IBX581FD685E3292

Search results for

review film

rudy habibie 2

Sebenarnya, saya termasuk pilih – pilih kalau soal nonton film Indonesia di bioskop. Sebelum menonton, saya selalu usahakan baca sinopsis dan trailer-nya, plus baca review – review yang sudah bertebaran di internet. Termasuk ketika pertama kali saya menonton Habibie & Ainun yang tayang tahun 2012 lalu. Setelah menonton, saya bahkan rela berburu bukunya. Dan perburuan saya nggak sia – sia, di bukunya tertulis banyak cerita yang lebih dalam dan bikin perasaan campur aduk. Sejak saat itu, saya benar – benar jatuh cinta pada sosok Pak Habibie. Apalagi menurut saya Reza Rahadian sukses menjadi Rudy Habibie, baik cara ia berjalan apalagi saat berbicara dengan logat Jermannya yang pas. Telat memang, setelah ada filmnya saya baru mengidolakan seseorang yg memang luar biasa besar jasanya bagi Indonesia. Tapi, bukannya nggak ada kata terlambat? Dan bukannya lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?

Share:

Finally, gue dapet undangan screening dari AnakNonton karena menang kuis yang mereka adain. Untungnya, salah satu temen gue (Dhiko), juga menang kuis ini so gue nggak sendirian banget nontonnya. Perjalanan menuju tempat screening di XXI Plaza Indonesia sore itu macet parah. Gue harus ngerogoh kocek sekitar 70rb untuk naik taksi dari kantor yang lokasinya di Wr. Buncit. Pfffttt. Tapi semua kebayar karena ini screening, jadi gue merasa beruntung jadi salah satu orang biasa yang pertama nonton Hercules di Indonesia. Yeay! *joget-joget*

hercules_ver2_xlg

Hal yang pertama kali bikin gue excited nonton film ini adalah Dwayne Johnson sebagai pemeran Hercules. Ihiy, ngeliatin otot si mas Dwayne bikin jantung mau copot :3 dan ternyata filmnya seru abis! Sebelum baca review gue, nih gue kasih sinopsisnya:

Setelah melegenda selama 12 tahun, Hercules, yang diyakini memiliki jiwa setengah dewa Yunani (Zeus), memilih hidup sebagai pahlawan bayaran saat raja Thrace dan putrinya mencari bantuan untuk mengalahkan panglima perang tirani.

Review:

Film bergenre action – adventure yang berdurasi 98 menit ini nggak hanya menampilkan adegan – adegan kekerasan. Walaupun gue percaya bahwa film ini memang ditujukan untuk penonton dewasa tapi kehadiran para pengikut setia Hercules justru menambah sisi – sisi humor dan menyentuh di bagian – bagian penting filmnya. Contohnya si matre Autolycus yang diperankan oleh Rufus Sewell, si manusia setengah hewan Tydeus yang tak bisa bicara dan diperankan oleh Aksel Hennie, si cantik namun jago memanah si Atalanta yang diperankan oleh Ingrid Bolso Berdal, dan ada seorang keponakan Hercules yang gue lupa namanya. Dia jago cerita tentang legenda Hercules walaupun 80% dari ceritanya itu lebay.

Hercules-Featured

Hercules emang udah jadi legenda dari gue kecil kalau dia itu emang kuat banget dan nggak ada satu orangpun yang bisa membunuh dia kecuali para dewa. Tentu aja, di film ini adegan kekerasan nggak tanggung – tanggung. Gue saranin untuk yang punya phobia sama darah dan nggak suka sama adegan kekerasan yang kacau banget mending nggak usah nonton deh. Ciyus!

123a

Satu hal pelajaran yang gue petik dari film ini, kita jangan mudah percaya sama orang yang baru kita kenal. Apalagi kalau dia minta tolong dengan imbalan yang gede banget. Ngebantu orang itu nggak harus pake imbalan kan? Hal itu juga yang membuat Hercules sadar. Awalnya dia membantu raja Cotys namun setelah ia menyadari ada yang salah akhirnya ia berupaya agar raja Cotys lengser. Kenapa? Nonton aja filmnya 😛

Rate: 8/10

Share:

Tanggal 1 Mei yang dirayakan sebagai May Day oleh para buruh se-dunia jadi sebuah kelegaan buat gue, kenapa? Karena tanggal 1 Mei lalu bertepatan dengan hari Kamis. Biasanya, setiap hari Kamis jalanan dari kantor ke rumah macetnya nggak ketolongan. Bisa 3 jam dari Buncit ke Cakung. Makanya gue hepi banget pas tau kalau 1 Mei libur. Seenggaknya bisa lepas dari macetnya hari Kamis. Huft.

Tapi ternyata, temen-temen kampus ngajakin kongkow sambil nonton. Gue sih seneng, karena udah beberapa bulan nggak ketemu dan katanya mau nonton The Amazing Spiderman 2. Akhirnya, janjian lah kita di Taman Ismail Marzuki jam 5.00 sore. Gue janjian dengan temen gue yang namanya Fika. Dan ternyata kita datang lebih cepat dibanding teman yang lain, soalnya temen yang lain datengnya jam setengah 6. Oke mataharinya udah mulai menghilang, udah tanda-tanda mau Maghrib. Barulah 2 orang temen gue lainnya dateng. Dan kita sepakat mau beliin dulu tiket temen-temen yang belum dateng. Dan ternyataaaa…….. TIKET THE AMAZING SPIDERMAN 2 NYA HABIS SODARA – SODARA!!! Padahal ada 2 studio di XXI Taman Ismail Marzuki dan semuanya habis, ludes! Padahal baru aja jam 5.45 sore!

Untuk mengubur kekesalan kami yang sudah datang jauh – jauh dari berbagai pelosok daerah (ada yang dari Taman Mini, Kampung Melayu, Harmoni, Cakung, Jatinegara, dll ) akhinya kita sepakat mau nonton Guardian.  Awalnya sih, sempet excited pas baca berita-berita di socmed tentang film ini. Tapi semuanya buyar pas liat filmnya 🙁

20140502_134637[1]

1412621_214047592115723_1871212370_o

Sebelum ngereview, baca dulu deh sinopsisnya.

Setelah terbunuhnya Wisnu di rumahnya, Sarah (Dominique Agisca Diyose) isterinya, berusaha mengajarkan ilmu bela diri kepada anak perempuan mereka, Marsya (Belinda Camesi), yang sebenarnya sangat tidak menyukai ilmu bela diri. Hingga suatu saat, Paquita (Sarah Carter) dan kelompoknya memburu mereka.

Sarah yang meminta bantuan Kapten Roy (Nino Fernandez) sahabat Wisnu di kepolisian belakangan mengetahui ternyata juga diburu oleh anak buah Oscar (Tio Pakusadewo). Adegan-adegan yang memicu adrenalin pun terjadi. Dari kebut-kebutan di jalan-jalan utama Jakarta, tembak-tembakan, sampai pertarungan sengit antara Sarah dan Marsya dengan para pengejarnya.

Dan ternyata filmnya…… bikin nyesel beli tiket 35 ribu 🙁

Film dimulai dengan Wisnu yang nyetir sambil nahan rasa sakit karena pundaknya tertembak. Dari awal udah kesel soalnya teknik pengambilan gambarnya aneh. Terkesan dokumenter tapi kualitas gambar nggak lebih dari video henpon! Dan kemudian, si Wisnu terbunuh, dilihat sama Sarah dan anaknya, Marsha (yang sebenarnya namanya Laura). Nah terus, pas si Marsha nya udah gede, ceritanya Jakarta udah punya MRT, keren sih idenya tapi visualnya menyedihkan. MRT nya 3D dan terkesan murahan! Sejenis film naga-nagaan yang di salah satu tv swasta itu loh! Sayang nggak sempet gue foto dan di mbah gugel pun nggak ada contoh gambarnya. Pokoknya lo bayangin ada MRT dalam format 3D dan ditempel ke film yang resolusinya pas – pasan!

Guardian-1

(Katanya) Ketegangannya di mulai saat Marsha dibuntuti oleh sejumlah preman lalu rumahnya di berondong sama tembakan hingga dibom! Lagi-lagi, efek tembakan dan bom nya 3D murahan yang udah pasti bikin penonton malah ketawa (soalnya kemarin gue sama temen-temen juga gitu :D). Dan makin banyak hal – hal aneh. Misalnya, pas mobil penjahatnya jatuh dari atas flyover dan ketabrak Transjakarta, ternyata TJ nya 3D. Oh God! Dan yang paling parah, pas adegan salah satu penjahatnya jatuh dari lantai 2 ke bawah, ceritanya di bawahnya ada mobil bak terbuka dan you know what? mobil bak nya 3D! Jelas banget keliatannya! Terus, banyak adegan darah yang terkesan nggak natural soalnya warna darahnya merah keunguan terus nggak kentel tapi cair!

Lain visual, lain jalan ceritanya. Jalan ceritanya sebenarnya bagus, cuma dialog yang dibuat kurang banyak. Pas berantemnya pun terkesan hening tanpa suara atau ekspresi apa-apa. Film yang ditujukan untuk wanita ini sebenernya maknanya adalah “Ibu itu segalanya, dia akan berkorban dan berjuang apapun demi anaknya.” Kalau visualnya oke, kayak The Raid, gue rasa film ini bakal booming banget deh. Tapi kalau kenyataannya kayak yang kemarin gue tonton, rasanya gue sangsi kalau film ini bakal tembus Hollywood. Padahal, film ini udah make artis Hollywood yang pernah main di film Final Destination 2, The Vow, dll yaitu si Sarah Carter. Selain itu ada Nino Fernandez dan Tio Pakusadewo yang sebenarnya termasuk aktor cukup oke di Indonesia. Tapi teteup aja, mereka nggak terlalu banyak ngebuat film ini sukses bikin gue nggak tidur!

bi3XVhwGJl

cover-Guardian-retouched

Nah, sekarang terserah sama lo, masih mau nonton buat bangga sama film Indonesia atau nggak :p tapi saran gue, kalau udah nggak ada film di bioskop yang belum lo tonton bulan ini, boleh lah lo nyoba serunya film yang katanya jadi film yang paling ditunggu di tahun 2014 ini. Hehehe 😀

*Anyway, jalan ceritanya mirip Abduction, film action tentang adopsi anak dan mafia yang dibintangi sama Taylor Lautner 😛

Rate: 1/10

Share:

Waaaaa finally aku nulis review film lagi. Setelah sekian lama lebih sering nulis tentang beauty & lifestyle, akhirnya bisa nulis review lagi. Kebetulan libur lebaran lalu aku iseng ke Blitzmegaplex Bekasi Cyber Park, akhirnya aku nonton film Ant-Man. Aku sengaja nggak nonton trailer atau baca reviewnya sebelum nonton. Takutnya nggak sesuai ekspektasi dan aku jadi badmood. Kayak film Annabelle yang nggak sesuai sama bayangan aku. Atau emang aku terlalu banyak maunya ya hahaha. Okay, ini review dari kacamata aku ya. Aku nggak bakalan kasih spoiler berlebihan kok, paling cuma bikin penasaran hahahaha.

143494389276282_300x430

Share:

Saat mendengar kata ‘hijab’ pasti kita langsung teringat dengan para wanita berjilbab dengan segala jenis model. Ada yang menggunakan turban, jilbab modern yang dililit kesana kemari, ataupun jilbab syar’i yang panjangnya menutupi dada hingga ke perut. Namun, tanpa kita sadari banyak cerita dibalik berhijabnya seorang wanita. Walaupun kenyataannya hijab adalah perintah agama islam, namun tak sedikit orang yang menggunakannya karena terpaksa. Mencoba menutupi sesuatu, terpaksa nikah dengan pria alim, dan masih banyak alasan – alasan unik lainnya. Seperti yang diceritakan di awal film Hijab yang menjadi film ke – 18 Hanung Bramantyo yang baru akan tayang perdana Kamis, 15 Januari 2015.

hUZfd0Jmwtsumber: MetroTVNews.com

Share:

were-the-millers2Sinopsis

A veteran pot dealer creates a fake family as part of his plan to move a huge shipment of weed into the U.S. from Mexico.

Seorang pengedar narkoba menciptakan sebuah keluarga palsu sebagai bagian dari rencananya memindahkan ganja ke U.S dari Meksiko

Review

Film yang rilis bulan Agustus tahun 2013 ini menjadi temen gue di weekend lalu. Sebenernya gue udah nonton berulang kali filmnya dan nggak pernah bosen! Film komedi keluarga yang berbau hal – hal dewasa ini menceritakan tentang David (Jason Sudeikis), pengedar ganja terkenal di kotanya, harus mencari ide bagaimana mengembalikan uang puluhan ribu dollar ke bosnya. Sebagai gantinya, si bos meminta David untuk menjadi kurir pengganti mengambil sedikit ganja di Mexico dan harus berpura – pura menjadi orang suruhan Pablo Chacon. Saat kebingungan mencari ide, Kenny, tetangganya, memberikan masukan bahwa David harus menyamar. Dan ide itu muncul, David ingin menyamar sebagai turis di Mexico.

we-re-the-millers05

David mengajak Sarah (Jennifer Aniston) untuk berpura – pura menjadi istrinya dan Casey, seorang gadis tunawisma, untuk menjadi putrinya. Jadilah mereka sebagai The Millers alias keluarga Miller. Awalnya semua berjalan lancar. Saat RV yang mereka tumpangi masuk ke Mexico dan bertemu dengan bos ganja disana lalu mereka berhasil membawa ganja yang ternyata memenuhi RV mereka. Selanjutnya, keluarga konyol ini harus bersusah payah menyelundupkan ganja dan menghindari kejaran Pablo Chacon.

6-were-the-millers-quotes

Film ini gue rekomendasiin buat lo yang udah 17++ dan butuh film yang nggak mengharuskan elo mikir macem – macem. Cukup nonton dan ketawa ngakak atau deg – degan sendiri selama film diputar. Buat yang belum nemu DVD-nya, elo bisa bayangin sedikit gimana serunya saat pengedar ganja menjadi ayah dan beristri seorang penari striptis dan beranakan seorang cowok remaja yang belum pernah ciuman dan seorang gadis tunawisma yang menjadi bungsu digabungkan menjadi satu! Kalau udah nonton, kabarin gue ya!

Rate: 7/10

Share:

Bagi beberapa orang, termasuk gue, mendengar nama Annabelle udah langsung mikir ke boneka yang ada di film The Conjuring. Awalnya, gue emang nggak kenal sama boneka kayu berwujud gadis berambut kepang dua ini. Semuanya berkat The Conjuring, film horor yang berhasil bikin gue nggak berani ngeliat ke luar kamar kalau pintu kamar gue tiba – tiba kebuka sendiri pas malem – malem. Walaupun gue tau, pintu itu kedorong angin, tapi tetep aja gue parno sendiri.

Mungkin bukan gue doang yang parno semenjak nonton The Conjuring. Jujur deh, pasti ada diantara kalian yang parno sama hal – hal yang bikin kaget setelah nonton film yang disebut – sebut sebagai film horor teroke sepanjang masa. Dan hati gue seolah bilang ‘Hip Hip Hurray!’ saat pertama kali gue denger kalau Annabelle mau dibuatin film sendiri. Ekspektasi gue langsung tinggi, gue berharap filmnya bakal semenakutkan The Conjuring atau minimal bikin gue parno seminggu setelahnya. Menurut gue faktor sukses atau tidaknya sebuah film bergantung pada seberapa parno orang setelah nonton filmnya.

Dengan berbekal popcorn rasa manis ukuran kecil, gue memberanikan diri nonton Annabelle sendirian. Pulang kerja, pas hampir maghrib di hari Jumat, gue mampir ke Djakarta Theatre dan di studio 1 gue memasrahkan diri gue. Apakah gue bakal pulang dengan wajah ketakutan dan parno kalau ngapa-ngapain atau justru gue bakal cekikikan nggak berhenti karena filmnya nggak serem – serem amat? Well, gue masuk ke studio dengan muka udah agak parno. Yang lain nonton sama gebetannya, gue sendirian. Pake baju abis kerja pulak! Huft. Lha gue kenapa jadi curhat gini yak -_-

MV5BMjM2MTYyMzk1OV5BMl5BanBnXkFtZTgwNDg2MjMyMjE@._V1_SX640_SY720_

Sinopsis

John Form (Ward Horton) akhirnya menemukan hadiah yang selama ini dicari oleh istrinya Mia (Annabelle Wallis). Boneka Annabelle sangat ditunggu Mia yang juga sedang menanti kelahiran anak pertamanya.
Di malam pertama boneka Annabelle berada dalam rumah pasangan muda ini, rumah mereka di serang oleh kelompok pemuja setan. Teror yang menyebakan darah tumpah dirumah tersebut. Kekuatan jahat kini berada dalam boneka dan mengincar John, Mia serta anak mereka yang baru saja lahir.

Review

Entah karena emang pengen menyegarkan ingatan penonton atau memang idenya berawal dari The Conjuring, Annabelle dibuka dengan 3 orang sekawan yang sedang curhat ke paranormal ternama. Yup, adegan pertama film The Conjuring menjadi pembuka film Annabelle pula. Lalu plot berganti ke sekitar setahun sebelumnya. Tinggallah Mia, mahmud alias mamah muda yang lagi hamil tua hidup bahagia bersama suaminya. Awalnya, kehidupan Mia dan suaminya baik – baik saja. Sampai suatu saat suaminya memberikan sebuah boneka kayu yang selama ini diidam-idamkan Mia. Dan pada malam harinya, tetangganya tewas dibunuh oleh anak mereka yang mengikuti sekte sesat. Disini, ceritanya makin nggak jelas karena nggak detail. Soal sekte sesat nggak dibahas mendalam, menurut gue ini jadi bikin penontonnya bingung sendiri. Boneka kayu kesayangan Mia justru direbut oleh si anak tetangga yang mengikuti sekte sesat. Singkat cerita keadaan makin rumit dan akhirnya si anak tetangga yang bernama Annabelle itu bunuh diri dengan memangku boneka kayu itu.

ANNABELLE

Setelah kejadian itu, si boneka kayu mulai bersikap aneh. Suka pindah – pindah tempat, menggerakkan kursi goyang dan yang paling parah saat dibuang ia kembali ada di rumah baru Mia. Semakin kesini, makin banyak penampakan makhluk gaib berwujud iblis hitam yang berusaha merebut nyawa Mia. Sempet klimaks, tapi jujur hantunya nggak serem. Kalau bukan karena popcorn dan sound effect yang ngagetinnya setengah mampus, gue pasti bakalan tidur selama film diputar. Nggak sesuai ekspektasi gue. Nggak semenarik The Conjuring, Cuma lumayan buat yang mau teriak – teriakan kaget sama sound effectnya, bukan karena hantu atau jalan ceritanya.

media_annabelle_20140717

Agak kecewa saat gue selesai nonton filmnya, seolah udah ketebak dari awal gimana ending filmnya. Sosok Annabelle yang selama ini ditakut – takutin seolah berubah biasa aja di film ini. Kecewa banget L Dan setelah gue selesai nonton, gue sempet denger di sebuah radio kalau aka nada sekuel Annabelle featuring Chucky! Siapa yang nggak kenal Chucky? Apakah Annabelle bakal jadi selingkuhannya Chucky? Secara Chucky dan Tiffany udah pacaran lama. Tapi Annabelle jahat banget yak jadi orang ketiga L anyway, semoga sekuelnya bener – bener ada dan nggak mengecewakan. Seenggaknya jadi obat kecewa karena ngerasa rugi beli tiket dan popcorn.

PS: Jangan berekspektasi atau baca review kalau belum nonton filmnya!

Rate: 5/10

Share: