IBX581FD685E3292
Browsing Tag:

cerpen

“Bu, dadanya satu ya, pakai nasi biasa sama teh manis anget. Kamu apa, sya?”

“Kayak biasa aja.” Rasya menjawab singkat dan dingin.

“Mmm…” Doni berfikir sejenak, takut kalau ingatannya tak membantu mendinginkan keadaan dan akhirnya Rasya makin cemberut. “Pahanya satu lagi ya, bu!” Doni kembali berfikir mengingat nasi dan minuman yang biasa dipesan Rasya. “Nasinya uduk, minumannya es jeruk tapi jangan manis – manis soalnya kata pacar saya cuma saya yang manis banget.”

Rasya menahan tawanya, namun sepertinya Doni menyadari gerakan tubuhnya. Sambil mengusap mesra rambut wanita yang dicintainya, Doni menatap wajah Rasya.

“Kamu jelek Sya kalo cemberut gitu.” ujar Doni memelas. Namun suaranya terdengar sungguh – sungguh.

Share:

Ketika kamu menghindar jauh, aku merasakan ada yang hilang dari hidupku. Sesuatu yang begitu dekat dengan tawaku, kini terlalu sering membuatku menangis. Aku tahu kamu mungkin bosan dan ingin meninggalkanku, tapi aku tak mampu sedetikpun berhenti mengharapkanmu. Mungkin orang-orang menganggapku tak waras, aku tak pernah peduli. Mereka tak pernah mengerti apa yang aku rasakan, kehilangan begitu sakit. Seandainya aku mampu, mungkin aku mencoba mencari penggantimu. Walaupun kenyataannya tak pernah ada yang bisa sepertimu. Ketika aku bertanya pada bulan, bulanpun seakan mengerti bahwa bahagiaku cuma di kamu. Mungkin semua ini hanyalah kesia-siaan, namun bagiku bicara pada bulan sudah mampu mengobati perasaanku. Aku tetap butuh kamu, dan selalu menunggumu kembali. Aku merindukanmu, merindukan tiap malam yang kita isi sambil menatap bulan yang tersenyum manis. Aku merindukanmu, kembalilah padaku.

Share: