IBX581FD685E3292

Ekspektasi Dan Realita

hiker-846094_640

Pagi ini, saya baru tau kalau ternyata Kunto Aji merilis single barunya. Judulnya “ekspektasi”. Awalnya saya biasa saja dengan lagu ini, walaupun agak takjub dengan akting Ayu Gani yang menurut saya daleeeem dan dapeeeet banget feelnya. Buat yang penasaran, ini video klipnya.

Tapi, postingan ini bukan membahas soal lagu itu, walaupun memang saya terinspirasi membuat postingan ini beberapa kali setelah mengulang lagunya. Setiap orang pasti pernah berekspektasi sama sesuatu, sudah yakin banget hasilnya bakalan A eh ternyata realitanya jadi Z yang jauh banget dari perkiraan awal. Saya pernah diposisi ngerasa sakit banget karena ekspektasi nggak sesuai sama yang saya bayangkan. Akhirnya saya nangis dan hampir berjanji sama diri sendiri kalau nggak mau berharap lagi. Padahal dari awal saya sudah berjanji buat nggak mau berharap lebih. Tapi sepertinya hati saya bandel, selalu menuntut hal yang sudah tau nggak udah dilakukan.

Proses penyembuhan lukanya lama banget loh. Nggak bisa disuruh berhenti berharap terus udah lupa sama semuanya. Nggak segampang itu! Sebulan pertama saya masih keingetan terus – terusan, dan parahnya nangis sesenggukkan berkali – kali saya lakukan. Di bulan selanjutnya sih sudah bisa merelakan sedikit, tapi kalau keingetan ya galau lagi. Total penyembuhannya waktu itu seingat saya hampir 6 bulan sampai akhirnya saya menutup buku dan menemukan harapan yang lain. Dan setahun kemudian, saya baru bisa melupakan semua rasa sakitnya 100%. Ternyata bisa separah itu ya? :’)

Kenapa saya tiba – tiba keingetan sama ekspektasi saya yang dulu bikin saya gagal move on berbulan – bulan ini? Karena baru – baru ini teman dekat saya, bisa dibilang sahabat saya, baru mengalami hal yang nggak mengenakan sama sekali soal ekspektasi. Jadi ceritanya si A (samaran untuk sahabat saya) suka sama seseorang. Awal kenalan sama si B (samaran untuk si pemberi harapan palsu), si A nggak ngerasa apa – apa. Semua berjalan biasa – biasa aja. Tapi lama kelamaan namanya juga sering berhubungan, sering disamperin di kantor, ya akhirnya si A jatuh cinta deh sama si B. Jatuh cintanya pun pelan – pelan. Malahan pelaaaaan banget buat saya. Dari awal lucu sama tingkahnya, jadi bermimpi bahagia berdua. Sudah berasa deh senengnya ngebayangin kalau akhirnya mereka berdua bersatu, saya diam – diam juga ikutan berekspektasi.

Lalu kemudian, ternyata si B posting foto berdua sama seorang cewek dan dicaption-nya pun mereka punya panggilan khusus. Panggilan yang menurut saya ‘so sweet’ banget untuk sekedar temenan biasa. Dan akhirnya si A langsung galau mendadak. Saya nggak menyalahkan si A ataupun si B. Semuanya terjadi nggak secara kebetulan kan? Toh memang Tuhan sudah menunjukkan bahwa ternyata ekspektasi saya dan si A terlalu ketinggian, berlebihan banget sepertinya. Akhirnya si A sejak sebulan lalu hingga hari ini masih berusaha berpositif thinking, bahwa si B memang masih sendiri dan cewek itu hanya teman. HANYA TEMAN! Berulang kali saya dan teman – temannya yang lain mencoba menasehati, tapi percuma. Saya pun memahami. Saya pernah ada di posisi A dan sulit rasanya menerima kenyataan apalagi mendengarkan saran atau ocehan sampah dari teman – teman, bahkan dari keluarga. Apa kalian pernah ada di posisi si A? Saya rasa semua orang pernah, mungkin hanya berbeda permasalahannya. Bisa saja ada yang berekspektasi mau diangkat jabatannya eh ternyata nggak, atau ada yang pernah berekspektasi bakalan dapat bonus berlebih dan ternyata nggak dapat sama sekali.

Nggak ada yang salah sama ekspektasi dan nggak ada yang salah sama realita. Yang mungkin agak keliru adalah cara kita menerima keadaan. Biasanya hati kan gitu, suka nggak nerima. Jadi ya biarin aja lah, saya nggak mau terlalu menasehati mereka yang masih kaget dengan keadaan. Percuma, karena saya pernah ada di posisi itu dan saya ngerasa nasehat mereka bullshit semua. Karena kalian nggak pernah ada di posisi saya atau saya yang nggak pernah ada di posisi kalian.

Tapi dari semuanya saya belajar banyak. Bahwa sebenarnya saya nggak boleh berharap berlebihan, saya nggak boleh terlalu memaksakan keadaan. Tuhan sudah terlalu baik menitipkan kebahagiaan atau kesedihan di hidup saya. Tapi ya gimana ya, ekspektasi itu nggak akan ada kalau nggak ada yang ngasih harapan hahaha. Hidup itu memang seru.

Lalu, bagaimana nasib si A selanjutnya? Dia masih sibuk mencoba menyibukkan dirinya sendiri. Namanya juga luka di hati, biarkan hilang dengan sendirinya. Jangan dipaksa atau dihapus tiba – tiba. Justru itu seninya mencintai, saat hati harus perlahan merelakan ekspektasi dan menerima realita. Bagaimana dengan si B? Terakhir dengar kabar, dia men-unshare saya di Path karena pernah saya frowned foto dia dengan si cewek hahaha. Saya hanya mendoakan sahabat saya, si A, bisa menemukan cara menyembuhkan luka dan melupakan ekspektasinya.

Jadi, masih mau berekspektasi? 🙂



21 thoughts on “Ekspektasi Dan Realita”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.