IBX581FD685E3292

Tes Kesehatan Pra-Nikah Di Puskesmas

Tes Kesehatan Pra-Nikah Di Puskesmas

PS: Salah satu syarat pengurusan dokumen pernikahan itu adalah melampirkan Surat Layak Kawin yang dikeluarkan oleh Puskesmas.

***

Sejujurnya, saya males banget cek kesehatan di Puskesmas karena ribet dan terlalu banyak birokrasinya. Masih inget kan cerita saya pas sakit gigi dan harus menjalani perawatan akar berkali-kali? Rasanya saya udah nyerah duluan. Sempat coba menghubungi beberapa RS swasta dan RS pemerintahan yang ternyata sia-sia. Hanya Puskesmas yang bisa kasih saya Surat Layak Kawin-nya. 🙁

Perjuangan bikin SLK (Surat Layak Kawin) ini sebenernya gampang banget, tapi karena sempet ‘dikerjain’ sama salah satu satpamnya, akhirnya saya kudu bolak-balik datang ke Puskesmas Kecamatan. Seminggu sebelumnya, saya sudah pernah dateng dianter sama Odi, baru sampai parkiran langsung diteriakin Pak Satpam katanya kuota cek kesehatan CATEN (Calon Pengantin) sudah habis. Besoknya dateng lagi tapi saya nggak bawa surat pengantar RT/RW (sesuai informasi yang diinfoin sama Pak Satpam via telepon), dan ternyata nggak bisa. Surat pengantar itu wajib dibawa. Lagi-lagi ngelus dada dan inisiatif untuk tanya langsung ke petugas Puskesmas lainnya supaya nggak ‘dikerjain’ lain. Dan akhirnya, setelah seluruh dokumen saya siap, akhirnya bisa cek juga. Alhamdulillah!

Buat yang punya kartu BPJS, periksanya gratis, tapi tetap perlu bawa beberapa dokumen pendukung. Catat ya beberapa dokumen yang kudu dibawa supaya nggak perlu bolak-balik:

  • KTP elektronik
  • Kartu Keluarga
  • Surat Pengantar dari RT & RW (di-cap ya)
  • BPJS – kalau nggak punya, nanti bayar di kasir

Semua dokumen difotokopi 2 lembar dan dibawa yang aslinya juga soalnya pas lagi daftar ditanyain sama bagian administrasi Puskesmas.

Ngomong-ngomong soal tes kesehatan, ternyata banyak banget yang nyepelein karena takut disuntik, takut liat darah dan banyak yang bilang vaksin TT-nya itu adalah KB. Saya nggak bisa ngomong banyak sih, sebenernya balik sama kepercayaan masing-masing juga kan. Kalau saya sih mikirnya demi kesehatan kan, supaya tau kondisi diri sendiri dan pasangan sebelum nantinya tinggal seatap. Odi juga ikut tes kesehatan ini dan dia udah bahas di insta-story. Coba follow dulu aja @akbrod buat para calon pengantin laki-laki ya. Soalnya dia udah sering sharing soal persiapan pernikahan kami.

Saya datang ke Puskesmas hari Senin pagi. Begitu datang ke Puskesmas, saya langsung daftar di antrean khusus tes kesehatan pra-nikah. Semua dokumen diperiksa satu-satu dan dikasih nomer antrean untuk nunggu di ruang periksa. Tes kesehatan ini dilakukan ramai-ramai sama semua calon penganten, jadi usahain dateng pagi supaya dapet nomer kecil dan nggak kelamaan nunggu. Kemarin saya dateng jam 7-an dan dapat antrean nomer 3, katanya emang bulan Desember itu banyak banget yang mau nikah jadi agak ramai antreannya.

Saya dan para calon penganten lainnya disuruh masuk ke ruangan khusus dengan kursi-kursi yang berjejer rapih. Di bagian depan ada meja yang berisi peralatan tensi darah, dan timbangan yang berada persis di samping kursi penyuluhan.

Sebelum memulai proses tes kesehatan, tahap pertama yang harus dilakukan itu cek berat badan, tinggi badan dan tensi darah. Mungkin karena saya super lelah atau emang belum sarapan, tensi darah saya lumayan tinggi, 130 / 90. Setelahnya, saya diajak berkonsultasi dengan seorang petugas Puskesmas. Sesi 1 o 1 ini bersifat tertutup karena ada beberapa pertanyaan yang cukup pribadi yang ditanyakan ke calon pengantin.

Seingat saya, beberapa pertanyaan yang ditanyakan adalah seputar sudah pernah berhubungan badan, apakah pernah menggunakan narkoba suntik dan sebagainya. Pertanyaan ini sebenarnya untuk langkah awal mengetahui tanda-tanda HIV dalam tubuh. Nggak perlu takut, semua informasi yang kita berikan dijamin kerahasiaannya, kok. Di sesi konseling ini juga diinfoin beberapa hal yang berhubungan sama kesehatan reproduksi, baik berupa posisi sex, kapan harus berhubungan dan bagaimana menghadapi fase-fase awal kehamilan. Staf Puskesmas yang kemarin menangani saya termasuk yang baik banget dan nggak nge-judge sama sekali. Berasa nggak lagi konseling malah jadi sesi curhat karena Mba-nya takjub sama proses pacaran saya sama Odi hahaha.

Langkah selanjutnya adalah pengecekan urin dan darah. Pengecekan urin berguna untuk mengecek apakah positif menggunakan narkoba dan apakah kita (perempuan) sedang hamil atau nggak. Dan terakhir adalah proses pengambilan darah. Berhubung pembuluh vena saya kecil dan ngumpet, saya sempat disuntik ambil darah sebanyak 2 kali hahaha. Mau nangis tapi ya gimana dong ya :’) Sehabis pengambilan darah, saya dikasih tau kalau hasil labnya bisa diambil 3 hari kerja kemudian.

Setelah semua proses tes kesehatan dilakukan, saatnya divaksin deh. Suntik vaksin dilakukan di ruangan imunisasi, jadi bareng sama adik bayi yang mau imunisasi. Gemes-gemes banget liat bayi yang nangis sehabis disuntik hahaha. Nggak nunggu lama, nama saya dipanggil dan langsung disuntik TT yang ternyata nggak sesakit ambil darah dan kelar deh proses skrining kesehatannya.

Suntik TT (Tetanus Toksoid) sendiri lagi jadi bahan omongan di kalangan para calon pengantin. Banyak yang bilang – termasuk tetangga dekat saya, bilang kalau suntik TT justru KB tersembunyi. Padahal ya, nggak mungkin lah pemerintah kasih KB ke perempuan sembarangan gitu. Justru vaksin TT ini gunanya untuk memberi kekebalan tubuh terhadap penyakit tetanus. Jadi, jangan takut ya! Insya allah aman! 🙂

Skrining kesehatan udah, vaksin juga udah. Saya langsung siap-siap jalan ke kantor. Butuh waktu sekitar 1 jam buat semua prosedurnya. Menurut saya sih nggak terlalu ribet dan lama karena emang semua pendaftaran dan tes-nya dipisah dengan orang yang daftar berobat di bagian umum.

Tiga hari kemudian, saya ambil suratnya dan ternyata kartunya gemes banget warna merah muda dengan tulisan Surat Layak Kawin di bagian depannya. Pas ngambil kartu, saya sempat dikonseling lagi sama Bu Bidan. Semua hasil tes dibacain, alhamdulillah semua normal. Gula darah normal, HIV negative, dan golongan darah saya ternyata B+. Padahal selama ini saya pikir golongan darah saya itu O lho, bahkan pas saya operasi usus buntu juga saya pikir O hahaha sumpah, udah 26 tahun dan baru tahu kalau golongan darah saya B+. :)))

Kalau hasil tesnya semua OK, langsung boleh pulang dan tinggal urus dokumen lain yang juga jadi syarat pengurusan dokumen pernikahan. Tapi kalau misal hasil tesnya ada masalah, Bu Bidan atau dokter di Puskesmas akan ngerujuk kita untuk konseling ke dokter lainnya. Kayak saya, kemarin sempat konsultasi ke dokter gizi karena memang obesitas. So lucky, dokter gizi-nya super baik jadi saya dikasih buku gizi dan dikasih menu diet yang enak dan tentunya sehat.

Fyuh, tes kesehatan udah selesai nih. Urus surat pengantar ke kelurahan juga udah cuma nggak saya buat blogpost-nya karena yang urus Bu RT dan terakhir urusan KUA juga udah kelar. Kemarin sih saya urus berdua sama Odi dateng langsung ke KUA, apa perlu buat blogpost-nya juga nih?

Sakura Collagen Meiji Indonesia



44 thoughts on “Tes Kesehatan Pra-Nikah Di Puskesmas”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.