Tips Cerdas Menggunakan Obat

tips cerdas menggunakan obat

Saya tergolong tipe orang yang daya imunitasnya rendah, jadi dikit – dikit sakit. Capek sedikit langsung sakit, kehujanan sedikit langsung sakit, dan biasanya badan saya kalau sudah sakit ya beneran ngedrop. Buktinya saya sudah 2 kali masuk rumah sakit dan dirawat, beberapa tahun lalu karena DBD plus gejala thypus dan beberapa bulan lalu harus operasi usus buntu. Karena daya tahan tubuh saya yang rendah itulah makanya kadang orang tua saya cemas. Kalau saya ngeluh sedikit tentang kondisi saya, mereka pasti bakalan langsung nyuruh saya ke dokter – atau ke apotek untuk beli obat. Sebenarnya saya risih, karena saya nggak terbiasa minum obat. Dari kecil sampai segede gini saya masih kesulitan minum obat, kudu pake perangsang kayak pisang atau teh manis. Kalau asal minum pake air putih biasa, dijamin obatnya bakalan saya keluarin lagi dalam bentuk yang enggak enak dilihat huhuhu.

Saya menyadari, sebagian dari kita (dan kadang saya sendiri) masih suka salah kaprah dengan menggunakan obat – obatan. Sedikit – sedikit minum obat, batuk sedikit minum obat, nggak enak badan langsung ke dokter. Yang paling parah sih, asal minum obat warung atau obat – obatan yang dijual bebas di pasaran tanpa pernah tau apa isi kandungan dan manfaatnya. Jangankan tau, kadang emang nggak peduli dan nggak nyari tau gara – gara kemakan isi iklan yang sebenernya kadang nggak 100% benar. Udah banyak kasus kan kalau salah minum obat berakibat fatal? Terus masih nggak mau peduli sama obat – obatan yang masuk ke tubuh kita?

Jpeg
Pardon my selfie, I forgot bring my lipstick -_-

Kebetulan weekend kemarin saya sempat hadir ke Pameran Pengembangan Kesehatan 2015 yang diselenggarakan di JIEXPO Kemayoran Hall C1 – C2. Pameran ini diadakan dalam rangka perayaan Hari Kesehatan Nasional KE – 51. Di acara tersebut ada lebih dari 150 stand kesehatan dari berbagai pihak, ada yang dari pemerintah, swasta hingga berbagai macam brand apotek kenamaan. Dari banyaknya stand, saya justru betah berlama – lama di stand milik BINFARALKES yang ternyata sedang menjalankan kampanye GeMa CerMat. Nama kampanye ini diambil dari singkatan Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat. Baru denger kepanjangannya, saya langsung memutuskan untuk bergabung, kenapa? Seperti yang saya bilang di atas, masyarakat kita kurang aware sama masalah obat – obatan. Dan sebenernya, kalau nggak sesuai kebutuhan, obat itu akan menjadi racun yang merugikan.

Jpeg
Stand Binfaralkes

Siapa saja bisa bergabung di GeMa CerMat, termasuk saya ataupun keluarga saya. Saya ikut gerakan ini karena ingin memasyarakatkan budaya “nggak gampang minum obat” khususnya di keluarga saya sendiri. Untungnya dulu saya pernah beberapa bulan bekerja di sebuah apotek, jadi seenggaknya saya tau dikit – dikit lah manfaat dan efek samping dari obat yang banyak beredar di pasaran. Di postingan ini juga saya ingin mengajak teman – teman untuk lebih mengenal dan memahami obat – obatan sebelum mengkonsumsi. Beberapa penjelasan saya ambil dari pemaparan para narasumber saat Talk Show GeMa CerMat di pameran kemarin ya.

5 tips cerdas menggunakan obat
5 Tips Cerdas Menggunakan Obat

Sudah Kenalan Sama Obat Belum?

Dulu, pas saya masih memakai baju kebanggaan di apotek, saya sering banget nemuin orang yang beli obat tapi nggak tau obatnya buat apa. Kebanyakan sih mereka beli karena melihat iklan di tv, terus karena ngerasa gejalanya sama jadi mereka beli deh obatnya. Padahal sebenernya penyakit yang mereka alami nggak sesuai dengan obat yang dibeli. Jadi, saya lebih suka untuk menjelaskan dengan detail obat sebelum mereka benar – benar memutuskan membeli. Pernah ada kasus, anak remaja usia belasan beli dextro (sebutan untuk dextrometorfan yang digunakan untuk meredakan batuk) dalam jumlah banyak. Saya awalnya nggak ngerasa aneh, setelah tanya sama apoteker dan dokter praktek, ternyata obat itu disalahgunain. T___T saya akan jelasin efek samping dextro di bawah ya. Intinya saya ngerasa nyesel karena nggak paham manfaat atau gunanya obat itu apa. Saya kasih beberapa informasi tentang kegunaan obat – obat yang biasa ada di pasaran ya:

  1. Paracetamol -> menurunkan demam dan sakit kepala
  2. Asam mefenamat -> pereda nyeri dan sakit gigi
  3. Ekspektoran -> mengencerkan dahak

Oh ya, salah satu yang menjadi poin penting GeMa CerMat adalah bebasnya penggunaan antibiotik. Nggak sepenuhnya salah memang kalau seorang dokter meresepkan antibiotik bagi pasiennya. Tapi, sesuai dengan penjelasan Dr. Purnamawati Sp.Ak saat acara talk show kemarin, nggak semua sakit disembuhkannya dengan minum obat, apalagi minum antibiotik. Sebenarnya ada banyak alasan mengapa kita meraka kurang enak badan, bisa jadi karena kelelahan, dehidrasi atau kurang minum air putih dan kurang olahraga. Masalah antibiotik ini jadi serius karena di beberapa kasus, antibiotik tak hanya memusnahkan bakteri jahat tapi juga mematikan yang baik. Kalau kejadian seperti ini terus terjadi berulang – ulang, bisa mengakibatkan rusaknya beberapa fungsi organ tubuh. Bahaya kan?

Jpeg
Pembicara Talkshow (ki-ka): Mbak Mira Sahid (MC), Dra. Azizahwati, dr. Purnamawati Sp.Ak, dan Drs. Bayu Teja Muliawan, Apt, M.Pharm,

Jadi, disarankan oleh Dr. Pur (sapaan akrab Dr. Purnamawati Sp.Ak), biasakan bertanya kepada dokter. Budayakan kritis demi kebaikan diri sendiri. Nggak ada salahnya curhat colongan sama dokter tentang kesehatan diri sendiri, kan? Nenek saya sudah saya ajari untuk kritis, alhamdulillah di usia 60an tahun beliau sudah paham obat apa yang boleh dan tidak boleh diminum karena beliau memiliki riwayat hipertensi. Saya pun demikian, saya punya beberapa alergi terutama dengan obat yang mengandung ibuprofen. Jadi setiap ke dokter saya selalu meminta resep obat yang nggak mengandung ibuprofen.

Cek Tanda Kemasan

Saya percaya masih ada orang yang nggak paham logo lingkarang berlatar hijau, biru atau merah dengan huruf K yang tertera di kemasan obat. Padahal, itu adalah tanda dari obat tersebut. Saya belajar ilmu ini sejak dulu dan diingatkan kembali oleh Dra. Azizahwati yang merupakan Ketua Umum Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) yang juga menjadi pembicara dalam talkshow GeMa CerMat.

  • Lingkaran dengan latar belakang warna hijau berarti obat tersebut adalah obat bebas, dapat dibeli di apotek atau minimarket terdekat tanpa resep dokter. Lambang ini umunya ditemukan di beberapa kemasan obat warung. Contohnya: Paracetamol, Panadol merah, Panadol biru, Panadol sirup anak, dan Bodrex.
  • Lingkaran dengan latar belakang warna biru berarti obat tersebut adalah obat bebas namun terdapat tambahan bahan aktif lainnya. Beberapa obat ini bisa dibeli bebas, beberapa lainnya ada yang harus menggunakan resep. Contohnya: Combantrin, Konidin, Ultraflu, dan Panadol Hijau.
  • Lingkaran dengan latar belakang warna merah (kadang ditambahkan dengan huruf K) berarti obat tersebut adalah obat keras dan pemakaiannya diwajibkan dengan anjuran atau resep dokter. Contohnya: antibiotik, simvastatin, kalmethasone, obat anti depresan dan sejenisnya.

Cek Kandungan atau Komposisi Obat

Sama seperti kenalan dengan obat – obatan, kita juga harus mengerti kandungan obat yang akan masuk ke tubuh. Kenapa? Dengan mengecek kandungan, kita belajar memahami manfaat obat tersebut, plus kalau misalnya dokter salah kasih dosis, kita bisa komplain atau bertanya. Dosis obat yang diberikan ke masing – masing pasien itu berbeda loh ya, jangan disamakan. Ada beberapa orang yang terbiasa asal gerus obat dosis tinggi untuk diberikan ke anak, salah potong bisa mengakibatkan salah dosis juga kan? Jadi yuk biasakan baca kandungan obat yang tertera di kemasan. Atau biasanya ditulis dengan bahasa Inggris yaitu ingredients.

Jpeg
Contoh Komposisi atau Kandungan Obat

Pahami Efek Samping

Saya pernah mengalami BAB darah dan akhirnya lemes seharian. Saya ingat kalau penyakit ini kambuh saya harus memasukkan obat berbentuk peluru ke dalam (maaf) anus saya. Karena Nenek saya panik, akhirnya langsung memasukkan obat yang diberikan dokter, 30 menit kemudian sekujur badan saya memerah dan gatal. Ternyata obat peluru yang dimasukkan ke anus saya mengandung ibuprofen dan saya alergi terhadap obat itu. Ternyata bahaya banget kan kalau kita nggak tau efek samping dari obat yang kita minum? Biasanya keterangan efek samping ada di kemasan obat. So biasakan membaca keterangan yang tertera di kemasan supaya nggak panik kalau ada efek samping yang terjadi ya. Lalu segeralah ke dokter kalau sudah menemukan reaksi yang aneh di tubuh setelah mengkonsumsi obat.

Oh ya seperti yang saya bilang di atas, ternyata para remaja menyalahgunakan obat dextro untuk diminum secara berlebihan dan menyebabkan halusinasi (bahasa gaulnya ngefly). Setelah saya tau, saya langsung marah – marah sendiri sama para remaja itu, tapi mereka cuek bebek sama saya T_T Semoga mereka tobat dan kapok. Soalnya efek sampingnya bisa permanen loh. Akibatnya daya pikirnya kacau dan masa depannya bisa berantakan. Kan kasian 🙁

Taat Minum Obat Sesuai Anjuran

Siapa yang masih asal minum obat saat disuruh minum 3×1 hari? Misalnya gini, minum obat pas sarapan jam 8 pagi, terus minum lagi pas makan siang jam 1 dan terakhir minum obat pas mau tidur sekitar jam 9 malem. Kebayang nggak gimana berantakannya aturan minum obat kita? Soalnya saya dulu gitu hahahaha. Untungnya kemarin saya nyimak penjelasan Dra. Azizahwati, minum obat itu harus ada hitungan jamnya. Jarak antara minum obat pertama, kedua dan ketiga minimal 7 jam. Contohnya minum obat pagi jam 7, lalu minum obat siang sekitar jam 2 siang, nah untuk minum obat yang terakhir jam 10 malam. Untuk jarak minum obat dari tidur sampai baru bangun lagi bisa diperpanjang karena proses pencernaan tubuh pas tidur itu melambat.

Selain anjuran pemakaian, ada juga aturan minum. Pastikan obat itu diminum sebelum atau sesudah makan. Kalau misalnya obat yang harus diminum sebelum makan terus lupa dan keburu udah makan, tunggu hingga 2 jam setelah perut kembali kosong dan baru minum obat. Ada obat puyer yang harus dicampur dengan air sebelum diminum atau ada juga obat yang dikunyah. Ada juga obat yang dimasukkan ke dalam anus atau disuntikkan di titik tertentu.

Masalah taat minum obat ini juga penting bagi yang mendapat antibiotik. Soalnya, antibiotik itu harus dihabiskan. Kalau nggak dihabiskan, obatnya jadi resistan dan nggak ada gunanya diminum obatnya -__-

Mulai sekarang yuk kita sama – sama belajar, mengenal dan memahami obat sebelum mengkonsumsi supaya nggak ada lagi salah kaprah atau salah konsumsi obat. Tapi, budayakan jangan dikit – dikit minum obat. Rajin olahraga dan perbanyak minum air putih bisa ngebantu tubuh jadi nggak gampang sakit loh. Stay healthy and stay fabulous ya guys!

footer copy

0 thoughts on “Tips Cerdas Menggunakan Obat

  1. Saya ini tipe orang yang malas minum obat, dan suka lupa deh kalau minum obat yg rutin. Makanya saya cenderung menghindari antibiotik (bahkan buat anak-anak) kalau nggak perlu-perlu banget. Kalau cuma flu mah, anak-anak biasa saya kasih vitamin, banyak makan dan istirahat aja. Sebisa mgkn gak pake obat deh pokoknya. Tfs mbak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *