IBX581FD685E3292
Browsing Tag:

HukumPedia

bantuan-hukum-justika

Ketika salah satu kerabat saya ditangkap polisi karena kasus yang nggak jelas, keluarga langsung berkumpul dan terpikir untuk ‘menyogok’ oknum. Kami sama sekali nggak kepikiran harus menyewa pengacara karena takut nggak sanggup bayarnya! Lebih baik kami ‘curang’ sedikit yang penting keluarga dibebaskan daripada harus ribet dengan urusan hukum. Salah sih, tapi ya mau gimana?

Share:

Denger kata “HUKUM” ngebuat otakku langsung mikir ujung – ujungnya pasti berurusan sama sidang yang panjang dan ribet, hukuman kurungan atau hukuman dalam bentuk lainnya dan denda. Sebenernya, kehidupanku pribadi nggak jauh – jauh dari yang namanya hukum. Tinggal dan dibesarkan di komplek TNI membuatku sedikit banyak mengerti soal hukum. Apalagi pamanku adalah seorang Polisi BUSER (Buru Sergap) yang pastinya kadang suka ngebahas soal hukum kalau lagi di pertemuan keluarga. Tapi, aku termasuk orang yang acuh tak acuh sama hukum. Lebih tepatnya takut kalau berhubungan sama persoalan yang ada embel – embel hukumnya. Ngeri! Padahal, sadar nggak sadar hampir setiap hari kita berhubungan sama yang namanya hukum. Contoh sederhananya saat sengaja nerobos lampu merah karena ngejar waktu. Itu sebenernya kita udah melanggar hukum. Jualan di trotoar atau motor yang nyalip lewat trotoar. Ngembaliin kembalian pakai permen atau justru nggak ngasih kekurangan kembalian. Dan masih banyak hal – hal sederhana yang sebenernya sudah membuat kita dicap sebagai pelanggar hukum.

Share:

Baru – baru ini, booming lagi kasus soal “Kasir Nakal”. Banyak laporan berbentuk keluhan di social media – yang paling banyak ditulis di Path dan Blog – mengenai para oknum kasir nakal yang mulai meresahkan. Dari beberapa tulisan yang aku baca, kebanyakan para pelakunya adalah kasir minimarket yang menjamur di Indonesia. Mereka menyasar para pria yang suka belanja tanpa pernah mengecek struk belanjaan. Sebenernya, kejadian para kasir nakal ini bukan hal yang baru dan aku pun pernah mengalami kejadian yang sebenernya bikin capek – karena aku harus marah soal kembalian yang kurang 200 rupiah. Buat yang nanya kenapa harus marah ngeributin uang recehan? Karena itu adalah HAK aku sebagai pembeli.

Pernah kepikiran nggak kalau misalnya soal 200 rupiah itu dianggep sepele? Gimana kalau ternyata bukan cuma uangku yang di”tilep”? Gimana kalau ada puluhan bahkan ratusan orang tiap bulannya yang kembaliannya nggak dikasih? Coba deh pakai cara “bodoh” kayak gini, ada 10 orang perhari yang kembalian 200 rupiahnya nggak dikasih. Jadi si kasir bakalan dapet “uang tilep” 2000 per hari, which means 60 ribu per bulan. Gede nggak? Itu kalau 10 orang sehari, kalau lebih? Beda lagi ceritanya kalau misalnya uang kembaliannya diganti dengan permen. Beberapa orang mungkin fine – fine aja saat dikasih permen, dengan alasan males debatin uang recehan. Tapi apa bener kasir bisa dengan mudahnya ngeganti uang kembalian pake permen?

Share: