Berburu Timlo Sastro Di Solo Dan Menaiki Prameks Dari Yogyakarta

Tiket KA Prameks

Beberapa bulan lalu, saya sempat berlibur singkat ke Yogyakarta. Seperti yang udah – udah, saya selalu betah di Yogya. Walaupun cuma menginap beberapa malam di rumah Oma-nya Odi atau di hotel, Yogya selalu punya tempat di hati saya. Tapi berbeda dengan kali ini, saya ngebet banget pengen ke Solo. Walaupun cuma butuh sekitar 60 menit perjalanan dari Yogya dengan menggunakan kereta api lokal, tapi nyatanya saya nggak pernah ke Solo. Sedih banget kan? Padahal yang sering saya denger, Solo itu pusatnya kuliner peranakan. Mulai dari Timlo, Tengkleng dan berbagai jenis makanan lainnya. Setelah mempertimbangkan ini itu, akhirnya saya dan Odi nekat jalan berdua ke Solo. Berbekal GPS ponsel dan beberapa postingan blog milik orang lain yang saya temukan sewaktu mencari keyword kuliner favorit di Solo.

Drama Sebelum Menaiki Kereta Api Lokal, Prameks

Sekitar jam 8 pagi, saya dan Odi sudah ready berangkat ke Stasiun Tugu. Kami memang berencana untuk menaiki Kereta Api Lokal Prameks menuju Solo. Dengan muka sumringah, dengan PD-nya kami berjalan kaki dari hotel kami di daerah Prawirotaman menuju jalan raya. Baru setengah jalan, hujan tiba – tiba mengguyur kami tanpa ampun. Rambut dan baju kami berdua lepek. Untunglah ada minimarket dipinggir jalan, akhirnya kami berteduh sambil berusaha mencari taksi. Sayang, pagi itu kami berdua seperti terkena kutukan taksi. Jalanan pagi itu lumayan ramai dan semua taksi yang lewat sudah berpenumpang. Mood saya udah lumayan jelek. Akhirnya Odi berinisiatif memesan taksi by phone. Tapi ternyata nasib kami belum mujur, taksinya nggak dateng – dateng walaupun kami sudah menunggu selama 30 menit. Dan di beberapa menit selanjutnya, kami mendapat sebuah taksi yang kosong. Saya dan Odi buru – buru masuk dan langsung sibuk mengelap rambut dan wajah. Lepek banget!

Kereta Api Lokal Prameks, Yogya - Solo
KA Prameks tujuan Solo

KA Prameks

Sekitar jam 9, kami sudah tiba di Stasiun Tugu. Odi kekeuh minta turun di dekat Malioboro. Kami berjalan santai menuju loket dan ternyata tiket Prameks hanya bisa dibeli di bagian stasiun yang lain, di Jl. Pasar Kembang (SarKem). Whattheee…… Saya dan Odi panik sendiri. Setelah kehujanan hingga membuat kami lepek, sekarang kami malah salah stasiun. Dengan langkah males – malesan, kami berdua berjalan memutari stasiun menuju bagian penjualan tiket kereta api lokal. Untungnya kami sampai tepat waktu. Setelah membeli 2 tiket KA Prameks seharga masing – masing Rp 8.000,- kami langsung memasuki peron dan menaiki kereta berwarna kuning.

Saat memasuki KA Prameks, saya malah jadi flashback keingetan beberapa tahun lalu saat kereta lokal di Jakarta sebelum adanya commuter line. Saya inget banget, dulu sama temen – temen SMA naik kereta ke Stasiun Kota cuma 2 ribu perak. Di dalam gerbong Prameks, berjajar kursi berhadap – hadapan dan beberapa pegangan tangan untuk mereka yang nggak dapet tempat duduk. Suasana agak pengap langsung terasa, kipas angin yang menempel di langit – langit kereta pun nggak mampu membuat suasana gerbong sedikit segar. Keringat mengalir deras di wajah saya, Odi berkali – kali menempelkan tisu dan mengusap – usap bagian wajah saya yang berair. Aih, kalau lagi begini mau sepanas apapun saya betah berlama – lama hahaha.

Interior KA Prameks_DelapanKata_PutriKPM 2
Interior KA Prameks

Interior KA Prameks

PutriKPM di dalam KA Prameks_DelapanKata

Interior KA Prameks

Naik Taksi Di Solo Mahal

Sekitar satu jam kemudian, kami sampai di Stasiun Balapan Solo. Setelah kebingungan harus kemana, akhirnya kami memutuskan untuk mencari Timlo Sastro yang berlokasi di dalam Pasar Gede. Bolak – balik kami mengecek apakah bisa menggunakan Trans Solo atau angkutan umum lainnya. Tapi ternyata nggak ada orang yang bisa kami tanya, bahkan beberapa orang yang berada di sekitar halte bus pun geleng – geleng menjawab pertanyaan kami. Akhirnya kami memutuskan untuk naik taksi menuju Pasar Gede. Beruntunglah kami karena supir taksi yang kami tumpangi tau persis dimana letak Timlo Sastro yang melegenda itu. Sekitar 10 menit kemudian, kami sudah sampai di pelataran Pasar Gede yang dipenuhi lampion – lampion berwarna merah, khas sebelum perayaan Tahun Baru Cina. Saat hendak membayar ongkos taksi, saya memberikan selembar uang dua puluh ribuan kepada Pak Supir.

 “Kembaliannya ambil aja ya, Pak.” kata saya setelah melihat angka 13500 di argometer.

“Minimum transaksinya 25ribu, Mbak.” balas Pak Supir ramah sembari menunjukkan stiker informasi yang terpasang di dashboard.

Saya dan Odi langsung pandang – pandangan. Ternyata naik taksi di Solo mahal banget ya? Setelah memberikan selembar uang lima ribuan sebagai tambahan, kami keluar dari taksi. Dasar cewek nggak mau rugi, sepanjang jalan saya mengeluh karena mahalnya tarif taksi di kota kecil ini. Odi cuma bisa geleng – geleng dan lebih memilih memotret suasana Pasar Ged yang ramai namun tetap tertata rapih. Berbekal GPS, kami berjalan menuju arah belakang pasar. Awalnya sempat curiga, karena nggak ada tanda – tanda keberadaan tenda Timlo Sastro. Hingga akhirnya kami menemukan sebuah toko yang ditutupi spanduk berwarna biru dengan tulisan Timlo Sastro dibawah brand sponsor yang membuatkan spanduk tersebut.

Pasar Gede Solo

Timlo Sastro, Gurih dan Bikin Nagih!

Timlo Sastro Pasar Gede

Nuansa rumahan terasa kental di dalam toko yang berada di sudut Pasar Gede. Warung timlo yang sudah berdiri sejak tahun 1952 ini selalu ramai dikunjungi para penggemarnya. Saat kami datang memang nggak terlalu ramai, karena memang belum jam makan siang. Tapi lama kelamaan seluruh ruangan penuh oleh pengunjung. Untungnya konsep warung pinggir jalan ini hanya ditutupi spanduk seadanya, sehingga angin semilir bergantian masuk. Nggak bakalan takut kepanasan, deh. Apalagi makannya ditemani dengan alunan musik kroncong yang dimainkan oleh satu grup pengamen jalanan.

pengamen keroncong di timlo sastro_delapankata_putrikpm

Saya memesan 2 porsi Timlo Komplit dengan segelas est teh manis dan segelas es teh jeruk. Odi juga mengambil sebungkus kerupuk yang ditata rapih di atas meja. Selain Timlo Komplit, ada juga Timlo Rempelo Ati (hati ayam), Sosis Rempelo Ati, Telor Sosis, Rempelo Ati Kuah, Sosis Kuah, Telor Kuah atau hanya Nasi dan Timlo aja. Harga per porsi Timlo Sastro mulai dari 7 ribuan. Untuk Timlo Komplit harganya Rp 19.000,- Anyway, sudah tau apa itu Timlo? Timlo adalah sup bening yang isinya berupa telur, daging (bisa ayam ataupun sapi), dan juga sosis. Makanan ini juga menjadi makanan khas Solo.

timlo sastro_delapankata_putrikpm 2

Timlo Sastro Pasar Gede

Timlo Sastro Pasar Gede

Sebelum makan, saya mencicipi kuah beningnya. Ternyata rasanya enaaaak banget. Gurih dan rasa kaldu ayamnya terasa. Saya lebih suka makan Timlo Sastro tanpa tambahan kecap atau sambal, hanya kuah bening yang gurih saja. Odi lebih suka menambahkan kecap di mangkuk Timlo-nya. Rasanya pun nggak jauh berbeda, hanya lebih manis sedikit. Enak! Kalau ke Solo, saya rekomendasiin kalian untuk mencoba Timlo Sastro ini. Makan semangkuk pun sudah kenyang, padahal awalnya saya berpikir untuk nambah karena melihat porsinya yang nggak terlalu besar. Ternyata makan semangkuk saja saya kewalahan hihihi.

Timlo Sastro Pasar Gede

Setelah selesai menyantap Timlo Sastro, kami berencana menuju ke Pasar Klewer untuk berburu Tengkleng. Kami melewati tugu yang berada persis di depan Pasar Gede. Lampion – lampion berwarna merah dan kuning menghiasi langit Solo. Kami pun melewati jejeran penjual buah disekitaran Pasar Gede. Kalau nggak kuat iman, saya pasti udah memborong buah – buahan yang seger – seger banget. Ditemani rintik – rintik hujan, kami berjalan kaki ke arah Pasar Klewer yang letaknya berdekatan dengan Alun – Alun Solo. Sayang, setelah berjalan sejauh kurang lebih 3 kilometer, kami nggak menemukan lokasi kedai Tengkleng yang disebut – sebut sebagai salah satu warung Tengkleng terenak. Akhirnya kami memutuskan untuk langsung kembali ke Stasiun Solo Balapan dan kembali ke Yogya.

Pasar Gede Solo

lampion di pasar gede_delapankata_putrikpm 2

Pasar Gede Solo

Pasar Gede Solo

Pasar Gede Solo

Pasar Gede Solo

Hujan membasahi Solo siang itu, untungnya kami mendapatkan KA Prameks ber-AC, mirip seperti commuter line yang bersliweran di Jakarta. Dingin langsung membekap kami di dalam gerbong yang cukup sepi. Saya memilih untuk tidur di pundak Odi, ngantuk dan capek berat. Tapi saya seneng banget bisa muter – muterin Pasar Gede yang sedang cantik – cantiknya. Ah, menulis artikel ini membuat saya jadi kangen sama Solo. Kangen banget sama suasana orang – orangnya yang ramah, kangen sama Timlo Sastro yang gurih dan bikin nagih, kangen naik KA Prameks, tapi nggak kangen sama taksi yang argo minimumnya mahal banget hahaha.

KA Prameks
KA Prameks dengan AC, mirip kereta ekonomi jarak jauh :D

Teman – teman ada yang sudah pernah ke Solo dan mencoba Timlo Sastro? Atau ada yang sudah pernah makan Tengkleng? Rasanya gimana sih? Saya penasaran banget hihihihi. See you on my next post!

putrikpm

Baca Juga:

24 Comments

  1. Aduh Mba cb tanya aku…, kalau dari Balapan mau ke timlo sastro harus naik trans solo dua kali. Lebih enak, turun di purwosari, naik bst no 1, dan turun di pasar gede. ke timlo sastronya tinggal jalan dikit. Keluar stasiun, tinggal belok kiri, trus ke halte.

  2. Waahh prameks emang legend banget deh. Aku selalu naik Prameks tapi dari Kutoarjo ke Solo. Kalo pas penuh pengap dan panas banget emang.

  3. ahhhh aku mupeng sama makanannya mbak…
    citarasa kuliner khas yogyakarta emang ga ada duanya hhee

    ehh btw mahal bner itu tarif taksinya mbak ehee

  4. ahaiii.. saya juga pernah muter-muter di Solo, nyari alamat rumah temen saya. beberapa kali nanya orang, semua pada geleng-geleng nggak tau.
    cuma saya nggak sempat ngerasain Timlo Sastro ataupun tengkleng

  5. Solo dan kulinernya gak ada matinya. Kemarin ke Solo aku gak mampir ke Pasar Gede, gak cukup waktu. Dan aku belum pernah naik kereta Pramex, Mbak. Duh senderan di bahu yg tercinta sambil naik kereta itu romantis banget lho 🙂

  6. Aq sering pulang kampung ke rumah mertua di solo tapi belum pernah makan timlo sastro, nanti Klo pulang ke solo lagi mampir ah ke timlo sastro, baca ulasannya bikin aq ngiler banget.

  7. Pingback: Bermalam Di Hotel Neo Malioboro – PUTRIKPM // a daily-life blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *