honor memberikan opini” dan ada ketentuan lainnya yang harus dipenuhi kedua belah pihak.

[update] tapi, kalau cuma ada barang tanpa uang namun ada kesepakatan dikedua belah pihak, ini bisa disebut endorsement juga kok. Intinya ada kesepatakan kerjasama yang dilakukan si pengendorse dan yang diendorse.

Untuk menjadi seorang influencer atau endorser, kita harus bisa meng-influence orang lain untuk merespon twit atau postingan kita. Jadi, followers banyak juga nggak ngaruh kalau isinya bot. Mendingan sedikit tapi emang orang yang follow kita ikhlas ngefollownya, tanpa paksaan apapun hahaha. 

Back to the topic, jadi sebenernya penggunaan kata endorse tuh yang bener gini.

“Sis, mau endorse produk aku nggak?”

“Sis, mau dong produk aku diendorse kamu.”

Yup, jadi kita sebagai para endorser jangan bilang kalau lagi diendorse sama brand. Karena kenyataannya kita yang mengendorse mereka, kita yang memberikan opini positif ataupun negatif untuk mereka di seluruh media sosial kita ataupun acara off-air. So, udah paham kan penggunaan kata endorse yang bener?

Anyway, ada yang notice nggak ini hari apa? Ini kan Jumat, dan harusnya ada Jumat Curhat hahaha. Tapi postingan ini juga bentuk curhatan kok. Curhat karena saya gerah banget sama mbak sis olshop yang heboh umbar – umbar komentar mau “endorse” selebgram atau selebtwit. So please mbak – mbak dan teman – teman sekalian, gunakan kata endorse yang benar ya. Jangan sampai salah lagi, ntar diketawain orang hahaha.

Udah deh segini dulu curhatannya. See you on my next Jumat Curhat!

header delapankata

Baca Juga:

45 Comments

  1. Sejak mula dengar endorse-mengendorse di kalangan blogger memang aku heran, sebutan subyek-obyek kebolak-balik.
    Karena sebelumnya aku udah kenal istilah endorser buku. Di dunia perbukuan nggak kebolak-balik gitu..hehehe..

  2. ternyata selama ini yg aku lihat di IG banyak yg salah tulis..
    terus aku jg baru tau ternyata endorse itu harus ada barang, uang dan kontrak. Klu cuma barang, bukan endorse namanya. kirain sama-sama disebut endorse, ternyata nggak.

  3. Pelajaran baru nih buat aku, semoga kelak pas ada yang mau ngendorse sudah terbekali oleh postingan ini. Nice information, Put. Keep sharing yaa 🙂

  4. Senyum-senyum sendiri baca post Mbak Putri. 🙂
    Selama ini banyak salah kaprah menggunakan istilah.

    Baru bikin usaha langsung disebut startup.
    “Meme” dibacanya me-me.
    Ya begitulah 😀

  5. Jadi kalau ada temen aku yang jualan kue, misalnya, aku bilangnya gimana?

    “Sis, bagi kuenya dong.” Gitu? Wkwkwk

    Atau, “Aku terima endorse lalu loh.” Bener nggak?

  6. makasihhh pencerahannya Puttt… gw juga sering denger ada yang ngomong, “gw diendorse nih sama brand…,” gatel pengen benerin, hihihi… next time aku kasih artikel ini aja berarti yah 🙂

  7. Suka baca postingan bermanfaat seperti ini Put.
    Memang sekarang ini era dimana teknologi mempecepat dan mempermudah segalanya, kita jadi lebih mudah — atau dimudahkan — pula mencari endorser yang sesuai dengan produk kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *