IBX581FD685E3292

Nekat Biaya Nikah Sendiri

Nekat Biaya Nikah Sendiri

Pertanyaan yang selalu datang ke saya dan Odi setelah menikah adalah: gimana caranya nabung buat nikah dengan biaya sendiri padahal gaji nggak seberapa dan bayar vendor ini itu mahal-mahal banget?

Saya dan Odi bakalan ngejawab: nggak ada caranya. Asli, emang nggak ada sama sekali cara khusus atau tips & tricknya. Kami berdua nggak pakai sistem nabung yang gimana-gimana soalnya nyiapin nikahnya aja cuma 6 bulan sebelum hari H. Bener-bener sesingkat itu persiapannya!

Sejujurnya, sampai sebelum lebaran 2018, kami berdua belum ada rencana apapun tentang hari bahagia itu. Semuanya serba tiba-tiba, pas orang tua saya tanya tentang keseriusan kami berdua melanjutkan hubungan ini. Awalnya saya tersenyum kecut, gimana mau mikir abcd kalau tabungan saja nggak ada sama sekali. Semua habis untuk foya-foya, liburan ke mana-mana dan belanja-belanja. 🙁

Pertanyaan dari orang tua saya akhirnya jadi pertanyaan serius yang sering kami bahas kalau lagi jalan berdua. Sampai akhirnya, sehari setelah lebaran, Odi bilang ke saya kalau bulan depan akan membawa keluarganya ke Jakarta demi melamar saya.

Jangan berkhayal kalau saya langsung nangis-nangis so sweet dan sambil bilang “Yes i do!” ala-ala seperti yang dulu saya ucap di Bali beberapa tahun lalu, kali ini saya malah bingung. Lamaran? Duh, uang darimana ya? Kepala langsung pusing bukan main karena kami berdua beneran nggak ada dana darurat buat nyiapin acara ini. Mau minta orang tua? Kok ya malu banget, sudah umur segini masih ngandelin orang tua.

Kami berdua putar otak, Odi langsung menenangkan saya kalau semuanya akan baik-baik saja. Lalu kami berdua menjalankan misi ini: LAMARAN DAN NIKAH KUDU PAKAI BIAYA SENDIRI. GIMANAPUN CARANYA!

Hal pertama yang kami lakukan adalah nge-list apa saja yang mesti dibeli, dibuat, dibawa serta apa saja yang dibutuhin menjelang lamaran. Listnya kami berdua beda-beda dan tentunya budgetnya pun beda-beda. Gaji saya dan Odi pun beda. Odi ada sistem bonus 3 bulanan, sedangkan saya ya cuma gaji bulanan tok, walaupun memang saat itu gaji saya lebih besar sedikit.

Segala cara kami coba. Putar otak ke sana ke mari dan mikir gimana caranya tabung kalau sisa uang kami berdua cuma setengahnya setiap bulan? Lalu kami nggak jajan, nggak makan di luar, nggak nonton ke bioskop padahal biasanya tiap minggu ya jalan saja, bener-bener menghemat abis-abisan. Bahkan saya sama sekali nggak buka Tokopedia, godaan belanja tiap bulan. Beruntungnya saat itu nggak ada promo Maret Mantap Tokopedia dan saya juga menahan diri untuk nggak buka Kalender Promo Tokopedia. Beruntung banget-bangetan, semesta mendukung saya banget!

Setelahnya, ternyata nggak pengaruh terlalu banyak. Saya dan Odi masih kelimpungan untuk membayar tagihan vendor-vendor yang mulai kami cicil setiap bulannya. Akhirnya, kami memilih cara yang paling ekstrim: pakai sistem cicil semua pembayaran setiap bulan. Jadi, sehari sehabis gajian, kami langsung cicil semua tagihan vendor dan langsung bisa bernapas lega setelahnya meskipun nggak bisa jajan atau belanja sama sekali. Cara ini ternyata lumayan ampuh dan bermanfaat banget buat kami berdua yang cenderung pas-pasan tapi doyan jajan.

Dengan cara cicilan ekstrem itu, kami berdua berhasil menjalani lamaran hemat budget dengan total Rp 5 juta saja. FYI, tamu acara lamaran kami sekitar 50 orang dan kami menyediakan makanan berat serta camilan dan dessert. Saya pun sempat menjahit baju supaya kembaran dengan Odi. Alhamdulillah, acara lamaran kami berjalan lancar meskipun persiapan hanya 1 bulan. Buat yang mau baca detail persiapan lamaran kami, baca di Lamaran Hemat Budget saja ya!

 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by GIVEAWAY TIME – PUTRI🇲🇨 (@kpmputri) on

Lamaran selesai, tapi pesta pernikahan kami hanya tinggal 5 bulan lagi. Tiap minggu kami habiskan untuk meeting dengan vendor-vendor. Mulai dari vendor dekorasi, vendor band, vendor makeup, MC, vendor undangan sampai vendor souvenir kami yang berada di Bandung. Lelah? Memang. Tapi karena budget yang mepet, kami harus mencari vendor-vendor yang bisa diajak bekerjasama masalah bayar-bayaran, atau bahasa singkatnya adalah vendor yang mau dicicil.

Beruntungnya kami menemukan vendor-vendor yang baik-baik banget. Tiap bulan tagihannya kami cicil lagi, kalau Odi dapet bonus juga begitu, semua bonus langsung ludes ngebayarin tagihan. Sejujurnya saya ngerasa agak menderita sih, tapi karena inget semua demi pernikahan impian ya jadi saya langsung semangat berhemat lagi.

Bulan kelima sebelum menikah, kami bayar DP vendor dekorasi dan DP band akustik yang akan mengisi hiburan saat resepsi. Bulan keempat sebelum menikah, kami bayar DP vendor undangan dan mencicil seserahan. Bulan ketiga sebelum menikah, kami bayar DP vendor souvenir dan pelunasan vendor undangan. Bulan kedua sebelum menikah, kami bayar DP catering, bayar pelunasan vendor undangan, jahit jas dan kebaya serta gaun pengantin saya dan pelunasan band akustik. Sebulan sebelum menikah, kami bayar pelunasan vendor dekorasi, bayar M, pelunasan vendor souvenir, pelunasan catering dan membeli mas kawin. Semuanya dilakukan berdua, uang berdua, tenaga berdua.

Ada rasa bangga dan haru saat kembali mengingat hari bahagia kami. Semua jerih payah, uang tabungan mendadak dan sempet beberapa kali gesek kartu kredit, terbayar tuntas dengan pernikahan yang sesuai impian kami bertema rustic-minimalism.

Eits, tapi jangan salah. Semuanya nggak berjalan mulus-mulus saja kok. Ada drama ketika saya jadi bridezilla, terus deg-degan nunggu hasil tes kesehatan pra-nikah, sampai berantem karena beda pendapat dan beda keinginan sama Odi. Untung sekarang semuanya sudah lewat. Alhamdulillah… alhamdulillah…

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Akbar Odi Renaldi (@akbrod) on

putri odi nikah biaya sendiri

putri odi nikah biaya sendiri

Nah buat teman-teman yang mau mulai tabung untuk #NikahBiayaSendiri tapi masih bingung kudu mulai darimana, saya punya beberapa tips yang mungkin bakalan bermanfaat untuk teman-teman.

  • Cari referensi vendor sebanyak-banyaknya. Karena kadang kita bisa nemuin vendor B yang lebih murah dari vendor A tapi kualitasnya nggak jauh beda. Lumayan sisa uangnya bisa dipakai untuk kebutuhan yang lain. FYI, saya selalu cari referensi di Instagram saja. Cek-cek saja hestek yang berhubungan sama pernikahan.
  • Komunikasi dan saling terbuka sama pasangan. Ini penting, sekalian latihan belajar menerima kekurangan dan kelebihan pasangan, kan? Karena kalau kode-kodean sudah nggak akan mempan dan malah bikin frekuensi berantem lebih sering lho. Trust me! Plus saling jujur soal gaji atau uang yang keluar masuk ke rekening tiap bulan. Biar sama-sama tahu kemampuan masing-masing.
  • Jujur sama vendor soal keuangan kalian. Kalau perlu, langsung to the point aja minta bayarnya dicicil. Karena kalau nggak jujur, vendor bakalan nagih-nagih uang ke kalian dan itu bisa jadi faktor yang bikin berantem sama pasangan, apalagi kalau belum gajian dan belum ada uang buat bayar tagihannya.
  • Komunikasi sama keluarga. Ini sebenernya faktor utama penentu sukses enggaknya nikah biaya sendir. Karena biasa kan keluarga yang justru nggak deket-deket amat itu suka berekspektasi ABCD sama pernikahan kita. Nah kita butuh back up dari keluarga inti, misalnya orang tua atau adik kakak, untuk ngebantuin sampein tema atau konsep pernikahan versi kamu yang mungkin nggak sesuai dengan ekspektasi tim keluarga lainnya.
  • Yang terakhir, jangan memaksakan keuangan. Kalau misal mampunya cuma sampai batas A, jangan berharap dapat D. Hidup itu kudu realistis lho. Lagian nikah kan yang penting akad atau pemberkatannya saja. Soal resepsi mah pelengkap aja kok. Dont push yourself so hard ya!

FYi, sekedar informasi aja sih, #NikahBiayaSendiri versi Putri dan Odi itu menghabiskan Rp 75 juta untuk 1000 tamu dengan 2 resepsi berbeda dalam 1 hari. Nanti di postingan selanjutnya saya jembrengin satu-satu ya biayanya supaya kalian ada gambaran kudu punya uang berapa demi menikah yang hemat budget.

 

Thank you for reading!

Cheers,

Sakura Collagen Meiji Indonesia



22 thoughts on “Nekat Biaya Nikah Sendiri”

Leave a Reply to Putu Sukartini Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.