IBX581FD685E3292

Nikah Biaya Sendiri

Nikah Biaya Sendiri

Judulnya agak-agak gimana gitu ya hahaha soalnya emang insya allah di tahun ini saya mengambil keputusan yang jadi salah satu keputusan terpenting di hidup saya: MENIKAH DENGAN BIAYA SENDIRI.

Mungkin bagi sebagian orang soal nikah ini nggak ribet-ribet banget. Kalau calonnya udah ada, keluarga setuju dan mau ngebiayain, yaudah mau nunggu apalagi? Tapi kalau saya agak beda sih, dari zaman pacaran baru hitungan bulan sama Odi langsung kekeuh mau nikah pakai uang sendiri. Alasannya sederhana: kami berdua tipe orang yang paling nggak suka diatur. Titik.

Buat yang baru pertama kali baca blog saya, hubungan saya sama Odi udah lewat dari 7 tahun. Pertanyaan “kapan nikah” udah bosen banget kami dengerin. Makanya kami sepakat mau nikah modal nekat. Nekat karena sebenernya uangnya baru cukup buat katering sama dekorasinya aja. Hahahaha boleh ya ngetawain diri sendiri dulu? :’)

via GIPHY

Pas pertama kali saya ngomong alasan pengen nikah pakai uang sendiri, keluarga dekat saya langsung mengeryitkan dahi. Pertanyaan yang langsung dibombardir ke saya adalah:

“Yakin sanggup ngebiayain semua sendiri?”

”Yakin mampu urus semua sendiri?”

Pertanyaan-pertanyaan itu sempat ngebuat saya galau sampai akhirnya memilih buat nggak ngomongin soal pernikahan and the other things-nya lagi belakangan ini. Sampai akhirnya awal Juni lalu, Odi bilang mau bawa keluarganya ke rumah sambil ngelamar saya. Jangan tanya ekspresi saya gimana waktu Odi bilang gitu. Saya diem, speechless, mau nangis. Perasaannya lebih nggak karuan dibanding waktu 2 tahun lalu dia melamar saya di Bali. Mungkin kalau hati saya bisa jerit, detik itu juga saya bisa teriak sekenceng-kencengnya kali saking senengnya hahaha.

Baca: And I Said I Do!

Ps. 2 tahun lalu, Odi pernah melamar saya di Bali. Lamaran yang sebenernya sih harusnya so swit ya tapi berhubung orangnya bengek karena kena ‘gerd’ jadilah proses “Will you marry me” diadakan di kamar hotel, dengan suara terbata-bata akibat gerd yang berubah jadi sesak napas.

Baca: Sesak Napas Karena Telat Makan?

Kali ini Odi mau melamar saya lengkap ditemani sama orang tuanya, dilamarnya pun langsung ke orang tua saya. Gimana nggak deg-degan? Hahaha. Tapi, pikiran utama kami sekarang justru bukan ke lamaran yang sebenernya udah tinggal beberapa hari lagi, justru ke acara nikahan yang rencananya akan berlangsung beberapa bulan lagi. Deg-degan ceu! Asli. Makanya belakangan saya sering insta-story progress acara pernikahan kami yang insya allah pakai uang sendiri 100%.

Awalnya sih cara ini saya pakai buat menenangkan diri sendiri yang makin hari makin stress ya hahahaha plus mau berbagi kebahagiaan sama mentemen di Instagram. Buat yang belum follow, boleh lho dicek dan difollow @kpmputri hahaha.

Semenjak sering cerita soal love story, awal mula ketemu Odi sampai rencana nikah kita berdua, langsung banyak DM yang nanya soal gimana caranya nabung buat nikah sedangkan jiwa masa muda masih pengen hura-hura? #rhyme.

Untuk cara nabungnya sebenernya saya ‘dibantu’ sama Nenek. Dibantu simpenin maksudnya. Jadi setiap bulan saya nabung sekitar 30% dari total gaji bulanan saya (pendapatan tetap tiap bulan). Tiap 2 atau 3 bulan sekali, uangnya langsung dibeliin emas perhiasan. Selama kurang lebih setahun, ternyata uang yang terkumpul sekitar Rp 25 jutaan. Kecil kan? Iyalah, soalnya saya sama Odi nggak niat nikah di tahun ini jadi kadang nabung, kadang nggak. Lebih sering nggak nabungnya sih dibanding nabungnya hahaha. Makanya saya nggak terlalu seneng ngebagiin cara nabungnya karena menurut saya bukan sebuah prestasi yang membanggakan.

Tapi, saya bisa kasih tip bahwa kalau mau nabung buat sesuatu, mending dibeliin emas atau aset lainnya yang agak susah diuangkan dibanding cuma sekedar nabung di bank. Karena saya sudah punya toko emas langganan yang harganya ciamik, makanya saya rutin belie mas aja dibanding aset lainnya. Tapi saya juga pernah mencoba buat deposito selama 3 bulan lalu dicairkan karena takut kalau sewaktu-waktu butuh dan males ke banknya.

Jadi ya buat teman-teman yang mau mulai nabung buat menikah atau untuk kepentingan lainnya, saya saranin langsung dibeliin aset aja. +1 kalau harga asetnya selalu naik seperti saham, emas, dll.

By the way, kalau mau beli emas batangan tapi males ke ANTAM, bisa pakai aplikasinya Pegadaian, lho! Saya pernah review aplikasi Pegadaian di sini. Baca aja, soalnya saya jelasin juga soal tabungan emas Pegadaian juga di situ.

Saran saya sih, mulai nabung aja dari sekarang. Kalau pun emang jodohnya belum nongol, nggak ada salahnya kan punya tabungan pernikahan? Kalau orang tua yang ngebiayain acaranya, toh uangnya bisa dipakai buat life after marriage-nya.

via GIPHY

Selain tabungan, hal lain yang langsung saya dan Odi lakukan setelah memutuskan untuk menikah adalah membuat skala prioritas. Karena semuanya bergantung sama uang, skala prioritas kami diurutkan dari yang biaya paling besar ke yang paling kecil.

SKALA PRIORITAS #NIKAHBIAYASENDIRI

  1. KUA – urus dokumen, vaksin, penghulu, dll.
  2. Catering
  3. Dekorasi dan tenda resepsi
  4. Make up (akad + resepsi)
  5. Baju penganten, keluarga dan penerima tamu
  6. Transportasi keluarga
  7. Pengajian
  8. Cetak undangan
  9. Souvenir
  10. Seserahan
  11. Biaya tak terduga

KUA kami tulis di paling awal karena prioritas kami ya ngurus dokumen dan segala macamnya itu. Walaupun budgetnya nggak besar-besar amat bahkan nggak sampai setengahnya budget souvenir kami. Berhubung kami beneran jalan berdua ke mana-mana, jadi setiap detail mengenai dokumen ini benar-benar kami catat, kami print dan kami baca berulang kali supaya nggak ada yang skip. Saya nggak mau deh kejadian lagi bolak-balik ke rumah kayak waktu bikin e-paspor sendiri beberapa bulan lalu huhuh.

CATERING. Biaya terbesar di dalam list kami dan 100% saya bayar pakai uang hasil nabung males-malesan beberapa bulan lalu. Karena saya tinggal di komplek dengan jumlah keluarga lebih dari 200 dan 99%-nya kenal dengan Kakek dan Nenek, jadi total undangan kami nanti ada 500. Dikaliin 2 aja udah 1000. Jadi kebayang kan berapa uang buat makan 1000 orang?

Hal ini yang sempat ngebuat saya dan orang tua sempat saling adu argumen. Saya dan Odi tadinya mau mengundang maksimal 200-an aja eh harus membengkak. Apalagi rencananya resepsi saya lakukan di rumah, jadi yam au nggak mau mengundang seluruh tetangga. Awalnya sempet nggak ikhlas lho dan saya kepikiran buat pindahin acara ke gedung aja.

Tapi setelah saya pikir-pikir, nggak ada salahnya untuk berbagi kebahagiaan sama orang banyak kan? Akhirnya saya dan Odi berdamai dengan keadaan. Kami sepakat untuk mengundang 500-orang (dikali 2) tadi supaya semuanya ngerasain kebahagiaan kami. Insya allah kami ikhlas dan insya allah dimudahkan segala sesuatunya. Alhamdulillah-nya, anggaran untuk catering ini sudah nutup. Fyuh, seenggaknya beban saya sudah terangkat sedikit lah ya. :))

DEKORASI & TENDA

Walaupun budget pas-pasan, tapi insta-worthy it’s a must for us! Terserah ya mau dibilang gila followers atau gimana, intinya resepsi kami kudu instagrammable. Munafik banget lah yang nggak mau pesta nikahannya dipuji orang banyak karena kok gemes, kok lucu, kok sweet sekali? Jadi tema rustic bakalan kami pilih dan dekorasi serta tenda jadi hal yang paling mahal kedua setelah catering sist hahaha.

Mencari vendor dekorasi yang sesuai keinginan itu susahnya minta ampun. Apalagi semenjak ada Instagram ya, semua vendor kayak langsung matok harga setinggi-tingginya yang penting dekornya cantik ala Instagram gitu. Sempet sedih karena cari vendor dekorasi kok nggak ada yang sesuai budget sampai akhirnya ketemu vendor yang satu ini. Saya nggak mau bilang nama vendornya sebelum acara selesai ya. Jadi nama-nama vendor yang saya pakai baru bakalan saya tulis setelah acara kami selesai ya. :p

MAKE UP (AKAD & RESEPSI)

Sesungguhnya poin yang ini tambahan, baru banget saya update setelah 1×24 jam tulisan ini tayang. Jadi maafkan untuk yang udah terlanjur baca huhuhu. Soalnya make up saya untuk nikahan besok itu nge-endorse Tante-nya Odi. Bisa dibilang gratis, beb. Padahal kalau bayar bisa sampai 10 jutaan sendiri secara tantenya udah official MUA-nya MUFE. Saya suka banget sama makeup-nya yang flawless dan segar gitu dilihatnya. Buat yang mau cek, sila follow @marisafemua ya gengs.

 


BAJU PENGANTEN (AKAD & RESEPSI)

Maklum ya, badannya ‘beda’ dari para penganten umumnya jadi mau nggak mau kudu jahit sendiri. Sewa mungkin bisa sih, cuma entah kenapa nggak sreg kalau bajunya samaan sama orang lain. Sok-sok idealis gitu. Untungnya, temen Nenek ada yang sudah sering jahit-in baju saya jadi ya santai. Untuk akad rencananya kebaya (beli hanya atasnya aja karena kain bawah pakai kain yang sama pas lamaran nanti). Resepsinya insya allah pakai hijab dress gitu. Supaya menghemat budget, saya belanja sendiri kain-kainnya, tinggal nanti dikasih ke penjahit modelnya mau kayak gimana. Nggak usah gengsi mau tag sana-sini lah kalau buat pakaian mah. Yang penting bagus dilihat, sesuai kemauan dan sesuai dompet. 🙂

 

TRANSPORTASI KELUARGA

Karena mayoritas keluarga inti termasuk orang tua ada di Jogja, jadi anggaran transport bakalan cukup gede kan karena again Odi anak yang sangat berbakti sampai tiket PP aja dia nanggung lho hahaha. Walaupun ini dibayar sama Odi sendiri, tetap aja saya masukkin ke dalam skala prioritas biar ketauan lah nanti uangnya yang keluar semuanya berapa. Oh ya, kami memilih kereta sebagai alat transportasi keluarga yang di luar kota karena lebih murah tapi tetap nyaman. Bahkan saya pernah nulis 8 keuntungan naik kereta api sama keluarga beberapa bulan lalu. Walaupun emang sponsored post, cuma masih relate lah sama yang saya omongin.

PENGAJIAN

Yes, karena semuanya benar-benar pakai uang sendiri, sampai ke soal pengajian juga saya tulis. Dan lagi-lagi karena tinggal di komplek dengan mayoritas ibu-ibu, tamu pengajiannya pun lumayan banyak. Tapi nggak apa-apa lah, insya allah ada kok uangnya karena sampai hari ini bahkan H-beberapa hari sebelum resepsi juga masih nabung terus hahaha. #TimNabungTanpaHenti.

CETAK UNDANGAN

Selain dekorasi, cetak undangan ke vendor-vendor ber-followers banyak di Instagram itu muahal sekali lho. Literally beneran mahal karena sebijinya aja bisa 15 ribuan. Kebayang kan kalau dikaliin 500 udah pasrah banget sis hahaha. Setelah pergelutan dan tiap hari searching banyak vendor, akhirnya nemu yang harganya pas di kantong tapi hasilnya bagussss banget. Mirip sama yang 15 ribuan, padahal cuma 5 ribuan aja. Nama vendornya masih saya samarkan ya hahahaha. Tenang… nikmatin masa-masa saya heboh di insta-story dulu aja.

SOUVENIR

Ini vendornya sama kayak cetak undangan. Desainnya pun sama. Kami sih pengen souvenir yang berguna dan orang nggak malu buat pakai ya. Tadinya mau botol minum gitu cuma pas ngobrol sama vendor undangan terus nemu contoh souvenir yang gemes banget jadi yaudah sekalian aja paket komplit nggak pakai ribet. Souvenirnya apa ya nanti aja ya taunya hahaha. Ini postingan isinya sok-sok misterius semua yaudahlah ya nggak apa-apa.

SESERAHAN

Karena emang sering belanja-belanja gitu, kami nggak sadar kalau seserahannya udah lengkap. Mulai dari sepatu, make up, sampai mas kawin aja udah komplit. Jadi pengeluaran untuk seserahan ini nggak terlalu besar karena sisa beberapa barang aja sih. Kebetulan saya tipe yang un-branded banget anaknya. Jadi Odi nggak akan stress dengan tagihan buat seserahan karena yaelah paling nggak sampai 2 jutaan kali ya hahaha.

BIAYA TAK TERDUGA

Seperti bensin buat bolak-balik meeting sama vendor, ngurus dokumen sampai parkir dan cetak foto. Semuanya kami tulis, rapih. Selain dijadiin kenang-kenangan, nulis persiapan nikah pakai biaya sendiri ini selalu ngebuat kami berdua excited. Entah kenapa. Walaupun emang pusing pas ngeliat angka yang harus dikeluarkan, tapi ada rasa bahagia aja gitu setiap meeting sama vendor atau abis ngurus-ngurus segala sesuatunya.

Intinya sih, kalau misalnya udah niat mau nikah pakai biaya sendiri, semuanya kudu dipikirin mateng-mateng. Kudu cerita secara lengkap dan jelas kira-kira kemampuannya berapa sama pasangan. Ngomong juga ke orang tua, minta dukungan supaya nggak ada pihak yang ngerasa kecewa. Karena takutnya ada permintaan khusus seperti mas kawin atau mahar dengan sekian gram emas atau sekian juta uang tunai. Berhubung dari keluarga saya kalem banget, jadi urusan dukungan orang tua udah kami dapatkan 100%. Tapi nggak ujug-ujug langsung oke sih. Saya butuh waktu 1 bulan buat ngeyakinin orang tua kalau kami berdua mau nikah pakai uang sendiri. Insya allah kalau niat baik mah pasti ada aja jalannya.

Lha ternyata panjang ya tulisannya. Sudah lebih dari 1500 kata lho. Postingan selanjutnya saya bakalan ngebahas soal acara lamaran sederhana kami aja ya? Nanti juga saya tulis biaya lamarannya berapa. Kami berdua nggak malu buka-bukaan begini karena kami pengen nunjukkin kalau nikah sesuai kemauan penganten dan pakai uang pengantennya sendiri juga bisa murah lho! Kalau misalnya kata murah artinya beda-beda tiap orang, jadi saya ganti pakai kata ‘terjangkau’ aja ya.

Nikah biaya sendiri? Kenapa enggak?

via GIPHY

Ada yang punya pengalaman nikah pakai uang sendiri dan nggak dibantu orang lain sepeser pun? Share dong cerintanya soalnya yang paling sering saya lihat kebanyakan undangannya nggak sampai setengah dari total undangan kami. Sekalian minta tips dong sama mentemen yang sudah nikah. Gimana caranya nahan emosi karena belakangan kami sering berantem nggak jelas gitu huhuhu.

Doakan lancer-lancar ya semuanya!

 

 

 

 



12 thoughts on “Nikah Biaya Sendiri”

  • So happy to hear that!

    Aku sendiri sama pasangan menikah dibantu orang tua karena tadinya udah mantep uda nego mau biaya sendiri, tapi ortu (dr pihak laki2) ttp ga mau kalau kami biayain sendiri. Setelah diskusi berkali2 ga nemu titik temu. Akhirnya kami ikhlas aja dibantu. Jadi tabunganku dan pasangan dipakai buat nyicil ngisi rumah hehe….

    Soal menikah dibiayai siapa ini emang sesuatu yg krusial sih. Tapi menurutku siapapun yg ngebiayain yg penting kitanya enak ngejalaninnya. Biar ga jadi bridezilla hahaha. Aduh maap komen panjang.

  • Saya setahun lalu juga lagi nyiapin buat pernikahan, Mba.. Alhamdulillah, 85% pake biaya sendiri, 15% inisiatif orang tua katanya masa ga bantu sama sekali, gitu…

    Saya juga nabung di LM sih, juga di tabungan rencana mandiri selama setahun yang dipatok autodebit, jadi mau ga mau terpaksa nabung, klo bonus kerjaan lagi gede langsung top up ke situ deh…

    Semoga lancar sampai hari-H, Mba 🙂

  • Salut sama kamu dan Ody bisa mengusahakannya sendiri. Dulu, mayoritas acara nikah dibayarin ortu. Biaya honeymoon dan ngontrak rumah baru biaya sendiri. Tapi, tetap saya dan pasangan yang ngurus sendiri ke mana-mana. Ortu ngga terlalu rewel meskipun yang bayarin, hehehe.

  • Alhamdulillah aku nikah dibiayain suami semua *ups. Kebetulan dia emang lebih mandiri dr aku. Apalagi pas nikah dadakan, jadi yauda sis aku ga punya save sama sekali untuk nikah haha. Jadi pure biaya semua dr uang suami sendiri.

    Kalo untuk godaan mau nikah itu pasti ada ya. Kayak semacam keraguan gitu. Aku sendiri waktu itu perbanyak sholat istikharah sama hajat. Sholat tahajud. Pokoknya sholat sunnah lebih rajin. Minta dimantepin sama Allah. Kalo semua lancar, insya Allah doi emang jodoh kita 🙂

    Semoga dilancarkan terus sampai hari H ya Kak Put. Dan bisa jadi keluarga sakinah mawaddah warahmah 🙂

  • Baca postingan ini jadi semacam nostalgia banget buat saya. Memang sih saya menikah gak pakai biaya sendiri. 100% dibiayai orang tua saya, tetapi segalanya diserahkan ke saya dan suami karena kami yang meminta. Tetap aja stress. Dari mulai mengatur berbagai pos keuangan jangan sampai lebih dari limit yang dikasih orang tua. Hingga stress karena gak ingin membuat kecewa dan malu orang tua. Apalagi papah udah bilang kalau kasih kepercayaan penuh sama kami. Nanti aja diomelinnya kalau ternyata pas hari H bikin malu. Alhamdulillah lancar hingga selesai hehehe.

    Sejak itu, ada beberapa kali dimintain mengatur pernikahan. Insya Allah, sekarang juga lagi dimintain bantuin sama sepupu yang akan menikah beberapa bulan lagi. Dari beberapa pengalaman, mau pakai biaya sendiri atau enggak, memang lebih enak kalau seluruh anggota keluarga bisa bekerjasama. Jangan terlalu ikut campur apalagi sampai memaksakan kehendak gitu. Untungnya waktu saya nikah gak ngalamin. Tapi, pernah pas bantuin salah satu pernikahan, mengalami situasi begitu. Pusing jadinya hehehe.

    Kalau berantem gak jelas menjelang pernikahan sih sering. Paling tipsnya kalau lagi enak, sering ngobrol aja. Kadang-kadang sampai ada obrolan, mau lanjut gak sih? Kok berantem melulu.

    Insya Allah dilancarkan nanti acaranya ya, Put. Aamiin

  • Wuhuuuuu…Putri, you’re getting married! Sooooo excited for you et Odi. Btw, my hubby and I did ALMOST everything by ourselves! Dan 90% dana kami pribadi lhoooo alhamdulillah. it felt good as you can do ALMOST everything you want hehehe. Dan karean aku baru pulang dari magang 6 months just 2 bulan sebelum menikah, akhirnya kita menikah a la pesta kebun begitu dan semuanya ungu hehehe. It was fun dan alhamdulillah lancar walaupun hebooh persiapannya 🙂

  • you got me on “gimana caranya nabung buat nikah sedangkan jiwa masa muda masih pengen hura-hura? #rhyme.” :’)
    ku belum ada rencana nikah dalam waktu dekat sih kak, bahkan calonnya pun belum ada. Tapi baca tulisan ini ku jadi ingin nikah dengan biaya sendiri, pasti berkesan bgt yah .
    Terima kasih untuk ceritanya kakkk!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.